Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Penggunaan Aplikasi Beetalk Sebagai Alat Transaksi Seksual Dikota Makassar Yusyrifah Halid
MEDIALOG: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 4 No 1 (2021): Medialog: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UM Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/medialog.v4i1.1009

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui dan mengategorisasi (1) pola komunikasi yang digunakan dalam melakukan transaksi seksual melalui aplikasi BeeTalk ; (2) bentuk transaksi seksual yang dilakukan melalui aplikasi BeeTalk, dan (3) motivasi para pelaku menggunakan aplikasi BeeTalk untuk melakukan transaksi seksual. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di kota Makassar. Namun beberapa informan ada yang tersebar dibeberapa kota. Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer atau data utama berupa hasil wawancara dengan informan dan data sekunder atau data pendukung berupa buku, desertasi, jurnal tesis, dan internet. Informan terdiri dari enam orang. Data yang dikumpulkan berupa hasil dari wawancara dengan para informan. Data dianalisis menggunakan beberapa teori. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Pola komunikasi dalam transaksi prostitusi menggunakan aplikasi BeeTalk padaumumnya sama dengan transaksi prostitusi menggunakan aplikasi lain yang menggunakan pola komunikasi primer, sekunder dan sirkular ; (2) Praktik prostitusi tidak hanya dilakukan dengan berhubungan intim, tapi juga ada bentuk-bentuk prostitusi lain yang dilakukan secara online seperti Video Call Sex (VCS) dan Phone Sex (PS). Bahkan dalam penelitian ditemukan pula praktik penipuan berkedok prostitusi yang dilakukan secara online menggunakan aplikasi BeeTalk; (3) Landasan ekonomi, dan pemuas nafsu menjadi motivasi utama para pelaku prostitusi yang didukung oleh fitur-fitur canggih yang ada pada aplikasi BeeTalk.
Sexuality and Social Media: A Study on Digital Behavior of SMAN 10 Bombana Students Aldilal Aldilal; Ahmad Sultra Rustan; Yusyrifah Halid; Fuad Guntara
Al-Iftah: Journal of Islamic studies and society Vol. 7 No. 1 (2026): Al-Iftah: Journal of Islamic studies and society
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/aliftah.v7i1.17292

Abstract

This study aims to analyze how students express sexual meaning through the use of emojis and stickers on social media and understand the social constructs behind these practices. The research uses a qualitative approach with a descriptive design. Data was obtained through in-depth interviews and Focus Group Discussions (FGD) with students who actively use social media at SMAN 10 Bombana, Southeast Sulawesi. Data analysis is carried out through the stages of data reduction, thematic categorization, interpretation of meaning, and drawing conclusions by referring to the perspective of symbolic communication in the digital space. The results show that digital sexual expression does not appear in the form of open communication, but through the use of visual symbols such as emojis and stickers that contain implicit sexual meaning. This practice is only carried out by a small number of students, but it functions as a medium for conveying humor, emotional closeness, and negotiating adolescent identities in private communication spaces. These findings indicate that digital symbols act as an adaptive mechanism that allows adolescents to express their sexuality without directly violating applicable social norms. Theoretically, this study enriches the study of media and sexuality by showing that adolescent sexual expression in the digital space is not always explicit, but can be constructed through communication symbols that have contextual and layered meanings. This study offers a new perspective on the relationship between local culture, symbolic communication, and adolescent digital sexuality practices, while affirming the importance of developing digital literacy and sexuality education that is sensitive to socio-cultural contexts.