Lilis Lisnawati
STIKES Respati Tasikmalaya

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Korelasi Kadar Hemoglobin Ibu Pada Kehamilan Ektopik Terganggu Terhadap Waktu Pemulihan di Rumah Sakit Umum Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya Tahun 2012−2013 Nia Nurfazrina; Lilis Lisnawati
Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 2, No 3 (2015): September
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.417 KB) | DOI: 10.24198/ijemc.v2i3.22

Abstract

Di Indonesia diperkirakan angka kejadian kehamilan ektopik terganggu (KET) tidak jauh berbedadengan negara maju yaitu 3−6% dari populasi masyarakat. Akibat dari banyaknya perdarahan yangdisebabkan oleh KET bisa menyebabkan anemia akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuihubungan kadar hemoglobin ibu pada KET dengan waktu pemulihan di Rumah Sakit Umum dr.Soekardjo Kota Tasikmalaya tahun 2012−2013. Manfaat penelitian ini adalah hasil penelitian dapatdigunakan sebagai bahan masukan bagi Rumah Sakit Umum dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya daninstansi yang terkait dalam meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya dalam penanganan KET.Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dengan pendekatan korelasional. Subjek penelitianini adalah ibu dengan KET di bagian Obstetri dan Ginekologi RSUD dr.Soekardjo periode2012−2013. Hasil penelitian menunjukan bahwa 81 responden ibu dengan KET memiliki kadar Hb<11 gr%, 57 orang diantaranya memiliki waktu pemulihan <7 hari. Terdapat hubungan antara kadarhemoglobin terhadap proses pemulihan ibu dengan KET di RSUD Dr. Soekardjo tahun 2012 – 2013(p = 0,05, OR= 8,37,IK = 95% (1,03-67,9)). Simpulan dalam penelitan ini terdapat hubungan antarakadar hemoglobin ibu pada KET dengan waktu pemulihan, dan ibu hamil ektopik yang memiliki Hb <11 gr% 8,37 kali memiliki resiko waktu pemulihannya ≥ 7 hari daripada ibu yang memiliki Hb ≥ 11gr%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penting dilakukan deteksi dini adanya KET dengan ANCberkualitas di fasilitas kesehatan.
Cegah Stunting dengan Penyuluhan Gizi Seimbang pada Masa Menyusui di Desa Sukamulya Kecamatan Singaparna Tupriliany Danefi; Lilis Lisnawati
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 3 No 1 (2023): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v3i1.76

Abstract

Introduction: Optimal nutritional intake during the breastfeeding mother phase is one way to prevent stunting in toddlers in the future. This is part of preventing stunting in the first 1000 days of birth. One of the direct causes of stunting in toddlers is malnutrition during the first 1000 days of a child's life. Therefore, stunting prevention needs to start when women are pregnant, breastfeeding and until the child is 2 years old. Objective: this community service activity is to increase the understanding and knowledge of breastfeeding mothers about balanced nutrition during breastfeeding. Method: This community service activity was carried out in a toddler class in Sukamulya Village. By first carrying out the pre test and after carrying out the counseling the implementation of the post test is to measure the extent to which the effectiveness of the implementation of the counseling given. The target was breastfeeding mothers in Sukamulya Village, Working Area of ​​the Singaparna Health Center, a total of 41 people. Result: The results obtained were 19 people (46.3%) experienced an increase in scores from pre-test to post-test and those who experienced a decrease were 7 people (17.1%), with the same value of 15 people (36.6%) and an increase in knowledge in the good category from 95.1% to 97.6%. Conclusion: Based on the results of these activities it can be interpreted that balanced nutrition counseling activities during breastfeeding are quite effective for increasing knowledge.
PROGRAM IBU HAMIL SEHAT KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYATAHUN 2017 Tupriliany Danefi; Lilis Lisnawati
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 1 (2019): April 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i1.136

Abstract

Kesehatan ibu hamil adalah salah satu aspek yang penting untuk diperhatikan dalam siklus kehidupan seorang perempuan karena sepanjang masa kehamilannya dapat terjadi komplikasi yang tidak diharapkan. Setiap ibu hamil akan menghadapi risiko yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu, setiap ibu hamil memerlukan asuhan selama masa kehamilannya (Salmah, 2006). Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan suatu negara. Jumlah kematian ibu di negara berkembang tergolong tinggi seperti yang terjadi di Afrika Sub Sahara dan Asia Selatan (WHO, 2013). Salah satu upaya yang dilakukan Departemen Kesehatan dalam rangka mempercepat penurunan angka kematian ibu adalah pelayanan kesehatan maternal yang berkualitas, yaitu melakukan pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC). Tujuan dari ANC adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilan, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat (Depkes RI, 2014). Menurut Manuaba 2010 tujuan dilakukan pemeriksaan kehamilan adalah untuk memantau kemajuan kehamilan, memastikan kehamilan ibu dan tumbuh kembang janin, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu, mengenali secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama masa kehamilan termasuk riwayat penyakit secara umum dan pembedahan, mempersiapkan persalinan cukup bulan dan persalinan yang normal, mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI ekslusif, mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara optimal dan menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal. STIKes Respati sebagai satu satunya sekolah tinggi ilmu kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terhadap permasalahan terkait kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu dengan kegiatan pengabdian masyarakat. Salah satu upaya nyata STIKes Respati adalah melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema “Program Ibu Hamil Sehat” sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil dan dengan kegiatan itu sebagai deteksi dini komplikasi pada ibu hamil.
PEMBERDAYAAN KADER DALAM UPAYA PENINGKATAN CAKUPAN DETEKSI DINI KANKER SERVIKS DAN KANKER PAYUDARA, DI DESA CIKUNIR 2018 widya maya ningrum; Fenty Agustini; Lilis Lisnawati
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 1 No. 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i1.154

Abstract

Kanker adalah terjadinya pertumbuhan sel tidak terkontrol sehingga ditemukan sel tubuh yang abnormal (sel kanker). Menurut Globacan, pada tahun 2008 kanker yang paling sering terjadi pada wanita adalah kanker payudara dan kanker serviks. Setiap tahun kanker payudara mencapai 1.1 juta perempuan dan jumlah ini merupakan 10% dari kasus baru seluruh kanker. Dengan angka kematian sebesar 410.000 setiap tahun dan menjadikan lebih dari 1,6% sebagai penyebab kematian perempuan di seluruh dunia. Kanker serviks menempati urutan yang kedua setelah kanker payudara. Kejadian kanker serviks 15 per 100.000 wanita dan 7,8 persen nya mengalami kematian. (Globocan, 2012). Kanker serviks masih menjadi permasalahan kesehatan dengan kejadian kematian tertinggi. Keterlambatan dalam mendiagnosis menyebabkan kanker sudah pada stadium lanjut, dan hal ini merupakan salah satu penyebab tidak tertanganinya kanker serviks. Sebanyak 99,7 % penyebab kanker serviks adalah Human Paviloma Virus Onkogenik , dan yang menjadi faktor risikonya adalah Menikah Muda (kurang dari 20 tahun ), Mitra seksual multiple, Infeksi Menular Seksual, Merokok , Defisiensi Vit A./Vit C/VitE (Kemenkes, 2016). Sebanyak 50 - 80% wanita aktif seksual mengalami infeksi HPV dalam hidupnya tanpa disadarinya, tetapi 90% hilang dengan daya tahan tubuh. Untuk itu sebenarnya kanker serviks dapat dicegah. Pencegahan yang dapat dilakukan terhadap kanker serviks adalah pencegahan primer dan sekunder. Pencegahan primer dilakukan pada perempuan yang sehat yang belum terkena suatu penyakit. Contoh pencegahan primer untuk kanker serviks adalah dengan melakukan promosi dan edukasi atau kampanye kanker serviks dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kanker serviks serta Vaksinasi HPV untuk mencegah perempuan dari kanker serviks. Pencegahan sekunder adalah dengan cara melakukan deteksi dini dengan melakukan pemeriksaan pap smear dan atau iva test. (National Cancer Institute, 2017) Tidak seperti kanker serviks yang dapat diketahui etiologi dan perjalanan penyakitnya secara jelas, etiologi dan perjalanan penyakit kanker payudara terutama berhubungan dengan keadaan hormonal (estrogen dominan) dan genetik. Untuk mengatasi masalah pada kanker payudara, maka dikebangkan tatacara deteksi dini dan diagnosis serta penatalaksnaaan yang “cost effective” dengan “evidence based best practies wuth limited resources”. Hal dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kanker payudara adalah dengan cara melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) yang dilakukan rutin setelah menstruasi, selanjutnya setahun sekali dianjurkan untuk SADANIS (periksa Payudara Klinis) yang dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten. Selain itu deteksi dini bisa dilakukan dengan cara Mammografi, USG, dll.(Kemenkes, 2016) Masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pencegahan kanker payudara dan kanker serviks sebagai salah satu faktor penyebab rendahnya cakupan deteksi dini di wilayah Desa Cikunir. Berdasarkan Laporan Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2017 didapatkan data cakupan deteksi kanker payudara dan kanker serviks di Desa Cikunir sebesar 0, 00 %. Hal ini menunjukan bahwa kesadaran wanita usia subur untuk melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker payudara dan serviks sangatlah rendah. Sejalan dengan hasil survey yang dilakukan pada 20 wanita usia subur, sebagian besar pengetahuan wus tentang kanker payudara dan kanker serviks sangatlah kurang, dan semua WUS yang dilakukan survey belum pernah melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker payudara dan kanekr serviks.( Laporan PKN, 2018) Agar pengetahuan perempuan tentang kanker payudara dan kanker serviks dan perilaku deteksi dini meningkat yang berdampak kepada tercapainya cakupan deteksi dini kanker payudaradan kanker serviks maka perlu dilakukan suatu program pemberdayaan masyarakat dengan membentuk Komuitas Kader Peduli Kanker (KKPK). KKPK ini dibentuk dengan tujuan agar dapat meningkatkan kepedulian masyarakat khususnya perempuan terhadap pentingnya pencegahan kanker payudara dan kanker serviks. Dengan KKPK diharapkan pengetahuan masyarakat akan kanker payudara dan serviks meningkat yang berdampak kepada peningkatan kepedulian untuk melakukan deteksi pencegahan kanker payudara dan kanker serviks. Untuk lebih jelasnya dalam laporan ini akan dijelaskan kegiatan – kegiatan yang telah dilakukan dalam rangka Pemberdayaan Kader Dalam Upaya Peningkatan Cakupan Deteksi Dini Kanker Serviks Dan Kanker Payudara Di Desa Cikunir 2018.
Nutritional Status and Lifestyle Factors Contributing to the Regulation of Reproductive Quality in Adolescent Females Lilis Lisnawati; Tupriliany Danefi
Genius Journal Vol. 4 No. 2 (2023): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v4i2.267

Abstract

Introduction : Many health problems of adolescents cause a decline in their quality of life, including reproductive-related problems such as anemia, malnutrition, and obesity. Chronic nutritional dysfunction among adolescents has raised concerns since it may lead to stunting. Objective :This study examines the correlation between nutritional status and lifestyle (including habitual patterns of diet, exercises, and use of insecticides or mosquito repellent, consumption of Fe tablets and folic acid) and reproduction quality (including ages, menarche, menstrual cycle, PMS score, and length and length and severity of dysmenorrhea). Method : We used an analytic survey method with a cross-sectional study design. The population was young women aged 16-24 years, with a total of 80 people. Result : Data were not normally distributed or homogeneous; we used a non-parametric approach with the Spearman correlation test α = 0.05. The chi-square test resulted in a Sig value of 0.292 > 0.05, and the Spearman Rank correlation test results in Sig. (2-tailed) of 0.152 or a Sig (2-tailed) value of 0.152 > 0.05. Conclusion : The results indicate that the reproductive quality of adolescents is multifactorial. The nutritional status and lifestyle of adolescents are only part of the factors determining the optimization of reproductive function.