Adi Firmansyah
CARE LPPM IPB

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Urban Farming Organik di Kabupaten Bekasi Sebagai Program CSR PT. Pertamina EP Tambun Field Adi Firmansyah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep urban farming hadir di tengah upaya membangun kemandirian pangan masyarakat. Kegiatan urban farming muncul sebagai jawaban atas kegelisahan masyarakat menyikapi permasalahan keterbatasan lahan. Kajian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji perubahan perilaku pertanian setelah adanya program urban farming yang dinisiasi PT. Pertamina EP Tambun Field; (2) menganalisis kelembagaan urban farming yang dinisiasi PT. Pertamina EP Tambun Field. Kajian menggunakan pendekatan kualitatif deksriptif. Berdasarkan hasil kajian diketahui bahwa inisiasi program urban farming organik oleh Pertamina EP Tambun Field di Kabupaten Bekasi menunjukkan beberapa perubahan antara lain: (1) perubahan perilaku petani dalam teknik budidaya tanaman dari sistem pertanian konvensional menjadi organik,  (2) perubahan dalam interaksi dan relasi aktor, tata aturan, nilai, dan norma yang dibangun, dan pengelolaan sumber daya yang dimanfaatkan. Perubahan-perubahan tersebut mendorong terbangunnya kelembagaan yang berperan untuk memperkuat dan meningkatkan manfaat dari sistem pertanian organik dari aspek sosial, ekonomi, maupun ekologi. Pengorganisasian komunitas dan penerapan teknik sosial menjadi salah satu alternatif dalam rangka penguatan kelembagaan urban farming organik yang berkelanjutan.
Karawang Berseri: Program Pengembangan Masyarakat Untuk Peningkatan Keberdayaan Perempuan Dan Anak Di Kabupaten Karawang Jurnal CARE CARE; Wazirul Luthfi; Anggun Intan Permata Sari; Alya Putri Mulyani; Adi Firmansyah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT masih banyak terjadi pada banyak rumah tangga di Indonesia, baik di perkotaan maupun pedesaan, termasuk di Karawang. Atas dasar tersebut PT Pertamina EP Tambun Field menginisasi program Karawang Berseri. Kajian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis peran yang dilakukan perusahaan dalam meminimalisasi KDRT melalui Program Karawang Berseri; (2) Menganalisis dampak Program Karawang Berseri, baik dari aspek sosial, ekonomi dan ekologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data primer yang digunakan diperoleh melalui observasi lapang, dan wawancara. Data sekunder berupa laporan kegiatan dan publikasi terkait program. Waktu pelaksanan kajian pada bulan Agustus 2022. Pelaksanaan penelitian dilakukan di lokasi pelaksanaan program di Kelurahan Karawang Kulon, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang. Berdasarkan hasil kajian, program ini telah memberikan manfaat, baik dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dampak ekonomi dapat dilihat dari tambahan pendapatan yang diperoleh komunitas. Peningkatan pendapatan kelompok berasal dari hasil penjualan sampah, reseller dan budidaya hidroponik dalam kurun waktu satu tahun untuk menunjang pembiayaan penanganan perempuan dan anak korban kekerasan. Dampak sosial terlihat dari penguatan kapasitas kelembagaan satgas Karawang Berseri. Dampak lingkungan dapat dilihat dari kegiatan pengelolaan sampah melalui Sedekah Sampah yang dilakukan Kelompok Satgas Karawang Berseri. Kunci keberhasilan program ini terletak pada model pemberdayaan partisipatif baik dalam perencanaan, pelaksanaan, implementasi, maupun monitoring dan evaluasinya. Pendekatan dialog untuk membangun kesadaran pada komunitas juga menjadi pendorong keberlanjutan program Karawang Berseri. Kata kunci: CSR, Karawang Berseri, pemberdayaan masyarakat
Pesona Subang: Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pemanfaatan Serat Daun Nanas Untuk Mendukung Zero Waste Farming Jurnal CARE CARE; Wazirul Luthfi; K. Hendra Permana; Adi Firmansyah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Subang dikenal sebagai daerah penghasil nanas terbesar di Jawa Barat, atau sekitar 92% total produksi nanas Provinsi Jawa Barat. Subang memiliki lahan nanas produktif seluas 1.630 Ha dan mencatatkan hasil produksi sebesar 187.448,2 ton (BPS 2021). Besarnya produksi komoditas nanas yang dihasilkan di Subang, selain memunculkan dampak positif, juga menimbulkan dampak negatif berupa limbah daun nanas yang jumlahnya besar. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan serat daun nanas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data primer yang digunakan diperoleh melalui observasi lapang, dan wawancara. Data sekunder berupa laporan kegiatan dan publikasi terkait program. Waktu pelaksanaan kajian pada bulan Juli-Agustus 2022. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Desa Cikadu Kecamatan Cijambe. Berdasarkan hasil kajian, program ini telah memberikan manfaat, baik dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dampak ekonomi dapat dilihat dari tambahan pendapatan yang diperoleh masyarakat. Peningkatan pendapatan kelompok berasal dari hasil penjualan hasil pengolahan daun nanas. Dampak sosial terlihat dari penguatan kapasitas kelembagaan kelompok. Dampak lingkungan dapat dilihat dari jumlah limbah daun nanas yang terkelola. Kunci keberhasilan program ini terletak pada model pemberdayaan partisipatif baik dalam perencanaan, pelaksanaan, implementasi, maupun monitoring dan evaluasinya. Kata kunci: daun nanas, partisipatif, pemberdayaan masyarakat
Keanekaragaman Hayati Di Kawasan Cagar Alam Gunung Burangrang Sebagai Program Konservasi Satwa Langka Jurnal CARE CARE; Wulan Tresnasari Gantini; Adi Setiadi; Muhammad Rifky Afqari; Muhammad Rezky Fadillah; Adi Firmansyah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis primata dan jenis tanaman yang ada di Kawasan Cagar Alam Gunung Burangrang (CAGB) yang merupakan lokasi program keanekaragaman hayati PT Pertamina EP Asset 3 Tambun Field. Kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode pembuatan jalur pengamatan (Transek) untuk data primata dan metode jalur transek dan petak kuadrat untuk data vegetasi. Berdasarkan hasil studi ditemukan 5 jenis primata di Kawasan Cagar Alam Gunung Burangrang dengan jenis yang mendominasi adalah Surili (Presbytis Comata) sebanyak 52 ekor. Berdasarkan Red-list IUCN terdapat jenis dengan kategori Endangered (EN) yaitu surili (Presbytis Comata), Owa Jawa (Hylobates Moloch) dan Lutung Jawa (Trachypithecus Auratus). Sedangkan berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 247/Kpts/Um/1979 serta berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 dan tertuang dalam lampiran PP No. 7 tahun 1999, Surili adalah salah satu jenis primata endemik Jawa yang telah masuk ke dalam daftar satwa dilindungi sejak 5 April 1979. Hasil perhitungan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) dan Indeks Kemerataan (E) pada kategori pohon di wilayah ini termasuk sedang dengan angka H sebesar 1. Maka dapat dikatakan potensi regenerasi pohon yang menjadi pohon pakan primata wilayah survei cukup baik, dimana sebanyak 15 spesies (35,71%) pohon memiliki sebaran strata pertumbuhan yang lengkap mulai dari semai, pancang tiang dan pohon. Dengan kondisi ini asumsi regenerasi hutan di wilayah survei masih berlangsung baik. Kata Kunci: surili, keanekaragaman hayati, cagar alam gunung burangrang
Monitoring Keanekaragaman Tumbuhan Di Hutan Kota Ranggawulung Jurnal CARE CARE; Tiara Rahmawati; Adi Firmansyah; Widya Yulastri; Aufan Asidqi; Valianto Rojulun Afif
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan hutan kota pada dasarnya dilakukan untuk kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan. Sedangkan berdasarkan fungsinya, diharapkan hutan kota dapat memperbaiki dan menjaga iklim mikro, memiliki nilai estetika untuk kegiatan wisata masyarakat, daerah resapan air, menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Hutan Kota Ranggawulung memiliki potensi yang besar dari sektor wisata untuk pengembangan ekonomi lokal, mengingat lokasinya yang strategis dan potensi keanekaragaman yang ada. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menginventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan yang ada di Hutan Kota Ranggawulung (HKR). Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2022 dengan jumlah untuk pengambilan data tumbuhan (flora). Metode pengambilan data menggunakan metode transek garis berpetak. Analisis vegetasi pada lokasi HKR menunjukan Nilai Indeks Keanekaragaman (H’) semai dan tumbuhan bawah sebesar 3,39 dan pohon sebesar 2,97. Hasil tersebut menunjukkan kestabilan keanekaragaman flora pada semai dan tumbuhan bawah serta penurunan keanekaragaman pohon di Blok HKR. Kondisi indeks keanekaragaman hayati di Blok Buper Ranggawulung pada tahun 2022 menjadi 3,54 untuk semai dan tumbuhan bawah yang artinya meningkat dan 2,63 untuk tingkat pertumbuhan pohon yang artinya menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hasil eksplorasi menunjukkan terdapat 81 jenis yang terdapat di Blok HKR dan 71 jenis yang terdapat di Blok Buper Ranggawulung. Hasil analisis vegetasi menunjukkan secara umum terdapat 120 jenis tumbuhan di kawasan HKR. Beberapa jenis yang memiliki status konservasi penting antara lain angsana (Pterocarpus indicus) memiliki status terancam punah (Endangered), serta mahoni daun lebar (Swietenia macrophylla), dan mahoni daun kecil (Swietenia mahagoni) memiliki status Appendix II. Kata Kunci : Berkelanjutan, Keanekaragaman hayati, Hutan Kota Ranggawulung
Peran Sistem Biocyclo Farming Pada Program Kerja Tani Berdikari Dan Tahan Pangan Jurnal CARE CARE; Yulia Puspadewi Wulandari; Adi Firmansyah; Isyfi Syaufi Nafilah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama turun temurun usaha pertanian padi sawah dan budidaya komoditas hortikultura menjadi tumpuan hidup petani Desa Cidenok dan Bongas Wetan. Pengenalan biocyclo farming system ditujukan memperkenalkan masyarakat pada usaha pertanian yang berorientasi bisnis dan ramah lingkungan. Kajian ini bertujuan 1) memberikan gambaran inovasi bicyclo farming dalam program Kerja Tani Berdikari dan Tahan Pangan (Jari Tangan), 2) mengukur dampak inovasi biocyclo farming, 3) memberikan rekomendasi pengembangan program Jari Tangan. Metode analisis yang ddilakukan meliputi aspek kebaruan inovasi, core competency, status inovasi dan dampak yang diberikan. Hasil kajian menunjukkan implementasi bicyclo farming pada program jari tangan dilakukan melalui pemanfaatan limbah pertanian dan sampah rumah tangga menjadi input pertanian, optimalisasi pemanfaatan lahan kosong, pengembangan sistem pertanian berorientasi bisnis. Dampak ekonomi dari program antara lain diashilkannya beberapa produk organik yang membuka peluang tambahan bagi kelompok sebesar Rp 30,086,850. Dampak sosial program dapat diukur melalui terbentuknya kelembagaan baru, temabahan ilmu pengetahuan dan keterampilan, meningkatnya kohesivitas masyarakat. Dampak lingkungan yang dirasakan berupa pemanfaatan limbah pertanian dan sampah rumah tangga serta optimalisasi pemanfaatan lahan kosong. Kata Kunci : pertanian, biocyclo farming, Bongas Wetan, Cidenok
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Inovasi Madu Sari Alam Di Desa Tanah Datar, Muara Badak, Kutai Kartanegara Jurnal CARE CARE; Adi Firmansyah; Naomi Shinta Pasila; Husnawati Djabbar
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis dampak dari program pemberdayaan masyarakat melalui inovasi Madu Sari Alam di Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara ini bagi kehidupan masyarakat sekitar, baik dari aspek sosial, ekonomi dan ekologi. Waktu pelaksanaan kajian pada bulan Agustus-September 2022. Pelaksanaan penelitian dilakukan di lokasi pelaksanaan program di Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian ini mempergunakan metode penelitian kualitatif (deskriptif). Ada dua jenis data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Data primer yang digunakan diperoleh melalui observasi lapang, dan wawancara. Hasil kajian menunjukkan bahwa program pemberdayaan berbasis inovasi madu sari alam ternyata telah memberikan manfaat, baik dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dampak ekonomi dapat dilihat dari tambahan pendapatan yang diperoleh anggota kelompok. Peningkatan pendapatan kelompok berasal dari hasil penjualan madu, baik secara online maupun offline. Dampak sosial terlihat dari penguatan kapasitas kelembagaan kelompok, peningkatan kohesivitas kelompok dan kontribusi dalam pengurangan kemiskinan. Manfaat sosial lainnya adalah dalam hal kontribusi pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat karena penyediaan pangan sehat/madu. Dampak lingkungan dapat dilihat dari penanaman pohon sehingga mampu mengurangi emisi. Faktor keberhasilan program ini terletak pada pemberdayaan secara partisipatif baik dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Pendekatan dialog untuk membangun kesadaran pada komunitas juga menjadi pendorong kemandirian kelompok. Kata kunci: inovasi, lebah kelulut, madu sari alam