Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Tingkat Pengetahuan COVID-19 dengan Tingkat Kecemasan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara selama Pandemi COVID-19 Jason Gunawan Lie; Arlends Chris
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18, No 1 (2022): JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
Publisher : Faculty of Public Health, Faculty of Medicine and Health, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jkk.18.1.104-112

Abstract

COVID-19 adalah penyakit pernafasan yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, gejala utamanya meliputi batuk kering, sesak nafas, demam, nyeri otot dan kelelahan. COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO pada 11 Maret 2020. Pandemi dapat menyebabkan meningkatnya kecemasan. Kecemasan juga bisa disebabkan karena terlalu banyak mengonsumsi informasi dari internet atau media sosial yang belum pasti kebenarannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kecemasan dengan tingkat pengetahuan COVID-19 mahasiswa kedokteran Untar. Penelitian observasional ini menggunakan studi potong lintang. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta, pada bulan Desember 2020 hingga Februari 2021. Sampel diambil secara total sampling, terdiri dari angkatan 2018-2020. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuisioner secara daring. Hasil data dianalisis menggunakan perangkat lunak statistik dengan uji Chi-square. Penelitian ini berjumlah 176 responden yang terdiri dari 49 pria dan 127 wanita. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 28 (15,9%) responden mengalami kecemasan dan memiliki tingkat pengetahuan COVID-19 yang rendah, sedangkan 74 (42,1%) responden tidak mengalami kecemasan dan memiliki tingkat pengetahuan COVID-19 yang tinggi. Berdasarkan hasil uji Chi-square, hubungan kecemasan dengan tingkat pengetahuan COVID-19 mahasiswa kedokteran Untar menunjukkan nilai p sebesar 0.011. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kecemasan dengan tingkat pengetahuan COVID-19 mahasiswa kedokteran Untar.
PENGGUNAAN TERAPI MUSIK UNTUK MENURUNKAN KELELAHAN AKIBAT PENGOBATAN PADA PASIEN KANKER SERVIKS: STUDI KASUS Fitriana Ega Rachmawati; Monty P. Satiadarma; Arlends Chris
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.9857.2021

Abstract

Treatment of cervical cancer patients can cause casualties in these patients. The fatigue felt by the individual can affect the quality of life of the patient. Music therapy is an alternative therapy that cervical cancer patients can give to help reduce the feelings felt by the patient. The music therapy that is given does not aim to cure the patient, but as a tool to treat the patient's feelings as a result. Music therapy is therapeutic, it can provide emotional and spiritual support. So that it can reduce fatigue due to treatment. The reduction in fatigue and fatigue by the patient can help him in the process of further healing. This study is a quasi-experimental study with a pretest-post test model given to cervical cancer patients. The music used was a type of Baroque, namely Pachelbel and J. S. Bach. The choice of this type of music is because it can provide a relaxing effect on the patient. This study also used a measuring tool in the form of Cancer Therapy Functional Assessment: Fatigue (FACIT-F) to see the level of improvement in patients. Other tools used are GSR2 and a heart rate measuring device, to see a graph of the patient's perceived relationship. This study has the results that Baroque type music therapy can help eliminate cervical cancer patients who are undergoing treatment, although not in the long term. The music that the patient listens can help the patient feel relaxed and calm, so that after listening to music the patient can rest and forget the pain even if only temporarily. Pengobatan yang dijalani pasien kanker serviks dapat menimbulkan kelelahan pada pasien tersebut. Kelelahan yang dirasakan oleh individu dapat memengaruhi kualitas hidup dari pasien. Terapi musik adalah salah satu terapi alternatif yang dapat diberikan kepada pasien kanker serviks untuk membantu menurunkan kelelahan yang dirasakan oleh pasien. Terapi musik yang diberikan tidak bertujuan untuk menyembuhkan pasien, tetapi sebagai alat bantu untuk menurunkan kelelahan yang dirasakan oleh pasien akibat pengobatan yang dijalaninya. Terapi musik yang bersifat terapeutik, dapat memberikan dukungan secara emosional dan spiritual. Sehingga dapat mengurangkan rasa lelah akibat pengobatan. Menurunnya rasa lelah yang dialami oleh pasien tersebut dapat membantunya dalam proses penyembuhan yang lebih lanjut. Penelitian ini merupakan penelitian quasi-experiment dengan model pretest-post test yang diberikan kepada pasien kanker serviks. Musik yang digunakan adalah jenis Baroque yaitu Pachelbel dan J. S. Bach. Pemilihan jenis musik ini karena dapat memberikan efek relaksasi pada pasien. Penelitian ini juga menggunakan alat ukur berupa Functional Assessment of Cancer Therapy: Fatigue (FACIT-F) untuk melihat tingkat kelelahan pada pasien. Alat bantu lainnya yang digunakan adalah GSR2 dan alat ukur detak jantung, untuk melihat grafik relaksasi yang dirasakan oleh pasien. Penelitian ini memiliki hasil bahwa terapi musik jenis Baroque dapat membantu menghilangkan kelelahan pada pasien kanker serviks yang sedang menjalani pengobatan walaupun bukan dalam jangka panjang.  Musik yang didengarkan oleh pasien dapat membantu pasien merasa rileks dan tenang, sehingga setelah selesai mendengarkan musik pasien dapat beristirahat dan melupakan rasa sakitnya walaupun hanya sementara.  
PENCAPAIAN AKADEMIK MEMPENGARUHI DEPRESI PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA DI FAKULTAS KEDOKTERAN Verren Isella; Arlends Chris; Louis Valdo
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v2i2.22658

Abstract

Mahasiswa tahun pertama di fakultas kedokteran mengalami perubahan emosional yang hebat saat memasuki lingkungan dan mengemban tanggung jawab akademik yang baru. Perubahan emosi ini dapat menjadi stres yang memicu gangguan mental. Meskipun mahasiswa tahun pertama telah berusaha untuk beradaptasi, tidak semua mahasiswa berhasil. Tingkat pencapaian akademik yang bervariasi pada mahasiswa dipengaruhi oleh kemampuan masing-masing individu dalam beradaptasi. Beberapa mahasiswa merasa bahwa beban akademik di fakultas kedokteran sama beratnya seperti jenjang sebelumnya. Namun, beberapa yang lain akan terkejut oleh fakta bahwa beban akademik di fakultas kedokteran jauh melebihi ekspektasi mereka, sehingga mereka tidak dapat bertahan di fakultas kedokteran. Studi ini bermaksud untuk mengetahui prevalensi depresi dan hubungan antara pencapaian akademik dengan kejadian depresi di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara pada tahun pertama. Studi ini merupakan studi analitik dengan desain cross sectional. uji chi-square digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel pencapaian akademik dan kejadian depresi. Dari penelitian ini didapatkan prevalensi depresi pada mahasiswa tahun pertama di fakultas kedokteran Universitas Tarumanagara sebesar 39,3% dan didapatkan hubungan antara pencapaian akademik dengan kejadian depresi (p-value: 0,001). Studi ini menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki pencapaian akademik yang buruk beresiko 0,612 kali mengidap depresi dibandingkan dengan mahasiswa yang memiliki pencapaian akademik yang baik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pencapaian akademik yang buruk dapat mempengaruhi gangguan mental maupun memicu kejadian depresi.
Edukasi hiperurisemia bagi jemaat GKI Terate di Jakarta Barat Arlends Chris; Monica Djaja Saputera; Lina Lina
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 3 (2025): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i3.30436

Abstract

AbstrakData pada tahun 2023 menunjukkan 11% penduduk Amerika mengalami hiperurisemia dan angka ini meningkat setiap tahunnya. Kejadian hiperurisemia di Asia Tenggara dan Pasifik lebih tinggi dari Amerika karena adanya faktor genetik yang tidak dapat dimodifikasi. Keadaan ini dapat berkembang menjadi artritis gout dan berkaitan dengan resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler. Survei tahun 2023, jemaat GKI Terate, sebanyak 52,9% memiliki riwayat hipertensi. Berdasarkan data tersebut, 55,6% obesitas dan 66,7% masuk kategori obesitas sentral yang berkontribusi pada gangguan metabolik. Hal ini dapat menyebabkan resiko terjadinya hiperurisemia. Tujuan kegiatan PKM ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan deteksi dini hiperurisemia pada jemaat di GKI Terate, Jakarta Barat. Metode yang digunakan adalah memberikan edukasi serta pemeriksaan kadar asam urat. Mitra pada kegiatan ini adalah jemaat GKI Terate, Jakarta Barat sebanyak 19 orang. Evaluasi kegiatan diukur melalui kuesioner umpan balik kegiatan PKM. Hasil pengetahuan menunjukkan nilai rerata test awal sebesar 83,16 dan nilai test akhir sebesar 86,32. Terdapat peningkatan pengetahuan hiperurisemia sebesar 3,8%. Hasil deteksi dini kadar asam urat terhadap 10 orang responden didapatkan sebanyak 6 orang (60%) mengalami hiperurisemia. Data hasil umpan balik evaluasi kegiatan PKM didapatkan lebih dari 80% responden menyatakan kegiatan PKM berjalan dengan baik. Secara keseluruhan, pengetahuan jemaat GKI Terate mengenai topik hiperurisemia tergolong dalam kategori baik. Upaya pemantauan dan evaluasi tindak lanjut dalam bentuk edukasi secara rutin perlu dilakukan. Hal ini dapat berguna untuk meningkatkan tindakan upaya promotif dan preventif untuk mengendalikan kejadian hiperurisemia agar tidak berlanjut menjadi artritis gout dan resiko penyakit penyerta lainnya. Kata kunci: hiperurisemia; edukasi; pengabdian kepada masyarakat. AbstractData from 2023 indicated that 11% of the American population has hyperuricemia, which is increasing yearly. The incidence of hyperuricemia is higher in Southeast Asia and the Pacific compared to America, mainly due to genetic factors that are unmodified. This condition can lead to gouty arthritis and is associated with an increased risk of cardiovascular disease. In a 2023 survey conducted among the congregation at GKI Terate, it was found that 52.9% had a history of hypertension. Additionally, 55.6% of the respondents were classified as obese, and 66.7% were identified as having central obesity, both of which contribute to metabolic disorders. These conditions can elevate the risk of producing hyperuricemia. This PKM aims to enhance awareness and promote early hyperuricemia detection within the GKI Terate congregation in West Jakarta. The method used is to provide education and check uric acid levels. The partners in this activity are the GKI Terate congregation, West Jakarta, which has 19 people. Evaluation of the activity was measured through a PKM activity feedback questionnaire. The knowledge results showed an average pre-test of 83.16 and a post-test of 86.32. There was an increase in knowledge of hyperuricemia by 3.8%. The results of early detection of uric acid levels in 10 respondents showed that six people (60%) had hyperuricemia. Data from the PKM activity evaluation feedback showed that more than 80% of respondents stated that the PKM activity ran well. Overall, the knowledge of the GKI Terate congregation regarding hyperuricemia is categorized as good. Efforts to monitor and evaluate follow-up in routine education need to be carried out. This result can help increase promotive and preventive measures to control the incidence of hyperuricemia so that it does not progress to gouty arthritis and the risk of other comorbid diseases. Keywords: hyperuricemia; education; community service.