Zullies Ikawati, Apt.
Department of Pharmacology, Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Luaran Penggunaan Analgesik Opiat pada Pasien Kanker Salma Fajar Puspita; Zullies Ikawati, Apt.; Retno Muliawati
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 9, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.545 KB) | DOI: 10.22146/jmpf.48052

Abstract

Cancer pain might reduce the quality of life of cancer patients. Opioids are the drug of choice in cancer pain management. Fentanyl and other opioids are often prescribed. This study was aimed to compare the pain intensity reduction and quality of life of patients with cancer pain using transdermal fentanyl and other opioids. This prospective cohort study Oinvolved cancer outpatients with pain at the Tulip International Cancer Center of RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta fulfilling inclusion and exclusion criteria. Follow-up was carried out 2 weeks after recruitment. Pain intensity and quality of life were obtained through interview process using Numerical Rating Scale (NRS) and EORTC QLQ-C30 questionnaire. Patient demographic and disease status were obtained from medical records. Clinical outcomes (reduction in pain intensity and achievement of pain targets) and quality of life in the transdermal fentanyl and oral opioid groups were presented descriptively because of the low research power. Total respondents involved were 111 patients, 13 (11.71%) patients used transdermal fentanyl and 98 (88.29%) patients used oral opiates. The effect of opioid on reduction of pain intensity, achievement of pain targets and quality of life cannot be justified even though descriptively transdermal fentanyl shows better outcomes than oral opioid. The reduction of pain intensity was influenced by age (p = 0,000) and global health status was influenced by the stage of the cancer (p = 0.045).
Analisis Korelasi Gula Darah Puasa, HbA1c, dan Karakteristik Partisipan Nidaul Hasanah; Zullies Ikawati, Apt.
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 11, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.62292

Abstract

Hemoglobin A1c (HbA1c) measurement is recommended as the gold standard in long-term blood sugar monitoring the diabetes patients because the fasting blood sugar (FBG) pattern alone cannot provide accurate information regarding the blood sugar variability true picture in type 2 Diabetes mellitus (T2DM) patients. However, many patients have limited access to HbA1c testing for financial reasons. It is necessary to know the relationship between HbA1c and GDP, and the factors that influence it, especially the research participant characteristics. This analytic observational study with a cross-sectional design involved 100 participants from T2DM patients in the hospital, outpatient clinics, and communities in Yogyakarta Province from January-May 2020. The HbA1c and FPG measurement was carried out using capillary blood samples by the research team. Characteristic data were obtained through direct interviews with participants, then analyzed using SPSS version 25 for windows, using the chi-square, Kolmogorov-Smirnov, and Spearman's rho test. The results showed that FPG was significantly positively correlated with HbA1c with moderate correlation criteria (r=0.74, P-value<0.0001). FPG showed a significant negative correlation to the glucometer ownership variable (r=-0.22, P-value= 0.04), and was independent of other parameters. Meanwhile, HbA1c significantly negatively correlated with age (r=-0.26, P-value=0.01), education level (r=-0.22, P-value=0.04), comorbidity (r=-0, 24, P-value=0.02), routine drug consumption (r=-0.29, P-value=0.01) and the ownership of glucometer (r=-0.26, P-value=0.01), but independent of gender, smoking status, daily menu, and physical exercise. It can be concluded that both GDP and HbA1c can be used as a reference for assessing glycemic status.
Faktor yang Mempengaruhi Respon Terapi Gangguan Ansietas dengan Alprazolam Ni Nyoman Yudianti Mendra; Zullies Ikawati, Apt.; Cecep Sugeng Kristanto
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.66260

Abstract

Tujuan utama terapi ansietas yakni mencapai remisi dan mencegah terjadinya kekambuhan. Dalam praktek klinik remisi lebih sulit untuk dicapai, sehingga tujuan terapi yang lebih diharapkan ialah ketercapaian respon terapi. Berkaitan dengan hal tersebut, pilihan terapi untuk gangguan ansietas mempertimbangkan beberapa faktor. Salah satu terapi yang umum digunakan untuk menangani ansietas yakni golongan benzodiazepin khususnya alprazolam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beberapa faktor terkait yang meliputi usia, jenis kelamin, penggunaan obat lain, dosis alprazolam, dan riwayat penyalahgunaan obat dengan ketercapaian respon terapi pasien dengan gangguan ansietas dengan terapi alprazolam.  Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Pengambilan data secara retrospektif pada rekam medis dan kartu pengobatan pasien rawat jalan dengan gangguan ansietas periode Januari 2018 – Oktober 2020 di RS Bethesda Yogyakarta. Respon terapi berupa perbaikan gejala dan kondisi pasien selama 6 bulan penggunaan alprazolam yang tertera pada data rekam medis berdasarkan penilaian dokter spesialis kedokteran jiwa. Jumlah subjek penelitian yakni 84 pasien yang terdiri atas 39 subjek dengan perbaikan dan 45 subjek belum menunjukkan perbaikan. Berdasarkan hasil uji Chi-Square dan Fisher’s Exact test, faktor penggunaan obat lain dan dosis alprazolam yang mempengaruhi respon terapi. Kombinasi dengan antidepresan (RR 2,308; 95%CI 1,387-3,840) dan penggunaan alprazolam dosis rendah (RR 2,151; 95% CI 1,508-3,067) memiliki kecenderungan menunjukkan perbaikan terhadap respon terapi.
Hubungan Antara Kejadian Drug Related Problems (DRP) dan Luaran Klinis Pada Pasien Skizofrenia Sholikhah Rosvita Oktasari; Zullies Ikawati, Apt.; Bambang Hastha Yoga Legawa Budiman
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 2 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i2.96540

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan kesehatan mental multifaktorial. Pasien menerima pengobatan antipsikotik jangka panjang, meningkatkan risiko DRP karena efek yang berbeda pada setiap individu dan dapat mempengaruhi luaran klinis jika tidak diatasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kejadian DRP dan luaran klinis pada pasien skizofrenia. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif yang melibatkan 74 orang pada kelompok DRP dan 60 orang kelompok non-DRP. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan catatan rekam medis periode November 2023-Januari 2024. DRP yang diamati bersifat aktual dan potensial sesuai PCNE V9.00. Uji chi square dilakukan untuk mengetahui hubungan kejadian DRP dengan luaran klinis. Hasil pengobatan dinilai berdasarkan penilaian dokter terhadap catatan perkembangan pasien di rekam medis. DRPs yang terjadi pada pasien skizofrenia rawat jalan di RSJD Dr. Arif Zainuddin adalah pemilihan obat 58,1% (43), kepatuhan pengobatan 35,1% (26), pemilihan dosis 23% (17), dan keamanan pengobatan 13,5% (10). Terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian DRP dengan luaran klinis (p=0,022). Kelompok DRP berisiko tidak membaik 1,6 kali dibandingkan kelompok non-DRP (RR 1,622; 95% CI 1,052-2,500). Penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian DRP dapat mempengaruhi luaran klinis pada pasien skizofrenia. Apoteker klinis harus berperan aktif dalam mengidentifikasi dan memberikan solusi terkait kejadian DRP dalam berbagai kasus.