Abstrak: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat resiliensi dan identitas keagamaan anak-anak Muslim yang hidup sebagai kelompok minoritas di Kampung Penyengat, Kabupaten Siak. Program dilaksanakan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dan Asset-Based Community Development (ABCD). Pendekatan PAR diterapkan melalui identifikasi masalah, perencanaan partisipatif, pelaksanaan tindakan, dan refleksi bersama, sedangkan ABCD dilakukan melalui pemetaan dan optimalisasi aset lokal berupa surau, tokoh agama, orang tua, dan guru agama. Kegiatan melibatkan 5 anak Muslim sebagai peserta utama, dengan dukungan 1 tokoh agama, 2 orang tua, dan 1 guru agama Islam, serta dilaksanakan melalui 8 sesi pendampingan spiritual selama 4 minggu. Program mencakup storytelling berbasis sirah nabawiyah, role play, latihan dzikir sebagai teknik regulasi emosi, dan pembentukan kelompok dukungan sebaya “Sahabat Penyengat”. Evaluasi dilakukan melalui observasi, wawancara, dan Focus Group Discussion (FGD) dengan indikator keberhasilan meliputi peningkatan kepercayaan diri, keberanian berinteraksi sosial, kemampuan mengekspresikan identitas keagamaan, partisipasi dalam aktivitas spiritual, dan terbentuknya dukungan sosial komunitas. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh peserta memperlihatkan peningkatan keberanian dalam berinteraksi sosial dan mengekspresikan identitas keagamaan secara lebih terbuka dibandingkan sebelum program. Selain itu, keterlibatan peserta dalam aktivitas spiritual meningkat, serta terbentuk kelompok “Sahabat Penyengat” yang berfungsi sebagai ruang aman dan dukungan sebaya berkelanjutan. Keterlibatan orang tua, guru agama, dan tokoh agama juga memperkuat modal sosial komunitas dalam mendukung perkembangan anak-anak Muslim minoritas. Temuan ini menegaskan bahwa pendampingan spiritual berbasis komunitas merupakan model pemberdayaan yang efektif untuk memperkuat resiliensi dan identitas keagamaan anak Muslim minoritas dalam masyarakat heterogen.Abstract: This community service activity aims to strengthen resilience and religious identity among Muslim children living as a minority in Kampung Penyengat, Siak Regency. The program was implemented using a Participatory Action Research (PAR) approach and Asset-Based Community Development (ABCD). PAR was applied through problem identification, participatory planning, action implementation, and joint reflection, while ABCD was carried out by mapping and optimizing local assets such as the surau (prayer hall), religious leaders, parents, and religious teachers. The activity involved five Muslim children as the main participants, supported by one religious leader, two parents, and one Islamic religious teacher, and was conducted over eight spiritual mentoring sessions across four weeks. The program included storytelling based on Sirah Nabawiyah (Prophetic biography), role-playing, zikr (remembrance) exercises as emotion-regulation techniques, and the formation of a peer support group called “Sahabat Penyengat” (Penyengat Friends). Evaluation was conducted through observation, interviews, and Focus Group Discussions (FGD), with success indicators including increased self-confidence, greater courage in social interactions, the ability to express religious identity, participation in spiritual activities, and the formation of social support within the community. The results showed that all participants demonstrated increased confidence in social interactions and expressed their religious identity more openly than before the program. Additionally, participants’ involvement in spiritual activities increased, and the “Sahabat Penyengat” group was established as a safe space and ongoing peer support network. The involvement of parents, religious teachers, and religious leaders also strengthened the community’s social capital in supporting the development of minority Muslim children. These findings affirm that community-based spiritual mentoring is an effective empowerment model to enhance resilience and religious identity among minority Muslim children in a diverse society.