Moch. Khafidz Fuad Raya
Institut Agama Islam Darullughah Wadda'wah Pasuruan

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Perbandingan Pendidikan Formal Dengan Pendidikan Pesantren Moch. Khafidz Fuad Raya
Jurnal Pendidikan Islam Vol 6 No 1 (2016)
Publisher : Research Department (Lemlit) Islamic Institute of Darullughah Wadda’wah Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan pendekatan analisis deskriptif, tulisan ini berupaya mengupas perbedaan pendidikan formal dengan pendidikan pondok pesantren, dimana kedua jenis pada jalur pendidikan ini mempunyai ciri khusus yang mewarnai corak pendidikan di Indonesia. Antara pendidikan formal dengan pendidikan pesantren mempunyai beberapa perbedaan yang mencolok, namun keduanya dapat mengisi satu sama lain terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan bangsa. Oleh karena itu, tulisan ini berusaha mengungkap bagaimana pengertian pendidikan formal dan pesantren, serta perbedaan dari kedua jenis pendidikan tersebut.
Kajian Psikologis Taḥfiẓ Al-Qur’an Anak Usia 6-12 Tahun Moch. Khafidz Fuad Raya
Jurnal Pendidikan Islam Vol 9 No 1 (2019)
Publisher : Research Department (Lemlit) Islamic Institute of Darullughah Wadda’wah Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melihat sejarah perkembangan dunia Islam dalam upaya pemeliharaan Al-Qur’an sampai akhir zaman melalui Taḥfiẓ al-Qur’an, rupanya telah menginspirasi pendidikan Islam saat ini. Program Taḥfiẓ al-Qur’an yang saat ini digandrungi oleh masyarakat sebagai program unggulan yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan Islam telah membuat laju perkembangan pendidikan Islam meningkat. Program ini bukan hanya diminati oleh orang dewasa yang mempunyai keinginan menghafal Al-Qur’an tetapi juga dari level anak-anak seusia 6-12 tahun. Peningkatan animo orang tua untuk mengikutsertakan anaknya ke dalam program Taḥfiẓ al-Qur’an harus diapreasiasi, namun para pendidik dan orang tua juga harus memperhatikan kondisi psikologis perkembangan anak seusia 6-12 tahun. Perlu kajian lebih lanjut mengenai kondisi psikologis anak dalam menghafal Al-Qur’an, jangan sampai kegiatan tambahan ini akan membebani anak diusia mereka dan menghilangkan jatidiri mereka sebagai anak diusia tersebut; melihat pertimbangan kepadatan waktu pendidikan yang ditempuh anak di pendidikan formal seperti di sekolah dasar, ekstrakurikuler, dan pendidikan lainnya.
Sejarah Orientasi Pendidikan Islam di Indonesia (Dari Masa Kolonial Hingga Orde Baru) Moch. Khafidz Fuad Raya
Jurnal Pendidikan Islam Vol 8 No 2 (2018)
Publisher : Research Department (Lemlit) Islamic Institute of Darullughah Wadda’wah Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasar catatan sejarah memperlihatkan bahwa pertumbuhan pendidikan Islam di Indonesia mengalami pasang surut sejak kedatangan kolonialisme Barat di akhir abad ke-16. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam pertama harus mendapat ujian berat menghadapi pemerintah kolonial yang begitu menekan pesantren, di masa ini pendidikan Islam “dianak tirikan” dengan Sekolah Kolonial yang didirikan oleh pemerintah Belanda; orientasi pendidikan Islam masa kolonial sebagai upaya mobilisasi masyarakat melawan penjajahan kolonial. Sedangkan di zaman Orde Lama, orientasi pendidikan Islam bertujuan mengembalikan lembaga pendidikan Islam atas dominasi dualisme “Sekolah Agama” dengan “Sekolah Umum” dengan dibentuknya madrasah untuk menghapus paradigma masyarakat tentang dikotomi tersebut. Usaha-usaha tersebut kemudian dilanjutkan di masa Orde Baru yang orientasinya untuk menyamakan posisi madrasah dengan sekolah umum melalui berbagai kebijakan penyetaraan, termasuk kebijakan secara konstitusional (perundang-undangan), kebijakan secara kelembagaan dengan “me-Negeri-kan” madrasah swasta dan madrasah yang berada di dalam pesantren secara berkala dan berkelanjutan; serta kebijakan kurikulum pada porsi muatan materi keagamaan dengan materi umum.
Imajinasi Kemaritiman dalam Sastra Jawa Kuno Pra-Islam: Eksplorasi Bait Puisi Kakawin Sumanasāntaka, Bhomāntaka, dan Ghaṭotkacāśraya Moch. Khafidz Fuad Raya
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol 1 No 2 (2022): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.208 KB) | DOI: 10.21009/Arif.012.09

Abstract

Artikel ini mengkaji bait sastra puisi Jawa Kuno (kakawin) tentang kemaritiman, yaitu laut dan masyarakat pesisir. Hanya sedikit teks klasik sastra Jawa Kuno yang membahas laut dan berbagai kegiatan perairan termasuk kondisi sosial budaya masyarakat pesisir. Dengan menggunakan studi dokumen dan metode penggalian data dokumentasi, artikel ini membahas tiga. Pertama, nelayan, ikan gajah gajamīna, dan pesisir pantai beserta sisi gelapnya. Kedua, joṅ sebagai kapal yang dipadankan dengan jukuṅ, sambo, dan sāmwau. Ketiga, visualisasi keindahan pantai sebagai destinasi menawan dalam imajinasi sastra Jawa Kuno. Pesona estetika laut beserta segala sesuatu yang melingkupinya menjadi daya tarik para penguasa dan raja-raja Jawa untuk mempertahankan wilayahnya. Artikel ini berkontribusi memvisualisasi kemaritiman dalam sastra puisi Jawa Kuno (kakawin) yang tidak dibahas dalam beberapa kajian sejarah dan arkeologi pada masa Islam di Jawa.
DAYAH AND MEUNASAH IN ACEH: REFORM IN LOCAL CONTEXT Moch. Khafidz Fuad Raya
Jurnal Tatsqif Vol. 19 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.116 KB) | DOI: 10.20414/jtq.v19i1.3504

Abstract

The history of Islamic education in the early 20th century led to various changes, especially the emergence of madrasas as an Islamic schooling system. Traditional Islamic educational institutions inevitably have to harmonise and open themselves to transformation, even though they initially experienced opposition. Using a qualitative approach with a narrative documentation method based on historical texts and observations in several Islamic educational institutions in Aceh, this article focuses on revealing the history of the dayah and meunasah as a traditional Acehnese Islamic educational institution that underwent some fundamental changes. The results found: First, the existence of the dayah is more long-term than the meunasah even though both forms of this institution are rooted in the same ideological principles with different patterns, seen from the early 20th century until implementing sharia law in Aceh after the Helsinki peace agreement, the dayah was still existed by maintaining its institutional form. Second, the emergence of madrasas as a formation of the government’s political policy on the social conditions of the people that occurred has provided space for traditional Islamic educational institutions (such as the dayah) to open themselves to including general subjects, although this second result has led to struggles; Third, there is a contestation between dayah, Islamic schools, and madrasas, with public schools driven by traditionalist and modernist groups in maintaining their existence. The contest has opened the history of the dayah and meunasah into the form of public schools and madrasas in the future, both of which apply Islamic religious material, where public schools are superior to madrasas in terms of curriculum, educational programs, and human resources.
ISLAMIC EDUCATION LEADERSHIP IN CONFLICT STATE: CASE STUDY IN SOUTHERN THAILAND Lailiyatul Azizah; Moch. Khafidz Fuad Raya
Jurnal Tatsqif Vol. 19 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.574 KB) | DOI: 10.20414/jtq.v19i1.3540

Abstract

This study aims to explore the practice of Islamic education leadership in the conflict state, in Pattani Southern Thailand, a region where the conflict is prolonged until the decades are between the Malay Muslim minority with the Thai government that is Buddhist. Using a qualitative approach with the method of case study, this study focused on Madrasah Pattani, with the head of madrasa, one teacher, and three alumni as informants. Interviews were conducted with FGD to find out the extent of leadership in Pattani Madrasas during the conflict. The results were found that in hard conditions, the madrasa could develop a strong madrasa vision by adopting a modern curriculum and integrate it with the Islamic curriculum of Islam. Although this method has been opposed to the entry of Buddhist teachers, the head of madrasah neutralise by making several activities to create social cohesion and build cooperation with universities abroad. Leadership mode is rare and difficult to implement in areas that are being hit by an ethno-political conflict on behalf of religion.
LIBERAL THINKING IN SALAF PESANTREN, IS IT POSSIBLE? (FREEDOM OF THOUGHT THE SANTRI MA’HAD ALY SUKOREJO, SITUBONDO) Marjuni Marjuni; Moch. Khafidz Fuad Raya
Jurnal Tatsqif Vol. 19 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.445 KB) | DOI: 10.20414/jtq.v19i2.4307

Abstract

The existence of Ma’had ‘Aly is an exciting thing and brings a narrative of controversy. Since being legalised in 2002, Ma’had ‘Aly has transformed into a modern Islamic educational institution under the auspices of a traditional Salaf pesantren. This article aims to explain Ma’had ‘Aly as an Islamic educational institution that specifically (takha??u?) produces fiqh experts and supports freedom of thought in exploring Islamic law. The research method uses a qualitative approach by studying documents extracted from the history of Ma’had ‘Aly, the takha??u? curriculum, and the Tanwirul Afkar (TA) bulletin. The results reveal the integration of the Ma’had ‘Aly curriculum, which is combined with the general curriculum and contemporary scriptures. Second, the controversy over TA as a forum for students to manifest their competence as fuqaha on various developing issues. Some of the controversial issues decided by TA were allowing interfaith marriages, allowing non-Muslim Indonesian President elections, and similarities between Islam and Christianity in relations and history. Some realities above show that Islamic liberal thought has emerged in salaf pesantren through Ma’had ‘Aly. The contribution of this research provides novelty that apparently Ma’had ‘Aly is trying to show that the door of ijtih?d in the excavation of Islamic jurisprudence is still wide open.
Perbandingan Pendidikan Formal Dengan Pendidikan Pesantren Moch. Khafidz Fuad Raya
Jurnal Pendidikan Islam Vol 6 No 1 (2016)
Publisher : Research Department (Lemlit) Islamic Institute of Darullughah Wadda’wah Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan pendekatan analisis deskriptif, tulisan ini berupaya mengupas perbedaan pendidikan formal dengan pendidikan pondok pesantren, dimana kedua jenis pada jalur pendidikan ini mempunyai ciri khusus yang mewarnai corak pendidikan di Indonesia. Antara pendidikan formal dengan pendidikan pesantren mempunyai beberapa perbedaan yang mencolok, namun keduanya dapat mengisi satu sama lain terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan bangsa. Oleh karena itu, tulisan ini berusaha mengungkap bagaimana pengertian pendidikan formal dan pesantren, serta perbedaan dari kedua jenis pendidikan tersebut.
Kajian Psikologis Taḥfiẓ Al-Qur’an Anak Usia 6-12 Tahun Moch. Khafidz Fuad Raya
Jurnal Pendidikan Islam Vol 9 No 1 (2019)
Publisher : Research Department (Lemlit) Islamic Institute of Darullughah Wadda’wah Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melihat sejarah perkembangan dunia Islam dalam upaya pemeliharaan Al-Qur’an sampai akhir zaman melalui Taḥfiẓ al-Qur’an, rupanya telah menginspirasi pendidikan Islam saat ini. Program Taḥfiẓ al-Qur’an yang saat ini digandrungi oleh masyarakat sebagai program unggulan yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan Islam telah membuat laju perkembangan pendidikan Islam meningkat. Program ini bukan hanya diminati oleh orang dewasa yang mempunyai keinginan menghafal Al-Qur’an tetapi juga dari level anak-anak seusia 6-12 tahun. Peningkatan animo orang tua untuk mengikutsertakan anaknya ke dalam program Taḥfiẓ al-Qur’an harus diapreasiasi, namun para pendidik dan orang tua juga harus memperhatikan kondisi psikologis perkembangan anak seusia 6-12 tahun. Perlu kajian lebih lanjut mengenai kondisi psikologis anak dalam menghafal Al-Qur’an, jangan sampai kegiatan tambahan ini akan membebani anak diusia mereka dan menghilangkan jatidiri mereka sebagai anak diusia tersebut; melihat pertimbangan kepadatan waktu pendidikan yang ditempuh anak di pendidikan formal seperti di sekolah dasar, ekstrakurikuler, dan pendidikan lainnya.
Sejarah Orientasi Pendidikan Islam di Indonesia (Dari Masa Kolonial Hingga Orde Baru) Moch. Khafidz Fuad Raya
Jurnal Pendidikan Islam Vol 8 No 2 (2018)
Publisher : Research Department (Lemlit) Islamic Institute of Darullughah Wadda’wah Bangil, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasar catatan sejarah memperlihatkan bahwa pertumbuhan pendidikan Islam di Indonesia mengalami pasang surut sejak kedatangan kolonialisme Barat di akhir abad ke-16. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam pertama harus mendapat ujian berat menghadapi pemerintah kolonial yang begitu menekan pesantren, di masa ini pendidikan Islam “dianak tirikan” dengan Sekolah Kolonial yang didirikan oleh pemerintah Belanda; orientasi pendidikan Islam masa kolonial sebagai upaya mobilisasi masyarakat melawan penjajahan kolonial. Sedangkan di zaman Orde Lama, orientasi pendidikan Islam bertujuan mengembalikan lembaga pendidikan Islam atas dominasi dualisme “Sekolah Agama” dengan “Sekolah Umum” dengan dibentuknya madrasah untuk menghapus paradigma masyarakat tentang dikotomi tersebut. Usaha-usaha tersebut kemudian dilanjutkan di masa Orde Baru yang orientasinya untuk menyamakan posisi madrasah dengan sekolah umum melalui berbagai kebijakan penyetaraan, termasuk kebijakan secara konstitusional (perundang-undangan), kebijakan secara kelembagaan dengan “me-Negeri-kan” madrasah swasta dan madrasah yang berada di dalam pesantren secara berkala dan berkelanjutan; serta kebijakan kurikulum pada porsi muatan materi keagamaan dengan materi umum.