Polusi udara di DKI Jakarta menduduki peringkat pertama sebagai kota terpadat paling berpolusi di Indonesia tahun 2021 berdasarkan laporan dari IQ Air. Polusi udara terbesar di DKI Jakarta berasal dari transportasi. Padahal, 70,5% emisi transportasi mampu berkontribusi menghasilkan polutan karbon monoksida (CO). Kadar CO di lingkungan dapat dipengaruhi temperatur maksimum. Titik pantau kadar CO di DKI Jakarta berjumlah hanya lima titik. Penambahan titik pantau memerlukan waktu yang lama dan biaya yang mahal. Dengan demikian, sangat penting dilakukan prediksi kadar CO di titik lokasi yang tidak diambil sampelnya dengan metode Cokriging. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kinerja Cokriging dalam mengestimasi kadar CO berdasarkan temperatur maksimum dan memprediksi kadar CO pada 44 kecamatan di DKI Jakarta, sehingga dapat dijadikan acuan Pemerintah DKI Jakarta dalam pengambilan kebijakan dan langkah preventif untuk mengoptimalkan penanganan polusi udara yang disebabkan oleh CO. Hasil penelitian menunjukkan kinerja Cokriging memiliki tingkat akurasi tinggi dengan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) sebesar 9,318%. Rata-rata kadar CO di lima titik yang sudah ada adalah 12,003 ppm, sedangkan hasil prediksi di 44 kecamatan menunjukkan enam kecamatan di atas rata-rata tersebut. Meskipun secara keseluruhan kadar CO berada di bawah ambang batas, pemerintah tetap harus memberikan perhatian lebih khususnya pada enam kecamatan antara lain Sawah Besar, Tanah Abang, Tanjung Priok, Kebun Jeruk, Kembangan, dan Setia Budi.