Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peningkatan Pengetahuan Obat Orang Tua Peserta Didik Anak Usia Dini Melalui DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan dan Buang) di TK Indriyasana Babadan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, DIY Amanda Marselin; Dian Purwita Sari
WIDYABHAKTI Jurnal Ilmiah Populer Vol. 3 No. 2 (2021): Maret
Publisher : STIKOM Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30864/widyabhakti.v3i2.257

Abstract

Sekolah merupakan salah satu tempat belajar dan bermain bagi anak-anak usia sekolah mulai dari jenjang pendidikan usia dini hingga menengah atas. Interaksi yang terjadi antar warga sekolah yaitu siswa, guru dan orang tua siswa memiliki hubungan yang luas dan terkait dengan berbagai aspek, salah satu di antaranya adalah masalah bidang kesehatan. Taman Kanak-Kanak (TK) Indriyasana Babadan adalah salah satu sekolah yang menyelenggarakan pendidikan untuk anak usia dini mulai dari usia 3- 6 tahun. Permasalahan kesehatan yang dialami oleh peserta didik di sekolah tersebut adalah kurangnya kesadaran dan pengetahun orang tua terhadap kesehatan, khususnya pengelolaan obat yang digunakan saat melakukan pengobatan mandiri (swamedikasi). Penyuluhan tentang cara mendapatkan, menggunakan, menyimpan dan membuang (DAGUSIBU) obat bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan orang tua dalam pengelolaan obat sebagai upaya terciptanya lingkungan sekolah yang sehat bagi anak usia dini. Metode penyuluhan menggunakan booklet dan kuesioner sebagai bentuk evaluasi kegiatan. Peningkatan sebesar 54% pada pengetahuan tentang penggunaan obat, peningkatan sebesar 50% pada pengetahuan penyimpanan obat dan peningkatan sebesar 71% pada pengetahuan cara membuang obat dengan benar setelah dilakukan penyuluhan.
Peningkatan Ketrampilan Keluarga dalam Deteksi Dini Risiko Luka Kaki Diabetikum melalui Pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) Berbasis Website Linda Widyarani; Cecilya Kustanti; Dian Purwita Sari
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i1.22831

Abstract

ABSTRAK Posyandu Menur terletak di Desa Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan penderita diabetes mellitus berjumlah 45 orang. Keluarga mempunyai peran krusial dalam melakukan deteksi dini risiko luka kaki diabetikum melalui pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) bagi penderita diabetes mellitus. Pemeriksaan ABI adalah prediktor utama dalam deteksi dini risiko luka kaki diabetikum. Pengukuran ABI bersifat sederhana, non invasif dan dapat dilakukan oleh keluarga penderita yang terlatih. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan keluarga dalam deteksi dini risiko luka kaki diabetikum melalui pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) berbasis website. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini diawali dengan kegiatan sosialisasi dan focus group discussion bersama dengan pengurus Posyandu Menur dan Puskesmas Kasihan 2 tentang Plan of Action (PoA) dan Tem of Reference (ToR) kegiatan serta pemaparan teknologi berbasis website. Tahap selanjutnya, pemberian edukasi kesehatan dengan metode ceramah dan simulasi melalui penerapan teknologi berbasis website, website tersebut dapat diakses dimanapun dan kapanpun, diakses berulang kali secara gratis melalui smartphone. Website tersebut berisi artikel, gambar dan video animasi 2D. Pengabdian kepada masyarakat ini diikuti oleh 45 orang keluarga dan dilaksanakan di Posyandu Menur. Rata-rata usia mitra adalah 52,08±2,35 tahun, berjenis kelamin perempuan (88,71%), sebagian besar berlatar pendidikan SMA (57,78%) dan tidak bekerja (73,33%). Ketrampilan keluarga dalam melakukan deteksi dini risiko luka kaki diabetikum melalui pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI), pada kategori baik mencapai 77,78% setelah intervensi, dengan p-value 0,000 artinya terdapat perbedaan secara signifikan, ketrampilan antara sebelum dan sesudah intervensi. Media edukasi kesehatan dengan penerapan teknologi berbasis website berdampak positif bagi ketrampilan keluarga dalam melakukan deteksi dini risiko luka kaki diabetikum melalui pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI). Diharapkan keberlanjutan program kegiatan ini dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan dukungan dari puskesmas setempat agar penderita diabetes mellitus dapat melakukan pencegahan luka kaki diabetikum secara mandiri dan berkelanjutan.  Kata Kunci: Luka Kaki Diabetikum, Ankle Brachial Index (ABI), Keluarga, Website    ABSTRACT Posyandu Menur, which has 45 individuals with diabetes mellitus, is situated in Tirtonirmolo Village, Kasihan District, Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta Province. The Ankle Brachial Index (ABI) test for individuals with diabetes mellitus can be used to diagnose diabetic foot ulcer risk early, and family members are essential in this process. One important predictor in the early identification of diabetic foot ulcer risk is the ABI test. ABI measurement is easy to do, non-invasive, and accessible to family members with the necessary training. This community program uses a web-based Ankle Brachial Index (ABI) test to help families become more proficient in identifying diabetic foot ulcer risk early. In order to implement this community service, socialization exercises and focus groups with the management of Posyandu Menur and Kasihan 2 Health Center were held to discuss the activities' Plan of Action (PoA) and Terms of Reference (ToR). Additionally, website-based technology was presented. Using website-based technologies to deliver health education through lectures and simulations is the next stage. This website is available for free on a smartphone at any time, from any location, and repeatedly. Articles, pictures, and 2D animated films are all on the website. The Posyandu Menur hosted this community service, which was attended by forty-five families. Their average age is 52.08±2.35 years, and the majority of them are unemployed (73.33%), female (88.71%), and have a high school diploma (57.78%). After the intervention, the family's good category skills in the Ankle Brachial Index (ABI) examination for early diabetic foot ulcer risk detection reached 77.78%, with a p-value of 0.000, indicating a significant difference in abilities between before and after the intervention. The use of website-based technology applications in health education media improves family abilities in identifying diabetic foot ulcer risk early on using the Ankle Brachial Index (ABI) test. With the help of the neighborhood health center, it is intended that the activities of this program can continue to be sustained, enabling individuals with diabetes mellitus to prevent diabetic foot ulcers on their own and in a sustainable manner. Keywords: Diabetic Foot Ulcer, Ankle Brachial Index (ABI), Family, Website
PERBANDINGAN SIFAT FISIK SEDIAAN LILIN AROMATERAPI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) DAN KOPI ARABIKA (Coffea arabica) Trifonia Rosa Kurniasih; Dian Purwita Sari; Irna Maeshofa; Cristine Anggraini; Rai Madra Somasi Harefa; Lian Melissa Sitompul
Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia Vol. 6 No. 2 (2024): Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia
Publisher : APDFI (Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33759/jrki.v6i2.487

Abstract

Coffee is a plant that has benefits that can reduce stress when applied to aromatherapy candles. There are two most popular types of coffee: robusta coffee (Coffea canephora), which has a more intense taste and aroma, and arabica coffee (Coffea arabica), which has a lighter taste and aroma. This research aimed to compare the physical properties of robusta coffee (FR) and arabica coffee (FA) aromatherapy candle preparations. The formulation of aromatherapy candle preparations had a paraffin base (10%), stearin, and composition of coffee oil and coffee powder, 2% and 2.5% for formula 1 and 10% and 10% for formula 2. Organoleptically, the candle was solid, not cracked, and had the color brown to black. The aroma of formula 1 was weak, and the aroma of formula 2 was strong, typical of coffee aroma. The burning time for candles with an average weight of 8.52 grams for each group for formulas 1 and 2 FA was 11.45 minutes and 10.04 minutes, while FR was 11.57 minutes and 9.57 minutes. The melting point for aromatherapy candles was an average of 52–54 °C. This value meets the criteria for candle preparations based on SNI. A comparison of the formulas for aromatherapy candle preparations had a significant effect on the weight and burning time of aromatherapy candle preparations. Overall, the coffee candle aromatherapy meets the SNI criteria for candle preparations.