Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perancangan Lift Table Dalam Aktivitas Penuangan Larutan Softener Dengan Pendekatan Antropometri Untuk Mengurangi Risiko Musculoskeletal Disoders Pada After Treatment Line 2 di PT. South Pacific Viscose M. Ali Akbar; Priyo Ari Wibowo; Arif Sarjianto
Jurnal Teknologika Vol 12 No 1 (2022): Jurnal Teknologika
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Wastukancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.275 KB) | DOI: 10.51132/teknologika.v12i1.149

Abstract

Dalam proses persiapan larutan softener, yang dimulai dengan aktivitas menimbang larutan sampai dengan penuangan larutan ke bak penampungan, seluruhnya masih dengan tenaga pekerja (manual). Aktivitas manual material handling ini salah satunya adalah penuangan larutan softener pada after treatment line 2 di PT. South Pacific Viscose dilakukan tanpa menggunakan alat bantu dengan cara 2 pekerja mengangkat tong larutan seberat 114 kilogram dalam posisi punggung membungkuk. Kegiatan yang berulang dengan beban yang berat berpotensi menyebabkan timbulnya keluhan muskuloskeletal. Metode yang digunakan untuk mengevaluasi kondisi dan mengetahui level risiko adalah metode RWL (Recommended Weight Limit) dan LI (Lifting Index). Tahapan dalam perancangan alat bantu aktivitas penuangan ini terdiri dari penjabaran kebutuhan perancangan (need), pengembangan ide (idea) perancangan yang mengadopsi dan memodifikasi beberapa tahapan metode rasional, memutuskan spesifikasi perancangan (decision), penentuan dimensi alat bantu berdasarkan antropometri, pembuatan prototipe rancangan (action). Berdasarkan pengolahan data antropometri pekerja, diperoleh dimensi lebar pegangan lift table sebesar 560 mm, ketinggian pegangan lift table sebesar 1050 mm, panjang dan lebar papan landasan sebesar 800 mm, dan ketinggian maksimum papan landasan 750 mm. Dengan adanya lift table ini, mampu mengurangi risiko muskuloskeletal. Nilai LI sebelum perancangan yang dihasilkan pada hand action origin dan destination kesemuanya lebihi dari 3 yang artinya memiliki tingkat risiko tinggi, sedangkan nilai LI sesudah perancangan berkurang menjadi 1- < 3 yang artinya memiliki tingkat risiko sedang.
Analisis Efektivitas Perawatan Preventif Menggunakan OEE dan Six Big Losses Pada Mesin Simplex di PT. XYZ Adinda Rosmalia; Priyo Ari Wibowo; Rikzan Bachrul Ulum
Jupiter: Publikasi Ilmu Keteknikan Industri, Teknik Elektro dan Informatika Vol. 3 No. 4 (2025): Juli: Publikasi Ilmu Keteknikan Industri, Teknik Elektro dan Informatika
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/jupiter.v3i4.991

Abstract

This study aims to analyze the effectiveness of preventive maintenance on the Simplex machine at PT. XYZ by applying the Overall Equipment Effectiveness (OEE) method and identifying the primary causes of production losses through the Six Big Losses framework. Preventive maintenance is an important strategy to ensure machine reliability, reduce downtime, and improve production efficiency. OEE is a widely recognized performance measurement tool consisting of three key indicators: Availability, Performance, and Quality. These indicators collectively reflect the overall effectiveness of equipment in supporting the production process. The results of this study indicate that the OEE value of the Simplex machine is 79%, which remains below the world-class benchmark of 85% as recommended by the Japan Institute of Plant Maintenance (JIPM). This finding suggests that the machine’s performance has not yet reached the optimal standard and requires improvement efforts. Further analysis using the Six Big Losses approach reveals that the most significant contributors to reduced machine effectiveness are equipment failure and idling or minor stoppages. These two categories account for the majority of productivity losses, thereby affecting both machine utilization and production output. To further explore the underlying issues, a root cause analysis was conducted using a fishbone diagram, which enabled the identification of several critical factors related to human resources, methods, machines, materials, environment, and measurement systems. Based on this analysis, improvement proposals were developed through the 5W+1H method, providing a systematic strategy to enhance preventive maintenance practices. The recommended actions include scheduling more frequent inspections, improving operator training, upgrading spare parts management, and implementing stricter monitoring of machine performance. In conclusion, this study highlights the importance of continuous preventive maintenance to optimize machine productivity and reduce unplanned downtime. By adopting the proposed improvement strategies, PT. XYZ can increase the effectiveness of its Simplex machine, moving
Perancangan Lift Table Dalam Aktivitas Penuangan Larutan Softener Dengan Pendekatan Antropometri Untuk Mengurangi Risiko Musculoskeletal Disoders Pada After Treatment Line 2 di PT. South Pacific Viscose M. Ali Akbar; Priyo Ari Wibowo; Arif Sarjianto
Jurnal Teknologika Vol. 12 No. 1 (2022): Jurnal Teknologika
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Wastukancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51132/teknologika.v12i1.149

Abstract

Dalam proses persiapan larutan softener, yang dimulai dengan aktivitas menimbang larutan sampai dengan penuangan larutan ke bak penampungan, seluruhnya masih dengan tenaga pekerja (manual). Aktivitas manual material handling ini salah satunya adalah penuangan larutan softener pada after treatment line 2 di PT. South Pacific Viscose dilakukan tanpa menggunakan alat bantu dengan cara 2 pekerja mengangkat tong larutan seberat 114 kilogram dalam posisi punggung membungkuk. Kegiatan yang berulang dengan beban yang berat berpotensi menyebabkan timbulnya keluhan muskuloskeletal. Metode yang digunakan untuk mengevaluasi kondisi dan mengetahui level risiko adalah metode RWL (Recommended Weight Limit) dan LI (Lifting Index). Tahapan dalam perancangan alat bantu aktivitas penuangan ini terdiri dari penjabaran kebutuhan perancangan (need), pengembangan ide (idea) perancangan yang mengadopsi dan memodifikasi beberapa tahapan metode rasional, memutuskan spesifikasi perancangan (decision), penentuan dimensi alat bantu berdasarkan antropometri, pembuatan prototipe rancangan (action). Berdasarkan pengolahan data antropometri pekerja, diperoleh dimensi lebar pegangan lift table sebesar 560 mm, ketinggian pegangan lift table sebesar 1050 mm, panjang dan lebar papan landasan sebesar 800 mm, dan ketinggian maksimum papan landasan 750 mm. Dengan adanya lift table ini, mampu mengurangi risiko muskuloskeletal. Nilai LI sebelum perancangan yang dihasilkan pada hand action origin dan destination kesemuanya lebihi dari 3 yang artinya memiliki tingkat risiko tinggi, sedangkan nilai LI sesudah perancangan berkurang menjadi 1- < 3 yang artinya memiliki tingkat risiko sedang.