Nurhalimah Pasaribu
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Model Make a Match dengan Media Flashcard dalam Pembelajaran IPA untuk Meningkatkan Aktivitas Siswa Kelas IV SD Negeri 0103 Sibuhuan. Nurhalimah Pasaribu
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 2, No 1 (2017): Ristekdik : Jurnal Bimbingan Dan Konseling, Januari - Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.796 KB)

Abstract

Pembelajaran IPA di SD diharapkan dapat mendorong siswa untuk aktif dan rasa ingin tahu. Dalam pembelajaran aktivitas siswa kurang, guru cenderung monoton, masih menggunakan ceramah sehingga hasil belajar siswa rendah. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apakah keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa dapat meningkat melalui penerapan model Make a Match dengan media Flashcard dalam pembelajaran IPA kelas IV SD Negeri 0103 Sibuhuan?. Model Make a Match dengan media Flashcard merupakan salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan dalam penelitian ini adalah mendiskripsikan keterampilan guru, aktivitas siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA siswa kelas IV SD Negeri 0103 Sibuhuan melalui penerapan model Make a Match dengan media Flashcard. Model Make a Match dengan media Flashcard dikembangkan secara khusus untuk meningkatkan aktivitas siswa dengan memanfaatkan kartu soal dan jawaban sebagai media bermain sambil belajar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah guru dan siswa kelas kelas IV SD Negeri 0103 Sibuhuan. Teknik pegumpulan data menggunakan tes dan nontes. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan keterampilan guru pada siklus I memperoleh skor 25 kategori baik, pada siklus II mendapatkan skor 27 dengan kategori sangat baik. Aktivitas siswa siklus I mendapatkan total skor 15,9 dengan kategori cukup kemudian meningkat pada siklus II mendapatkan total skor 25,65 dengan kategori baik. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Siklus I nilai rata-rata siswa sebesar 65,6 dengan persentase klasikal 53,8%, siklus II nilai rata-rata meningkat menjadi 83,5 dengan persentase klasikal 84,6%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model Make a Match dengan media Flashcard dinyatakan berhasil. Saran bagi guru sebaiknya lebih kreatif lagi dalam menciptakan permainan yang beragam sehingga siswa merasa senang dan lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Model Make a Match dengan media Flashcard tidak hanya diterapkan dalam pembelajaran IPA saja melainkan pada mata pelajaran lainnya. Hal ini dikarenakan selain dapat meningkatkan aktivitas siswa, model ini juga dapat meningkatkan keterampilan guru dan hasil belajar.
Pendidikan Karakter (Membangun Generasi Berintegritas : Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Nasional) Nurhalimah Pasaribu; Rizka Syamsiah Tanjung; Cut Kumala Sari
Jurnal Nakula : Pusat Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Ilmu Sosial Vol. 3 No. 3 (2025): Mei : Jurnal Nakula : Pusat Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Ilmu Sosial
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/nakula.v3i3.1854

Abstract

Character education is very important to form a strong generation, especially in facing the challenges of the digitalization and globalization era. The purpose of this article is to investigate how character education is incorporated into the national curriculum and how it functions to build students' morals and ethics. This study analyzes literature from various journals, books, and articles that discuss the theory, implementation, and policies of character education in elementary to secondary schools. The results show that character education has become an important part of the national curriculum by strengthening values ​​such as honesty, responsibility, cooperation, and anti-corruption. However, the implementation continues to face problems such as lack of teacher instruction, inconsistent implementation, and the strong influence of digital culture. Therefore, schools, families, and communities must work together so that character values ​​can be instilled properly. It is hoped that this study will help efforts to improve the quality of character education in Indonesia.