Era digital telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan remaja, baik dalam aspek sosial, psikologis, maupun spiritual. Kemudahan akses informasi dan perkembangan media sosial di satu sisi memberikan peluang bagi pengembangan diri, namun di sisi lain juga menghadirkan berbagai tantangan, seperti kecanduan digital, tekanan sosial, krisis identitas, cyberbullying, serta gangguan kesehatan mental. Kondisi tersebut menuntut adanya penguatan resiliensi sebagai kemampuan individu untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit dari berbagai tekanan yang dihadapi. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep resiliensi remaja dalam perspektif Al-Qur’an melalui nilai-nilai sabar, syukur, dan tawakal sebagai fondasi ketahanan psikologis dan spiritual di era digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) yang bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an, kitab-kitab tafsir, serta literatur ilmiah yang relevan mengenai resiliensi dan psikologi remaja. Data dianalisis menggunakan metode tafsir tematik (maudhu‘i) untuk mengidentifikasi keterkaitan nilai-nilai Qur’ani dengan konsep resiliensi kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa sabar berfungsi sebagai mekanisme pengendalian diri dan keteguhan dalam menghadapi tekanan, syukur berperan dalam membangun emosi positif dan kesejahteraan psikologis, sedangkan tawakal memberikan ketenangan batin melalui keyakinan terhadap pertolongan Allah setelah melakukan ikhtiar secara optimal. Ketiga nilai tersebut membentuk kerangka resiliensi Qur’ani yang bersifat integratif, mencakup dimensi kognitif, emosional, sosial, dan spiritual. Dengan demikian, internalisasi nilai sabar, syukur, dan tawakal dapat menjadi strategi efektif dalam memperkuat resiliensi remaja sehingga mampu menghadapi tantangan era digital secara adaptif, produktif, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.