Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hutan Adat dan Kelas Menengah: Titik Balik Reforma Agraria di Indonesia? Iskandar Zulkarnain
Society Vol 5 No 2 (2017): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/society.v5i2.52

Abstract

The turning point of the agrarian reform of the customary forest arena after the Constitutional Court's Decision 35/PUU-X/2012 can not be based on state domination (government) through the agenda of territorialization of the forest and not on AMAN as representation of indigenous struggle from the paradox of interest. Bringing the alternative of a critical new middle class, as well as running a deliberation democracy through representational politics that combine extra parliamentary and intra-parliamentary struggles simultaneously in organizational form, capable of realizing sustainable agrarian reform. The new middle class struggle is a synthesis of the dialectic of forest recognition and the existence of indigenous peoples undergoing involution.
Modal Sosial Bentukan Dalam Penyelesaian Konflik di Bangka Belitung Iskandar Zulkarnain; Aimie Sulaiman; Fitri Ramdhani Harahap
Society Vol 6 No 2 (2018): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/society.v6i2.70

Abstract

Three potential conflicts that need to be anticipated in the reality of the life of the Bangka Belitung community in the future. The results of qualitative research through conflict mapping in seven districts / cities showed the potential for economic conflict in fighting for tin resources, agrarian conflicts with development dimensions related to land expansion for large-scale oil palm plantations, and inter-village and interethnic youth conflicts became the dominant issue. The mechanism of the savety valve as a damper of potential recurring conflicts must be institutionalized through functional and sustainable formalized social capital.
Ethnic Mosaic: Analysis of Management and Productivity of Lowland Rice In South Bangka Regency Rostiar Sitorus; Iskandar Zulkarnain; Winda Wahyuni
Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan Vol. 13 No. 3 (2025): JIMKES Edisi Mei 2025
Publisher : LPPM Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37641/jimkes.v13i3.3401

Abstract

This study investigates the relationship between ethnic diversity and the management practices and productivity of lowland rice farming in South Bangka Regency. The region's multi-ethnic composition—comprising Malay, Javanese, Bugis, and other ethnic groups—offers a unique context to explore how cultural backgrounds influence agricultural decisions and outcomes. Using a mixed-methods approach involving field surveys, in-depth interviews, and productivity data analysis, the study identifies key differences in land preparation, input usage, labor organization, and post-harvest handling across ethnic groups. The findings reveal that ethnic-based variations in farming knowledge and social capital significantly affect productivity levels. The study concludes by recommending culturally tailored agricultural extension strategies to improve rice productivity in ethnically diverse communities.
Gerakan Komunitas Pencinta Alam Bujang Squad Dalam Pelestarian Lingkungan Di Desa Terak M Ade Pratama; Iskandar Zulkarnain; Herdiyanti Herdiyanti
Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik Vol. 4 No. 2 (2022): Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik
Publisher : Politeknik Siber Cerdika Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59261/jequi.v4i2.90

Abstract

Lingkungan penting untuk dijaga demi menjamin keberlangsungan makhluk hidup. Gerakan sosial lingkungan menjadi cara penjagaan lingkungan yang mulai marak dilakukan oleh masyarakat yang berkaitan erat dengan komunitas Pencinta alam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gerakan dari Komunitas Pencinta Alam Bujang Squad dalam pelestarian lingkungan di Desa Terak, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka dengan narasumber dari Komunitas Pencinta Alam Bujang Squad, masyarakat serta pemerintah di Desa Terak. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Komunitas Pencinta Alam Bujang Squad terbentuk pada 23 Juli 2017 kemudian dilegalkan pada 2018 dengan diketuai oleh Dondon. Komunitas Pencinta Alam Bujang Squad melakukan kegiatan pelestarian lingkungan yang meliputi pengelolaan terpadu yang mencakup pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan pemanfaatan lahan yang kadangkala melibatkan masyarakat setempat. Selama melakukan kegiatan pelestarian lingkungan di Air Terjun Bukit Mangkol, Komunitas Pencinta Alam Bujang Squad telah menjalin kerja sama dengan beberapa pihak, antara lain Yayasan Gunung Mangkol Lestari (GML); Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangka Tengah; Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (DISBUDPARPORA) Kabupaten Bangka Tengah; PT PLN (Persero); PT Timah Tbk; Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Baturusa Cerucuk; dan, Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) ALOBI Foundation.