Nanik Sri Sumarni
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Beksan Wireng Mangkunagaran Tahun 1757-1987: Kajian Historis (Mangkunagaran WirengDance 1757-1987: A Historical Study) Sumarni, Nanik Sri
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 5, No 3 (2004)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v5i3.820

Abstract

Kehadiran Beksan Wireng Mangkunagaran era tahun 1757-1987 berkaitan erat dengan jiwa kepemimpinan dan perjuangan R.M. Said sebagai pendiri kadipaten. Semangat perjuangan yang terkenal dengan semboyan "Tiji Tibeh" dan Tri Darma tercermin dalam karya-karya tari, sebagian besar karya tari berbentuk wireng atau peperangan. Ada beberapa sumber tentang pengertian tari Wireng yaitu dari Serat Centhini, Serat Sastramiruda, Serat Wedataya, Serat Kridhwayangga, yang masing-masing memiliki pemahaman dan penjabaran yang berbeda. Beksan Wireng mencapai zaman keemasan pada masa pemerintahan K.G.P.A.A. Mangkunagara V. Hal ini sebagai tanda sejarah berdirinya Kadipaten, yang telah diperjuangkan oleh R.M. Said dan pengikutnya melawan VOC merupakan perang Suksesi Tanah Jawa tahun 1741-1757. Maka untuk mengenangnya lahiriah karya-karya tari dengan judul Beksan Wireng.   Kata Kunci: Beksan Wireng, Mangkunagaran, Sejarah.
WARNA, GARIS, DAN BENTUK RAGAM HIAS DALAM TATA RIAS DAN TATA BUSANA WAYANG WONG SRI WEDARI SURAKARTA SEBAGAI SARANA EKSPRESI (The Coloring, Lines and Shape of Ornamental varieties in the Costume make Up of the Sriwedari Folk Opera “Wayang Wong” of Sura Sumarni, Nanik Sri
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 3 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i3.860

Abstract

Wayang Wong Sriwedari Surakarta merupakan sebuah seni profesional yang telah lama hidup di tengah masyarakat kota Surakarta Berbagai hambatan dilalui dan beberapa lembaga telah mengelolanya sejak berdirinya pada tahun 1901 hingga sekarang. Pengaruh pola seni tradisi gaya Surakarta relarif kuat dalam seni pertunjukan ini terutama pada bentuk gerak, dialog/antawacana, tembang, tata rias dan tata busananya. Untuk mewujudkan ekspresi suatu karakter tokoh didukung pula dengan tata rias wajah, tata rias busana. Kehadiran tata rias wajah dan tata rias busananya berhubungan erat dengan pilihan seniman terhadap warna, garis dan ragam hias. Warna yang menyala, garis yang tegas ragam hias dengan corak yang besar biasanya digunakan untuk tata rias wajah dan tata rias busana bagi tokoh yang berkarakter gagah, seperti Bima. Sebaliknya warna yang lembut, garis tumpul dan ragam hias yang cenderung bermotif kecil digunakan untuk tata rias wajah dan tata busana bagi tokoh yang berkarakter halus seperti Arjuna dan sebagian besar tokoh wanita seperti Bratajaya, Durpadi. Kata kunci : Warna, Garis dan Ragam hias, Wayang Wong, Ekspresi
WARNA, GARIS, DAN BENTUK RAGAM HIAS DALAM TATA RIAS DAN TATA BUSANA WAYANG WONG SRI WEDARI SURAKARTA SEBAGAI SARANA EKSPRESI (The Coloring, Lines and Shape of Ornamental varieties in the Costume make Up of the Sriwedari Folk Opera “Wayang Wong” of Sura Sumarni, Nanik Sri
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 3 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i3.860

Abstract

Wayang Wong Sriwedari Surakarta merupakan sebuah seni profesional yang telah lama hidup di tengah masyarakat kota Surakarta Berbagai hambatan dilalui dan beberapa lembaga telah mengelolanya sejak berdirinya pada tahun 1901 hingga sekarang. Pengaruh pola seni tradisi gaya Surakarta relarif kuat dalam seni pertunjukan ini terutama pada bentuk gerak, dialog/antawacana, tembang, tata rias dan tata busananya. Untuk mewujudkan ekspresi suatu karakter tokoh didukung pula dengan tata rias wajah, tata rias busana. Kehadiran tata rias wajah dan tata rias busananya berhubungan erat dengan pilihan seniman terhadap warna, garis dan ragam hias. Warna yang menyala, garis yang tegas ragam hias dengan corak yang besar biasanya digunakan untuk tata rias wajah dan tata rias busana bagi tokoh yang berkarakter gagah, seperti Bima. Sebaliknya warna yang lembut, garis tumpul dan ragam hias yang cenderung bermotif kecil digunakan untuk tata rias wajah dan tata busana bagi tokoh yang berkarakter halus seperti Arjuna dan sebagian besar tokoh wanita seperti Bratajaya, Durpadi. Kata kunci : Warna, Garis dan Ragam hias, Wayang Wong, Ekspresi
Beksan Wireng Mangkunagaran Tahun 1757-1987: Kajian Historis (Mangkunagaran WirengDance 1757-1987: A Historical Study) Sumarni, Nanik Sri
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 5, No 3 (2004)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v5i3.820

Abstract

Kehadiran Beksan Wireng Mangkunagaran era tahun 1757-1987 berkaitan erat dengan jiwa kepemimpinan dan perjuangan R.M. Said sebagai pendiri kadipaten. Semangat perjuangan yang terkenal dengan semboyan "Tiji Tibeh" dan Tri Darma tercermin dalam karya-karya tari, sebagian besar karya tari berbentuk wireng atau peperangan. Ada beberapa sumber tentang pengertian tari Wireng yaitu dari Serat Centhini, Serat Sastramiruda, Serat Wedataya, Serat Kridhwayangga, yang masing-masing memiliki pemahaman dan penjabaran yang berbeda. Beksan Wireng mencapai zaman keemasan pada masa pemerintahan K.G.P.A.A. Mangkunagara V. Hal ini sebagai tanda sejarah berdirinya Kadipaten, yang telah diperjuangkan oleh R.M. Said dan pengikutnya melawan VOC merupakan perang Suksesi Tanah Jawa tahun 1741-1757. Maka untuk mengenangnya lahiriah karya-karya tari dengan judul Beksan Wireng.   Kata Kunci: Beksan Wireng, Mangkunagaran, Sejarah.