I Wayan Sudhana
Divisi Ginjal Dan Hipertensi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana-RSUP Sanglah Denpasar

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

GAMBARAN KUALITAS HIDUP PADA LANSIA DENGAN NORMOTENSI DAN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GIANYAR I PERIODE BULAN NOVEMBER TAHUN 2013 Putri Rossyana Dewi; I Wayan Sudhana
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 9 (2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.144 KB)

Abstract

Hipertensi menjadi salah satu fokus perhatian kesehatan di dunia, terutama di negara berkembang dan merupakan penyebab kesakitan serta kematian yang tinggi di seluruh dunia. Peningkatan jumlah penderita hipertensi terutama pada lansia dengan segala masalah biopsikososial yang ditimbulkan telah berakibat pada penurunan kualitas hidup penderitanya. Rancangan penelitian ini adalah studi potong lintang deskriptif untuk melihat gambaran kualitas hidup lansia yang mengalami hipertensi dan normotensi di Posyandu Lansia Wilayah Kerja Puskesmas Gianyar I Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar bulan November tahun 2013. Pada penelitian ini, jumlah responden terbanyak adalah lansia kelompok lanjut usia (62.1%), jenis kelamin perempuan (65.5%), tingkat pendidikan tidak tamat SD atau tidak sekolah (53.4%), tidak bekerja atau pensiunan (70.7%), pendamping hidup (suami/istri) masih ada (74.1%), dan mempunyai riwayat penyakit kronis selain hipertensi (53.4%). Untuk riwayat tekanan darah, yang normal dan hipertensi dalam jumlah sama. Prevalensi status tekanan darah tinggi pada lansia sebesar 51.7%. Kualitas kesehatan fisik lansia buruk (62.1%), kualitas psikologis buruk (70.4%), kualitas personal sosial baik (51.7%), dan kualitas lingkungan baik (60.3%).Kualitas hidup lansia secara umum baik pada normotensi (57.1%), buruk pada hipertensi (56.7%). Kualitas kesehatan fisik buruk pada normotensi (57.1%), buruk pada hipertensi (66.7%). Kualitas psikologis buruk pada normotensi (67.9%), buruk pada hipertensi (73.3%). Kualitas personal sosial baik dan buruk dalam jumlah sama pada normotensi (50.0%), baik pada hipertensi (53.3%). Kualitas lingkungan baik pada normotensi (57.1%), baik pada hipertensi (63.3%). Kesimpulan dalam penelitian ini ada kualitas hidup lansia hipertensi lebih buruk dibandingkan lansia normotensi.  
PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO TERJADINYA HIPERTENSI PADA MASYARAKAT DI DESA SIDEMEN, KECAMATAN SIDEMEN, KARANGASEM PERIODE JUNI-JULI 2014 Pande Putu Adnyani; I Wayan Sudhana
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 3 (2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.165 KB)

Abstract

Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah arteri persisten sebesar 140/90 mmHg atau lebih baik sistol maupun diastol pada umur 18 tahun atau lebih. Hipertensi merupakan penyebab dari 4,5% beban penyakit dunia baik di negara berkembang, maupun di negara maju. Berbagai faktor risiko telah dihubungkan dengan terjadinya hipertensi. Penelitian ini menggunakan rancangan studi prevalensi potong lintang untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko kejadian hipertensi pada masyarakat Desa Sidemen, Kecamatan Sidemen, Karangasem periode Juni-Juli 2014. Prevalensi hipertensi di Desa Sidemen yaitu sebanyak 40 orang (27,4%) dengan 26 responden (65,0%) hipertensi derajat 1 dan 14 responden (35,0%) hipertensi derajat 2. Berdasarkan hasil tabulasi silang antara faktor risiko hipertensi dengan kejadian hipertensi, didapatkan prevalensi hipertensi paling banyak pada rentang umur 50 sampai dengan 79 tahun yaitu 21,3%, pada responden yang tidak bersekolah dan tamat SD yaitu 19,2%, pada 30 responden (20,5%) yang tidak memiliki riwayat keluarga hipertensi, 10 responden (6,8%) yang memiliki riwayat keluarga hipertensi, 22 responden (15,1%) yang memiliki riwayat merokok, 18 responden (12,3%) yang tidak memiliki riwayat merokok, 9 responden (6,2%) yang memiliki riwayat mengkonsumsi alkohol, 31 responden (21,2%) yang tidak memiliki riwayat mengkonsumsi alkohol, 4 responden (2,7%) dengan BMI underweight, 7 responden (4,8%) dengan BMI normal, 29 responden (19,9%) dengan BMI overweight dan obese, 4 responden (2,7%) dengan lingkar pinggang <90 cm pada laki-laki dan <80 cm pada perempuan dan 36 responden (24,7%) dengan lingkar pinggang ?90 cm pada laki-laki dan ?80 cm pada perempuan. Dari semua faktor risiko, yang menunjukkan korelasi signifikan yaitu tingkat pendidikan, riwayat merokok, BMI dan waist circumference.  
GAMBARAN POLA MAKAN TERHADAP TINGKAT GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGASEM I I Putu Bagus Muliartha; I Wayan Sudhana
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 2 (2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.562 KB)

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit kronis yang terjadi akibat pankreas yang tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup atau ketidakefektifan tubuh dalam menggunakan insulin. Salah satu faktor risiko dari diabetes melitus adalah gaya atau pola hidup yang tidak sehat, salah satunya pola makan. Hal inilah yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan diabetes melitus. Rancangan penelitian ini adalah studi potong lintang deskriptif untuk untuk mengetahui gambaran pola makan terhadap tingkat glukosa darah pada penderita diabetes mellitus di wilayah kerja Puskesmas Karangasem I. Responden yang mengkonsumsi makanan pokok tiga kali sehari memiliki tingkat glukosa darah terkontrol (56,1%), sedangkan yang mengkonsumsi makanan pokok dua kali sehari memiliki tingkat glukosa darah terkontrol (57,1%). Responden yang selalu mengkonsumsi lauk hewani memiliki tingkat glukosa darah terkontrol (56,8%), dan yang kadang-kadang mengkonsumsi lauk hewani (58,8%). Sedangkan yang tidak pernah mengkonsumsi lauk hewani memiliki glukosa darah terkontrol (0%). Responden yang selalu mengkonsumsi lauk nabati memiliki tingkat glukosa darah yang terkontrol (62,8%), dan yang kadang-kadang mengkonsumsi  lauk nabati (40,0%). Responden yang selalu mengkonsumsi sayur dan buah memiliki tingkat glukosa darah yang terkontrol (64,4%), dan yang kadang-kadang mengkonsumsi sayur dan buah (20%). Responden yang selalu mengkonsumsi cemilan memiliki tingkat glukosa darah yang terkontrol (59,1%), yang kadang-kadang mengkonsumsi cemilan (57,1%), dan yang jarang mengkonsumsi cemilan (40,0%).        
HUBUNGAN ANTARA POLA MAKAN DENGAN OBESITAS REMAJA PADA SISWA-SISWI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DI DENPASAR Nyoman Arya Shridewi Abhigamika; Wayan Losen Adnyana; I Wayan Sudhana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 7 (2019): Vol 8 No 7 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.722 KB)

Abstract

Obesitas merupakan suatu kondisi penumpukan lemak yang abnormal atau berlebih yangmengganggu kesehatan. Prevalensi kegemukan pada anak-anak di Indonesia menurut data RisetKesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 di berbagai rentang usia terbilang masih tinggiterutama saat usia remaja (usia 10-19 tahun) yang dapat disebabkan oleh interaksi kompleksdari banyak faktor seperti genetik, pola makan, aktivitas fisik, status sosial-ekonomi, sertalingkungan. Secara sederhana, obesitas dapat diukur dengan menghitung Indeks Massa Tubuh(IMT) maupun mengukur lingkar pinggang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuihubungan antara pola makan dengan obesitas remaja pada siswa-siswi Sekolah Menengah Atas(SMA) di Denpasar. Penelitian ini menggunakan studi observasional analitik potong lintangdengan sampel sebanyak 100 siswa SMA di Denpasar yang dipilih menggunakan teknikpurposive sampling. Variabel bebas penelitian ini meliputi kualitas makanan, kuantitasmakanan, dan intensitas makan. Data yang diperoleh adalah data primer dengan pengumpulandata menggunakan media kuesioner 24 hour recall serta mengukur berat badan, tinggi badan,dan lingkar pinggang sampel. Pengambilan data dilakukan sejak bulan Agustus-Oktober 2015 diSMAN 8 Denpasar, SMAN 3 Denpasar, SMAK Santo Yoseph Denpasar, dan SMAN 2Denpasar. Penelitian ini menghitung nilai Chi-square hitung lalu membandingkan dengan nilaiChi-square tabel, koefisien korelasi (r), determination coefficient (R2), dan nilai contingencycoefficient (C) dari masing-masing variabel bebas. Pada penelitian ini didapatkan hasil nilaiChi-square hitung seluruh variabel bebas lebih kecil daripada nilai Chi-square tabel yangmenunjukkan adanya hubungan ketiga variabel bebas terhadap obesitas remaja di Denpasar.Variabel kualitas makanan memiliki r = 0,063, R2 = 0,39%, dan C = 1,74%. Variabel kuantitasmakanan memiliki r = 0,068, R2 = 0,46%, dan C = 1,4%. Variabel intensitas makan memiliki r =0,068, R2 = 0,46%, dan C = 1,27%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwavariabel kualitas makanan, kuantitas makanan, dan intensitas makan memiliki hubungan dengankejadian obesitas remaja dan hubungan tersebut searah meskipun dengan tingkat keyakinanyang kecil. Tingkat keyakinan yang kecil tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat faktorlain yang turut mempengaruhi obesitas pada remaja selain pola makan yang tidak diteliti padastudi ini. Kata kunci : Pola Makan, Obesitas, Remaja
GAMBARAN KEPATUHAN MINUM OBAT DAN PERAN SERTA KELUARGA PADA KEBERHASILAN PENGOBATAN PASIEN HIPERTENSI DI DESA TIMBRAH KECAMATAN KARANGASEM PADA JANUARI 2014 Susanty Wahyu Nanurlaili; I Wayan Sudhana
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.954 KB)

Abstract

Tekanan darah menjadi faktor penting terhadap sistem homeostasis tubuh. Adanya perubahan tekanan darah akan membawa dampak terhadap sistem organ, seperti jantung, ginjal, dan otak. Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg dan tekanan darah diastolik diatas 90 mmHg. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan dilakukan pada bulan Januari 2014. Objek penelitian adalah pasien yang tinggal di Desa Timbrah Kecamatan Karangasem. Teknik pengambilan sampel dengan cara random sampling dan pemberian kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang menderita hipertensi ysng berusia lebih dari 60 tahun sebanyak 16 orang (53,3%) dan kurang dari 60 tahun berjumlah 14 orang (46,7%). Angka ketidakberhasilan pengobatan hipertensi sebesar 43,3% diperoleh dari sampel yang tidak memiliki dukungan keluarga. Kepatuhan sampel dalam minum obat juga terbukti cukup buruk (53,8%) sehingga berakibat tidak ada perbaikan yang signifikan pada hasil pengukuran tekanan darahnya. Untuk mendukung angka keberhasilan pengobatan hipertensi dapat dilakukan dengan adanya penyuluhan penyakit hipertensi sehingga kepatuhan dan peran serta keluarga dapat meningkat.  
GAMBARAN ANEMIA PADA KELOMPOK PEREMPUAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEMBUKU I KABUPATEN BANGLI TAHUN 2013 I Putu Restu Wira Dharma; I Wayan Sudhana
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 7(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.965 KB)

Abstract

Anemia  adalah salah satu  masalah  gizi  mikro yang cukup serius terutama pada kelompok wanita yang akan melahirkan generasi penerus bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran anemia pada kelompok perempuan di wilayah kerja Puskesmas Tembuku I, Bangli. Sasaran penelitian ini adalah empat kelompok perempuan, yaitu kelompok pre-menarche (25 siswi), post-menarche (36 siswi), ibu hamil pertama (21 ibu), dan ibu balita pertama (37 ibu) pada bulan September 2013 dengan metode deskriptif cross-sectional. Data status anemia didapatkan dengan pengukuran langsung kadarhaemoglobin menggunakan haemometer digital. Karakteristik sampel didapatkan dari kuisioner yang diisi sendiri oleh responden. Selanjutnya data dianalisis secara deskriptif denganSPSS v. 16.0. Proporsi anemia pada kelompok pre-menarche (12%) cenderung terjadi pada siswa RTM (66,7%) dengan tingkat pendidikan ibu yang rendah (66,7%). Proporsi anemia (5,6%) pada kelompok post-menarche cenderung terjadi pada siswi non-RTM (100%) dengan tingkat pendidikan ibu menengah (100%). Pada kelompok ibu hamil pertama proporsi anemia (4,8%) cenderung terjadi ibu non-RTM (100%) dengan tingkat pendidikan tinggi (100%). Pada kelompok ibu balita pertama proporsi anemia (10,8%) cenderung terjadi pada ibu RTM (75,0%) dengan tingkat pendidikan rendah (75,0%). Proporsi anemia tertinggi terdapat pada kelompok pre-menarche yaitu 12 %. Rentang kadar Hb antara  7,5-16g/dl dan niai rata-rata 13,37 g/dl. Sebagian besar berasal dari keluarga RTM dan tingkat pendidikan ibu yang rendah.    
GAMBARAN FAKTOR RISIKO HIPERTENSI PADA MASYARAKAT PRALANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DAWAN I PERIODE MEI 2013 Made Yudha Ganesa Wikantyas Widia; I Wayan Sudhana
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.958 KB)

Abstract

Berdasarkan data kunjungan pasien di Puskesmas Dawan I, angka kejadian hipertensi pada golongan umur pralansia (45-59 tahun) lebih tinggi dari golongan lansia (> 60 tahun) pada periode Januari hingga Desember 2012. Berdasarkan data tersebut, terdapat kecenderungan untuk mulai bergesernya angka kejadian hipertensi kearah umur yang lebih muda yaitu pralansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko hipertensi pada pralansia di wilayah kerja Puskesmas Dawan I pada bulan Mei 2013. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Dawan I, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, pada bulan Mei 2013 dengan jumlah responden sebanyak 75 orang berusia 45-59 tahun. Rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional digunakan dalam penelitian ini. Hipertensi ditentukan dengan pengukuran tekanan darah menggunakan kriteria JNC VII (tekanan darah sistolik ?140 mmHg dan/atau diastolik ? 90 mmHg). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kejadian hipertensi lebih cenderung dialami oleh laki-laki (43,6%), yang memiliki riwayat keluarga hipertensi (69,2%), pada perokok (56,5 %), yang menghisap rokok > 15 batang per hari (66,7%), riwayat lama merokok ? 25 tahun (69,2%), memiliki riwayat minum kopi rutin setiap hari (46%), mengkonsumsi  kopi ? 3 gelas per hari (62,5%), jenis kopi yang diminum adalah kopi giling (47,5%), riwayat konsumsi garam yang masuk dalam kategori lebih (52,2%), dan pada status IMTnya termasuk obesitas (67,9%). Mengingat tingginya prevalensi hipertensi pada kelompok dengan perokok, peminum kopi, dan obesitas, maka perlu dilakukan intervensi misalnya  melalui promosi kesehatan dan penyuluhan.        
GAMBARAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP KADAR GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGASEM I PADA SEPTEMBER-OKTOBER 2013 I Gusti Bagus Aginda Dwi Pawana; I Wayan Sudhana; I Wayan Losen Adnyana
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 7(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.142 KB)

Abstract

Di Puskesmas Karangasem I, diabetes melitus termasuk dalam daftar sepuluh besar penyakit yang paling sering ditemui oleh petugas pelayanan medis. Untuk mengetahui prevalensi kadar gula darah,aktivitas fisik, gambaran aktivitas fisik terhadap kadar gula darah penderita diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Karangasem I. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif potong lintang, dilakukan bulan September - Oktober 2013. 55 penderita diabetes melitus yang tercatat dalam register Puskesmas Karangasem I pada tahun 2012 sebagai sampel dipilih secara acak. Didapatkan prevalensi kadar gula darah terkontrol pada penderita diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Karangasem I sebanyak 56,4% dan yang tidak terkontrol 43,6%. Dari 55 sampel, sebanyak 9 orang (16,4%) memiliki aktivitas sedang, 25 orang (45,4%) memiliki aktivitas ringan, 21 orang (38,2%) merupakan penderita diabetes melitus yang tidak aktif dalam beraktivitas. Tidak ditemukan penderita diabetes melitus yang memiliki aktivitas berat. Secara umum, kadar gula darah yang tidak terkontrol lebih banyak dialami oleh penderita diabetes melitus yang tidak aktif dalam beraktivitas fisik, yaitu sebanyak 52,4% (11 orang) dari total 21 penderita yang tidak aktif dalam aktivitas fisik. Sedangkan dari 25 penderita diabetes melitus yang melakukan aktivitas ringan sebanyak 17 orang (68,0%) memiliki kadar gula darah yang terkontrol dan 8 orang (32,0%) memiliki kadar gula darah yang tidak terkontrol. Kadar gula darah yang tidak terkontrol justru lebih tinggi pada kelompok penderita diabetes melitus dengan aktifitas sedang yaitu 5 orang (55,6%) dari 9 orang yang didapatkan memiliki aktivitas sedang. Tidak ditemukan kecenderungan peningkatan presentase kadar gula darah pada penderita diabetes melitus dengan aktivitas fisik yang tidak aktif, ringan, sedang maupun berat.
PREVALENSI DAN GAMBARAN FAKTOR RISIKO HIPERTENSI PADA USIA DEWASA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TABANAN II PERIODE MEI 2012 Putu Shinta Widari Tirka; I Wayan Sudhana
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 11(2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.701 KB)

Abstract

Data Riset Kesehatan Dasar(Riskesdas) 2007 Provisnsi Bali menyatakan bahwa banyak kasus hipertensi belum ditanggulangi dengan baik di Kabupaten Tabanan. Dari data 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Tabanan II pada bulan Januari 2012 hingga Mei 2012, hipertensi selalu masuk di urutan 3 besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi hipertensi dan gambaran faktor risiko hipertensi (usia, jenis kelamin, riwayat keluarga hipertensi, kegemukan, konsumsi makanan asin, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik) pada usia dewasa di wilayah kerja Puskesmas Tabanan II pada bulan Mei 2012. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bukti bagi penyusunan dan perbaikan program Puskesmas Tabanan II dalam rangka meningkatkan usaha deteksi dan penatalaksanaan kasus hipertensi di wilayah kerjanya. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tabanan II, Kabupaten Tabanan, Indonesia pada bulan Mei 2012 dengan jumlah responden sebanyak 96 orang berusia ?18 tahun. Rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional digunakan dalam penelitian ini.Hipertensi ditentukan dengan pengukuran tekanan darah menggunakan kriteria JNC VII (tekanan darah sistolik ?140 mmHg dan/atau diastolic ?90 mmHg). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa prevalensi hipertensi pada penduduk usia dewasa di wilayah kerja Puskesmas Tabanan II pada bulan Mei 2012 sebesar 38,5%. Kejadian hipertensi lebih cenderung dialami oleh laki-laki (39,7%), kelompok usia ? 60 tahun (54,5%),kurang aktivitas fisik (47,7%), dan kegemukan (42,9%).Mengingat tingginya prevalensi hipertensi pada kelompok dengan aktivitas fisik rendah dan kegemukan, perlu dilakukan intervensi misalnya senam dan promosi kesehatan pada kelompok sasaran berusia 40 tahun keatas.    
NEGATIVE CORRELATION BETWEEN LEUKOCYTE COUNT AND HIGH DENSITY LIPOPROTEIN IN TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS IN SANGLAH GENERAL HOSPITAL, BALI Ni Luh Made Novi Ratnasari; Made Ratna Saraswati; I Wayan Losen Adnyana; I Wayan Sudhana
Bali Journal of Medical and Health Sciences vol 1,no 2(2017):volume 1 no 2 Mei 2017
Publisher : Faculty of Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.665 KB)

Abstract

Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is group with high cardiovascular disease (CVD) risk. Inflammation which is reflected by increasing leukocyte number, CRP, and lipid profile. Despite that, infection as one of diabetic complication commonly occurs in patient with T2DM. The dyslipidemia status reflected by lipid profile composition. So here, we aim to evaluate the relationship between leukocyte count with lipid profile to know the association between traditional and non-traditional risk factor of CVD in T2DM patient. The type of this research is cross sectional analytic research with 94 samples was enrolled into this study. The data is obtained initially by collecting from the quistionare and from laboratorium examination. Mean of samples’ age is 55 years and large number of patients had leukocytosis as reflected by high value of its mean (15.02±8.78 x 103/?L). We found that 56.4% of the subjects fall into worst category of glycemic control (HbA1C). Only 24.5% of the subjects had good glycemic control. Further evaluation showed that there were significant strong negative correlations between leukocyte count with HDL (r= -0.555; p=0.000). Inflammation which mainly related to infectious disease is common among T2DM patients which increase CVD risk by lowering HDL and worsening glycemic control.Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus, lipid profile, leukocyte count