Etty Sumiati
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pengaruh Kultivar dan Ukuran Umbi Bibit Bawang Bombay Introduksi terhadap Pertumbuhan, Pembungaan, dan Produksi Benih Sumiati, Etty; Sumarni, Nani
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembungaan bawang Bombay memerlukan suhu rendah, 5-12°C. Di daerah tropika, untuk terjadi pembungaan, umbi benih divernalisasi pada suhu 10°C selama 2 bulan. Untuk terjadi inisiasi pembungaan suhu rendah berinteraksi dengan faktor lain di antaranya faktor genetik, umur fisiologi, dan ukuran umbi benih. Penelitian pembungaan  bawang Bombay pada kondisi agroekosistem tropika Indonesia, dilakukan di dataran tinggi Lembang, Jawa Barat, 1.250 m dpl. Penelitian bertujuan (1) mendapatkan ukuran umbi bibit yang sesuai untuk memperoleh hasil umbi, bunga, dan biji bawang Bombay introduksi yang tertinggi dan (2) mengkaji jenis serta konsentrasi giberelin alami untuk menstimulasi inisiasi pembungaan bawang Bombay introduksi. Percobaan dilaksanakan menggunakan rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama kultivar bawang Bombay introduksi yaitu kultivar No. E-537, dan No. Z-512. Anak petak ukuran umbi bibit, yaitu >40 g per umbi, 25-40 g per umbi, dan <25 g per umbi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa produksi biji total tertinggi berasal dari bawang Bombay introduksi kultivar No. Z-512 ukuran >25 g. Inisiasi pembungaan distimulasi oleh sintesis de novo giberelin alami dengan jenis dan konsentrasi bergantung pada kultivar dan ukuran umbi bibit yang digunakan. Semakin besar ukuran umbi bibit (>25 g per umbi) semakin tinggi konsentrasi giberelin alami yang dihasilkan dan semakin tinggi pula pembungaan dan hasil biji. Jenis giberelin alami yang disintesis oleh bawang Bombay kultivar No. E-537 yaitu GA3, GA7, dan GA45, dan dari kultivar No. Z-512 yaitu GA3, GA21, dan GA45. Hasil produksi umbi bawang Bombay tertinggi berasal dari kultivar No. E-537. Ukuran umbi bibit >25->40 g per umbi tidak berpengaruh terhadap produksi umbi kedua kultivar.Low air temperature of 5-12°C is needed to stimulate flower initiation of onion, while in tropical regions it can be done by vernalizing the onion mother bulbs at 10°C for 2 months. Flower initiation was stimulated by low temperature interacts with several factors, such as genetic, physiological age, and size of mother bulbs. The experiment was conducted at high altitude Lembang, Bandung 1,250 asl. The aims of this study were (1) to find out the proper size of the onion mother bulbs in order to get the highest yield of flowers, seed, and bulb, (2) to study kind of natural gibberellins and their concentrations which stimulate flower initiation of introduced onion cultivars. A split plot design with 3 replications was set up in the field. The main plot was two introduced onion cultivars i.e. cultivar No. E-537, and No. Z-512. The subplot was size of onion mother bulbs i.e. >40 g, 25-40 g, and <25 g per bulb. Research results revealed that the highest total seed yield was gained from cultivar No. Z-512 with the size of mother bulb of more than 25 g. Flower initiation was stimulated by de novo natural gibberellin with kind and concentration depend on cultivars and the size of mother bulb. The bigger mother bulb size (>25 g) the higher the concentration of natural gibberellin and the higher the flowers/umbels and seed yield produced. Kind of natural gibberellins sintesized by onion cultivar No. E-537 were GA3, GA7, and GA45, while from cultivar No. Z-512 were GA3, GA21, and GA45. The highest onion bulb yield was gained from cultivar No. E-537. The mother bulb size >25->40 g did not affect the total onion bulb yield for both cultivars.
Studi Bedengan Kompos Permanen Untuk Budidaya Kentang di Pekarangan Sumiati, Etty; Hidayat, Achmad
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Sumiati, E. dan A. Hidayat. 2000. Studi Bedengan Kompos Permanen untuk Budidaya Kentang di Pekarangan.Kebutuhan pupuk buatan/kimia untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil umbi kentang, sebagian dapat disubstitusi melaluipemanfaatan bahan limbah organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pengomposan dan efektivitas bedengan komposuntuk budidaya tanaman kentang di lahan kering. Penelitian dilakukan di dataran tinggi Samarang-Garut, Jawa Barat. Rancanganpercobaan digunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan 6 ulangan. Perlakuan pada bedengan permanen terdiri atas 4 macam for -mula, yaitu menggunakan komposisi berbagai macam campuran limbah organik, serta pupuk kandang sapi sebagai kontrol. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa bedengan permanen yang digarit dan diisi limbah organik pupuk kandang sapi 20 tha-1 ditambah NPK(15-15-15) 40 kgha-1, memberikan pertumbuhan serta hasil dan kualitas umbi kentang kultivar Gra nola yang tertinggi. Selain itu,proses dekomposisi limbah organik pupuk kandang sapi, sangat cepat yang tercermin dari nilai C/N yang terendah setelah 1 bulanterjadi proses pengomposan.Kata kunci : Solanum tuberosum L., limbah organik, pengomposan, hasil umbi.Abstract. Sumiati, E. dan A. Hidayat. 2000. Study on the permanent plot of organic waste materials for cultivation of potato onthe dry-land area. The application of several kinds of organic waste materials hopefully may support and substitute the need ofchemical fertilizers to increase the growth and yield of potato which sustainable and lower environmental pollution. Research activityhave been conducted in highland area of Samarang-Garut, West Java. A Randomized Block Design with six replication was set up inthe field. Treatments on the permanent plots comprised of mixture of several kinds of waste organic materials, including cattle manureas control. Research results revealed that the permanent plot with cattle manure of 20 tha-1 + NPK (15-15-15) 40 kgha-1, gave the bestgrowth and the highest yield of potato cultivar Granola. Moreover, the decomposition process of cattle manure was the faster whichwas identified by the lowest C/N value gained after one month of decomposition process took place.
Pertumbuhan serta Hasil Umbi Bawang Bombai yang ditanam pada Waktu Berbeda-beda di Dataran Tinggi Sumiati, Etty
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bawang bombai (Allium cepa L.) merupakan sayuran eksotik, di mana umbi untuk konsumsi dan biji untuk benihmasih diimpor. Saat ini terdapat ratusan kultivar hari pendek asal polinasi terbuka dan hibrida, yang dapat tumbuh danberadaptasi di daerah tropika. Usaha pengembangan bawang bombai di In do ne sia perlu segera dimulai, denganmenyeleksi kultivar yang dapat beradaptasi dan waktu tanam yang sesuai. Penelitian dilakukan di dataran tinggiLembang (1.250 m dpl). Digunakan rancangan Split Plot in Time dengan tiga ulangan. Petak utama adalah waktutanam, yaitu tanam bulan Agustus dan Oktober. Anak petak adalah kultivar bawang bombai yang terdiri atas 14kultivar hari pendek asal polinasi terbuka introduksi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tidak terjadi interaksiantara waktu tanam dan kultivar terhadap variabel pertumbuhan tanaman dan hasil umbi bawang bombai. Interaksiterjadi terhadap variabel indeks panen dan waktu inisiasi umbi. Empat belas kultivar introduksi dapat beradaptasi dantumbuh baik di dataran tinggi Lembang, Jawa Barat. Bobot umbi to tal yang tertinggi dihasilkan oleh kultivar GladalanBrown asal Aus tra lia. Waktu tanam bawang bombai introduksi pada bulan Agustus lebih baik dari bulan Oktober.Kata kunci : Allium cepa; Seleksi kultivar; Waktu tanam; Hasil umbiAB STRACT. Sumiati, E. 2002. Growth and yield of on ion planted in dif fer ent time in high land. On ion (Alliumcepa L.) is an ex otic veg e ta ble. Both the bulb and the seed are still im ported. There are hun dreds of short-day on ioncultivars from open pol li nated and hy brid which can grow and do nice ad ap ta tion in trop i cal re gions. At tempt to de -velop and pro mote on ion in In do ne sia must be started, by do ing a cultivar se lec tion on in tro duced on ion cultivarswhich suit able un der high land en vi ron men tal con di tions at proper plant ing time. Re search ac tiv ity has been con -ducted in high land Lembang (1,250 m asl). A Split Plot in Time was set up in the field, with three rep li ca tions. Mainplot was plant ing time con sisted plant ing in Au gust and plant ing in Oc to ber. Sub plot was cultivar, com prised of four -teen in tro duced short-day open polinated on ion cultivars. Re search re sults re vealed that there were no in ter ac tion ef -fects be tween plant ing time and cultivars on vari ables of growth and yield of on ion mea sured. In ter ac tion have beenhap pened on vari ables of har vest in dex and on the time of bulbing on set. All the four teen in tro duced cultivars havegood adptation and grow nicely un der high land Lembang, West Java. The high est to tal of bulb yield was gained fromcultivar Gladalan Brown orig i nated from Aus tra lia. The plant ing time set up in Au gust was better than that of in Oc to -ber.
Pertumbuhan dan Hasil Umbi Kentang Kultivar Granola dengan Aplikasi Mepiquat Klorida di Dataran Medium Maja, Jawa Barat Sumiati, Etty
Jurnal Hortikultura Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan konsentrasi dan jumlah aplikasi optimum xat pengatur tumbuh (ZPT) mepiquat klorida untuk memaksimalkan pertumbuhan dan hasil umbi kentang kultivar Granola yang ditanam di dataran medium Maja, Jawa Barat. Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan telah digunakan. Pemberian mepiquat klorida terdiri atas empat taraf konsentrasi, yaitu 4,6,8 ml/l diaplikasikan satu kali pada umur 42 hari setelah tanam dan yang diaplikasikan dua kali masing-masing setengah konsentrasi pada umur 35 dan 42 hari setelah tanam bibit umbi kentang dan kontrol, sehingga jumlah perlakuan ada sembilan. Hasil penelitian mengungkapkan tidak terjadi gejala fitotoksisitas klorosis, dan gejala abnormal lainnya pada tanaman kentang kultivar Granola yang disemprot laturan meiquat klorida tersebut, mepiquat  klorida konsentrasi 4 sampai 16 m/l yang diberikan satu atau dua kali mereduksi luas daun 17% sampai 37%, meningkatkan bobot umbi segar total sebesar 14% sampai 25%. Hasil bobot umbi tertinggi diperoleh dari pemberian mepiquat klorida konsentrasi 6 ml/l satu kali aplikasi pada 42 hst. Penerapan teknologi yang dihasilkan dapat menguntungkan melalui peingkatan hasil umbi kentang kultivar Granola sekitar 25% yang ditanam di dataran medium dengan pemberian ZPT yang tepat. Abstract. Research has been carried out to find out the optimal concentration and optimal number of application of plant growth regulator mepiquat cloride and to maximize both the growth and yield of potato cv. Granola at Maja medium elevation (560 m above sea level). A Randomized Block Design wit three replications was set up in the field.Treatments consisted of four levels of mepiquat chloride concentrations, viz.4,6,8, 16 ml/l which were applied once at 42 days after planting nd twice in a half dosage at 35 and 42 days after plantng, respectively, and control. Research results revealed that there was no phytotoxicity symptom, no chlorosis, and abnormality on potatoplants cv. Granola treated with mepiquat cloride at concentration of 4 to16 ml/l for both at once and at twice have reduced leaf area by 17-37%, increased total fresh weight of potato tuber by 14% to 25%; however, the highest yield of potato tuber was gained from plants treated with mepiquat chloride 6 ml/l applied at 42 days after planting. The users may get benefit trough improvement of potato yield cv Granola around 255 which is cultivated in medium elevation with proper dosage and frequency of growth regulator application.    
Studi Bedengan Kompos Permanen Untuk Budidaya Kentang di Pekarangan Sumiati, Etty; Hidayat, Achmad
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v12n4.2002.p%p

Abstract

Abstrak. Sumiati, E. dan A. Hidayat. 2000. Studi Bedengan Kompos Permanen untuk Budidaya Kentang di Pekarangan.Kebutuhan pupuk buatan/kimia untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil umbi kentang, sebagian dapat disubstitusi melaluipemanfaatan bahan limbah organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pengomposan dan efektivitas bedengan komposuntuk budidaya tanaman kentang di lahan kering. Penelitian dilakukan di dataran tinggi Samarang-Garut, Jawa Barat. Rancanganpercobaan digunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan 6 ulangan. Perlakuan pada bedengan permanen terdiri atas 4 macam for -mula, yaitu menggunakan komposisi berbagai macam campuran limbah organik, serta pupuk kandang sapi sebagai kontrol. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa bedengan permanen yang digarit dan diisi limbah organik pupuk kandang sapi 20 tha-1 ditambah NPK(15-15-15) 40 kgha-1, memberikan pertumbuhan serta hasil dan kualitas umbi kentang kultivar Gra nola yang tertinggi. Selain itu,proses dekomposisi limbah organik pupuk kandang sapi, sangat cepat yang tercermin dari nilai C/N yang terendah setelah 1 bulanterjadi proses pengomposan.Kata kunci : Solanum tuberosum L., limbah organik, pengomposan, hasil umbi.Abstract. Sumiati, E. dan A. Hidayat. 2000. Study on the permanent plot of organic waste materials for cultivation of potato onthe dry-land area. The application of several kinds of organic waste materials hopefully may support and substitute the need ofchemical fertilizers to increase the growth and yield of potato which sustainable and lower environmental pollution. Research activityhave been conducted in highland area of Samarang-Garut, West Java. A Randomized Block Design with six replication was set up inthe field. Treatments on the permanent plots comprised of mixture of several kinds of waste organic materials, including cattle manureas control. Research results revealed that the permanent plot with cattle manure of 20 tha-1 + NPK (15-15-15) 40 kgha-1, gave the bestgrowth and the highest yield of potato cultivar Granola. Moreover, the decomposition process of cattle manure was the faster whichwas identified by the lowest C/N value gained after one month of decomposition process took place.
Pertumbuhan dan Hasil Umbi Kentang Kultivar Granola dengan Aplikasi Mepiquat Klorida di Dataran Medium Maja, Jawa Barat Sumiati, Etty
Jurnal Hortikultura Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v9n1.1999.p%p

Abstract

Abstrak. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan konsentrasi dan jumlah aplikasi optimum xat pengatur tumbuh (ZPT) mepiquat klorida untuk memaksimalkan pertumbuhan dan hasil umbi kentang kultivar Granola yang ditanam di dataran medium Maja, Jawa Barat. Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan telah digunakan. Pemberian mepiquat klorida terdiri atas empat taraf konsentrasi, yaitu 4,6,8 ml/l diaplikasikan satu kali pada umur 42 hari setelah tanam dan yang diaplikasikan dua kali masing-masing setengah konsentrasi pada umur 35 dan 42 hari setelah tanam bibit umbi kentang dan kontrol, sehingga jumlah perlakuan ada sembilan. Hasil penelitian mengungkapkan tidak terjadi gejala fitotoksisitas klorosis, dan gejala abnormal lainnya pada tanaman kentang kultivar Granola yang disemprot laturan meiquat klorida tersebut, mepiquat  klorida konsentrasi 4 sampai 16 m/l yang diberikan satu atau dua kali mereduksi luas daun 17% sampai 37%, meningkatkan bobot umbi segar total sebesar 14% sampai 25%. Hasil bobot umbi tertinggi diperoleh dari pemberian mepiquat klorida konsentrasi 6 ml/l satu kali aplikasi pada 42 hst. Penerapan teknologi yang dihasilkan dapat menguntungkan melalui peingkatan hasil umbi kentang kultivar Granola sekitar 25% yang ditanam di dataran medium dengan pemberian ZPT yang tepat. Abstract. Research has been carried out to find out the optimal concentration and optimal number of application of plant growth regulator mepiquat cloride and to maximize both the growth and yield of potato cv. Granola at Maja medium elevation (560 m above sea level). A Randomized Block Design wit three replications was set up in the field.Treatments consisted of four levels of mepiquat chloride concentrations, viz.4,6,8, 16 ml/l which were applied once at 42 days after planting nd twice in a half dosage at 35 and 42 days after plantng, respectively, and control. Research results revealed that there was no phytotoxicity symptom, no chlorosis, and abnormality on potatoplants cv. Granola treated with mepiquat cloride at concentration of 4 to16 ml/l for both at once and at twice have reduced leaf area by 17-37%, increased total fresh weight of potato tuber by 14% to 25%; however, the highest yield of potato tuber was gained from plants treated with mepiquat chloride 6 ml/l applied at 42 days after planting. The users may get benefit trough improvement of potato yield cv Granola around 255 which is cultivated in medium elevation with proper dosage and frequency of growth regulator application.    
Pengaruh Kultivar dan Ukuran Umbi Bibit Bawang Bombay Introduksi terhadap Pertumbuhan, Pembungaan, dan Produksi Benih Etty Sumiati; Nani Sumarni
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n1.2006.p%p

Abstract

Pembungaan bawang Bombay memerlukan suhu rendah, 5-12°C. Di daerah tropika, untuk terjadi pembungaan, umbi benih divernalisasi pada suhu 10°C selama 2 bulan. Untuk terjadi inisiasi pembungaan suhu rendah berinteraksi dengan faktor lain di antaranya faktor genetik, umur fisiologi, dan ukuran umbi benih. Penelitian pembungaan  bawang Bombay pada kondisi agroekosistem tropika Indonesia, dilakukan di dataran tinggi Lembang, Jawa Barat, 1.250 m dpl. Penelitian bertujuan (1) mendapatkan ukuran umbi bibit yang sesuai untuk memperoleh hasil umbi, bunga, dan biji bawang Bombay introduksi yang tertinggi dan (2) mengkaji jenis serta konsentrasi giberelin alami untuk menstimulasi inisiasi pembungaan bawang Bombay introduksi. Percobaan dilaksanakan menggunakan rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama kultivar bawang Bombay introduksi yaitu kultivar No. E-537, dan No. Z-512. Anak petak ukuran umbi bibit, yaitu >40 g per umbi, 25-40 g per umbi, dan <25 g per umbi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa produksi biji total tertinggi berasal dari bawang Bombay introduksi kultivar No. Z-512 ukuran >25 g. Inisiasi pembungaan distimulasi oleh sintesis de novo giberelin alami dengan jenis dan konsentrasi bergantung pada kultivar dan ukuran umbi bibit yang digunakan. Semakin besar ukuran umbi bibit (>25 g per umbi) semakin tinggi konsentrasi giberelin alami yang dihasilkan dan semakin tinggi pula pembungaan dan hasil biji. Jenis giberelin alami yang disintesis oleh bawang Bombay kultivar No. E-537 yaitu GA3, GA7, dan GA45, dan dari kultivar No. Z-512 yaitu GA3, GA21, dan GA45. Hasil produksi umbi bawang Bombay tertinggi berasal dari kultivar No. E-537. Ukuran umbi bibit >25->40 g per umbi tidak berpengaruh terhadap produksi umbi kedua kultivar.Low air temperature of 5-12°C is needed to stimulate flower initiation of onion, while in tropical regions it can be done by vernalizing the onion mother bulbs at 10°C for 2 months. Flower initiation was stimulated by low temperature interacts with several factors, such as genetic, physiological age, and size of mother bulbs. The experiment was conducted at high altitude Lembang, Bandung 1,250 asl. The aims of this study were (1) to find out the proper size of the onion mother bulbs in order to get the highest yield of flowers, seed, and bulb, (2) to study kind of natural gibberellins and their concentrations which stimulate flower initiation of introduced onion cultivars. A split plot design with 3 replications was set up in the field. The main plot was two introduced onion cultivars i.e. cultivar No. E-537, and No. Z-512. The subplot was size of onion mother bulbs i.e. >40 g, 25-40 g, and <25 g per bulb. Research results revealed that the highest total seed yield was gained from cultivar No. Z-512 with the size of mother bulb of more than 25 g. Flower initiation was stimulated by de novo natural gibberellin with kind and concentration depend on cultivars and the size of mother bulb. The bigger mother bulb size (>25 g) the higher the concentration of natural gibberellin and the higher the flowers/umbels and seed yield produced. Kind of natural gibberellins sintesized by onion cultivar No. E-537 were GA3, GA7, and GA45, while from cultivar No. Z-512 were GA3, GA21, and GA45. The highest onion bulb yield was gained from cultivar No. E-537. The mother bulb size >25->40 g did not affect the total onion bulb yield for both cultivars.
Pertumbuhan serta Hasil Umbi Bawang Bombai yang ditanam pada Waktu Berbeda-beda di Dataran Tinggi Etty Sumiati
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v12n4.2002.p%p

Abstract

Bawang bombai (Allium cepa L.) merupakan sayuran eksotik, di mana umbi untuk konsumsi dan biji untuk benihmasih diimpor. Saat ini terdapat ratusan kultivar hari pendek asal polinasi terbuka dan hibrida, yang dapat tumbuh danberadaptasi di daerah tropika. Usaha pengembangan bawang bombai di In do ne sia perlu segera dimulai, denganmenyeleksi kultivar yang dapat beradaptasi dan waktu tanam yang sesuai. Penelitian dilakukan di dataran tinggiLembang (1.250 m dpl). Digunakan rancangan Split Plot in Time dengan tiga ulangan. Petak utama adalah waktutanam, yaitu tanam bulan Agustus dan Oktober. Anak petak adalah kultivar bawang bombai yang terdiri atas 14kultivar hari pendek asal polinasi terbuka introduksi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tidak terjadi interaksiantara waktu tanam dan kultivar terhadap variabel pertumbuhan tanaman dan hasil umbi bawang bombai. Interaksiterjadi terhadap variabel indeks panen dan waktu inisiasi umbi. Empat belas kultivar introduksi dapat beradaptasi dantumbuh baik di dataran tinggi Lembang, Jawa Barat. Bobot umbi to tal yang tertinggi dihasilkan oleh kultivar GladalanBrown asal Aus tra lia. Waktu tanam bawang bombai introduksi pada bulan Agustus lebih baik dari bulan Oktober.Kata kunci : Allium cepa; Seleksi kultivar; Waktu tanam; Hasil umbiAB STRACT. Sumiati, E. 2002. Growth and yield of on ion planted in dif fer ent time in high land. On ion (Alliumcepa L.) is an ex otic veg e ta ble. Both the bulb and the seed are still im ported. There are hun dreds of short-day on ioncultivars from open pol li nated and hy brid which can grow and do nice ad ap ta tion in trop i cal re gions. At tempt to de -velop and pro mote on ion in In do ne sia must be started, by do ing a cultivar se lec tion on in tro duced on ion cultivarswhich suit able un der high land en vi ron men tal con di tions at proper plant ing time. Re search ac tiv ity has been con -ducted in high land Lembang (1,250 m asl). A Split Plot in Time was set up in the field, with three rep li ca tions. Mainplot was plant ing time con sisted plant ing in Au gust and plant ing in Oc to ber. Sub plot was cultivar, com prised of four -teen in tro duced short-day open polinated on ion cultivars. Re search re sults re vealed that there were no in ter ac tion ef -fects be tween plant ing time and cultivars on vari ables of growth and yield of on ion mea sured. In ter ac tion have beenhap pened on vari ables of har vest in dex and on the time of bulbing on set. All the four teen in tro duced cultivars havegood adptation and grow nicely un der high land Lembang, West Java. The high est to tal of bulb yield was gained fromcultivar Gladalan Brown orig i nated from Aus tra lia. The plant ing time set up in Au gust was better than that of in Oc to -ber.