Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

OPTIMASI VORTEX WET SCRUBBER DENGAN SUSPENSI DOLOMIT UNTUK PENANGKAPAN PARTIKEL KARBON ULTRAFINE DAN POLUTAN ASAM YANG LEBIH EFISIEN Gunawan, Gunawan; Sugiantoro, Bambang; Ngisomudin, Ngisomudin; Warso, Warso; Supriyana, Nana
JURNAL CRANKSHAFT Vol 8, No 3 (2025): Jurnal Crankshaft Vol. 8 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/cra.v8i3.15565

Abstract

Pencemaran udara akibat emisi partikulat dari pembakaran sampah menjadi tantangan lingkungan yang signifikan. Penelitian ini mengembangkan sistem Vortex Wet Scrubber (VWS) berbasis larutan air dan dolomit untuk meningkatkan efisiensi pengendalian emisi gas dan partikulat halus. Uji eksperimental menunjukkan bahwa sistem ini mampu mengurangi PM10 hingga 95–98%, PM2.5 hingga 90–95%, dan PM1.0 hingga 75–85%, dengan efisiensi absorpsi gas mencapai 98% untuk SO₂ dan 90% untuk NOₓ pada kelarutan dolomit 20% (pH 9.5–10.0). Namun, 5–15% partikel karbon ringan (1 µm) masih lolos, disebabkan oleh hidrofobisitas partikel, waktu kontak yang terbatas, dan ukuran partikel yang sangat kecil. Optimasi dilakukan melalui peningkatan turbulensi, penggunaan surfaktan, dan penambahan koagulan untuk meningkatkan penyerapan karbon ringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini lebih hemat energi dibandingkan Ventury Scrubber, dengan konsumsi daya yang lebih rendah. Kombinasi teknologi VWS dengan elektrostatik atau penyemprotan ultra-halus berpotensi meningkatkan efisiensi lebih lanjut. Studi ini menawarkan solusi inovatif dalam teknologi pengendalian emisi yang ramah lingkungan, serta menjadi dasar pengembangan sistem pencucian asap yang lebih efektif untuk aplikasi industri dan perkotaan.
TEKNOLOGI PENJERNIHAN MINYAK PIROLISIS PLASTIK DENGAN METODE ULTRAFILTRASI BERBASIS TEKANAN VACUUM KAPASITAS 50 LITER/JAM Mastur, Mastur; Sutisna, Utis; Sugiantoro, Bambang; Supriyana, Nana; Warso, Warso
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i6.26892

Abstract

Abstrak: Desa Panican merupakan salah satu desa yang berkomitmen untuk pengelolaan sampah mandiri khususnya sampah plastik dengan sistem barter dengan masyarakat untuk bahan proses pirolsisis dengan kapasitas 50 kg/proses. Unit ini dikelola oleh kelompok swadaya masyarakat (KSM) Bangun Utomo. Hasil minyak pirolisis berupa minyak setara solar 60%, 20 % setara minyak tanah dan 20% setara premium. Proses penjernihan selama ini menggunakan proses mixing dengan NaOH dan metanol yang diaduk mengggunakan mixer elektrik, tetapi hasil masih keruh dan banyak mengandung partikel, proses pemisahan minyak masih menggunakan tahapan pengendapan selama 2 hari, sehingga menghambat proses produksi. Untuk meningkatkan kejernihan membutuhkan prosesiltrasi membran yang cepat. Teknologi yang diterapkan menggabungkan filtrasi membran dan vacuum dalam satu proses dengan daya listrik yang rendah yaitu 250 watt. Peningkatan pengetahuan dilaksanakan dengan workshop 8 orang operator untuk memahami sistem operasi, fungsi komponen dan pemeliharaan. Minyak pirolisis, terutama fraksi solar yang mencakup 60% dari hasil produksi, menawarkan potensi pasar yang besar sebagai bahan bakar alternatif untuk mesin diesel di sektor pertanian dan industri kecil, Dengan harga jual Rp. 8000 per liter, produk ini mampu memenuhi 40% kebutuhan energi murah di desa ini. Selain itu, peningkatan harga sebesar 15% per liter meningkatkan pendapatan mitra, untuk mendukung pemasaran dilakukan pelatihan penjualan sebanyak 4 orang yang bertugas sebagai admin baik lokal maupun online. evaluasi berupa observasi performasi mesin sesuai jenis plastik menunjukkan bahwa penggunaan solar pirolisis lebih hemat dibandingkan biosolar, dengan efisiensi 5,5% pada mesin traktor, 7,23% pada mesin pemilah sampah, dan 6,5% pada mesin pencacah plastik. Fraksi minyak setara bensin dan minyak tanah dimanfaatkan untuk produksi thinner. Keberhasilan teknologi ini memberikan peluang signifikan produksi energi alternatif yang hemat biaya dan berkelanjutan, serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi bagi mitra melalui penguatan pasar dan pendapatan.Abstract: The village of Panican is committed to independent waste management, particularly plastic waste, using a barter system with the community to gather raw materials for pyrolysis with a capacity of 50 kg per process. This unit is managed by the community self-help group (KSM) Bangun Utomo. The resulting pyrolysis oil includes diesel-equivalent oil at 60%, 20% kerosene-equivalent, and 20% gasoline-equivalent. The purification process has traditionally relied on mixing with NaOH and methanol, stirred by an electric mixer; however, the oil remains cloudy and contains numerous particulates. Oil separation still uses a two-day settling process, which slows down production. To improve clarity, a rapid membrane filtration process is needed. The technology implemented combines membrane filtration and vacuum in a single process with low electrical power, requiring only 250 watts. Knowledge enhancement was conducted through a workshop for eight operators to understand operational systems, component functions, and maintenance procedures. Pyrolysis oil, particularly the diesel fraction which comprises 60% of the production yield, offers significant market potential as an alternative fuel for diesel engines in agriculture and small industries. With a selling price of IDR 8,000 per liter, this product can fulfill 40% of the village’s demand for low-cost energy. Additionally, a 15% price increase per liter enhances partner income, and product marketing support is provided through training in local and online sales. An evaluation through machine performance observation, based on the type of plastic used, showed that pyrolysis diesel was more efficient than biodiesel, yielding 5.5% efficiency on tractors, 7.23% on waste sorting machines, and 6.5% on plastic shredders. Gasoline and kerosene-equivalent fractions are utilized for thinner production. The success of this technology offers a significant opportunity for the production of cost-effective, sustainable alternative energy, while enhancing economic well-being for partners through strengthened markets and increased revenue.
PENGOLAHAN FESES SAPI DENGAN MENERAPAN TEKNOLOGI ANAEROB DIGESTER BIOGAS SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF DAN PUPUK ORGANIK Sakuri, Sakuri; Sugiarto, Tris; Hartono, Hartono; Supriyana, Nana
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.19684

Abstract

Abstrak: Feses sapi padat dan cair belum dimanfaatkan oleh kelompok Peternak sapi. Feses sapi merupakah sumber pendapatan peternak yang dapat dikelola menjadi biogas, pupuk organik padat (POP), dan cair (POC). Pengabdian Masyarakat dilaksanakan di Kelompok ternak Terus Maju desa Kebakalan Kabupaten Kebumen Jawa Tengah dari Program Kosabangsa DRTPM Dikti Tahun 2023. Tujuan pengabdian dalam Program Kosabangsa untuk memberdayakan peternakan sapi mengelola limbah kotaran sapi menjadi biogas dan pupuk organic, mengurangi pengeluaran pembelian tabung gas, dan meningkatkan penghasilan penjualan pupuk organic. Pemberdayaan ini pada kelompok Tani Terus Jaya berjumlah 15 peternak. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, pembuatan alat biogas anaerob digester, POC dan ayakan POP, Workshop, praktikum penggunaan alat, dan metode perawatan alat. Hasil sosialisasi dan workshop menunjukan 85 % peternak antusias dan memahami tentang pengolahan limbah sapi menjadi biogas dan pupuk organik cair dan padat. 70 % peternak dapat menggunakan peralatan biogas digester dan pengolahan pupuk organik. 25 % peternak mampu merawat dan memperbaiki peralatan biogas digester dan pengayak POP. Penerapan biogas digester mampu mengefesiensikan pengeluaran 10 % bagi peternak sapi. Pembuatan POP dan POC yang dijual ke petani sebagai pupuk organik 15 % pendapatan peternak sapi.Abstract: Solid and liquid cow feces have not been utilized by cattle breeder groups. Cow feces is a source of income for farmers that can be managed into biogas, solid organic fertilizer (POP), and liquid organic fertilizer (POC). Community Service is carried out in the village of the Keep Moving Forward livestock group, Kebakalan village, Kebumen Regency, Central Java, from the Kosabangsa DRTPM Dikti Program in 2023. The aim of the service in the Kosabangsa Program is to empower cattle farms to manage cow waste into biogas and organic fertilizer, reduce expenditure on purchasing gas cylinders, and increase income from selling organic fertilizer. This empowerment was carried out by the "Terus Jaya" livestock group of 15 cattle breeders The methods used include outreach, making biogas anaerobic digesters, POC and POP sieves, workshops, practical equipment use, and equipment maintenance methods. The results of the socialization and workshop showed that 85% of farmers were enthusiastic and understood about processing cow waste into biogas and liquid and solid organic fertilizer. 70% of farmers can use biogas digester equipment and organic fertilizer processing. 25% of farmers are able to maintain and repair biogas digester and POP sieve equipment. The application of anaerobic biogas digesters to 15 farmers was able to reduce expenditures by 10% for cattle breeders. Making POP and POC which is sold to farmers as organic fertilizer accounts for 15% of cattle breeders' income.
PENERAPAN TEKNOLOGI PEMILAH SAMPAH HELIX BERSUSUN UNTUK OPTIMASI DAUR ULANG DAN KOMERSIALISASI PRODUK ECOPRINT BERBASIS PEWARNA ALAMI Sugiantoro, Bambang; Martuti, Nana Kariada Tri; Praharto, YB.; Sutisna, Utis; Supriyana, Nana; Widowati, Widowati; Sunyoto, Sunyoto
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.20115

Abstract

Abstrak: Desa Kemutug Lor, Kabupaten Banyumas, Propinsi Jawa Tengah berlokasi diarea penyangga wisata ikonik baturaden, dengan banyaknya aktifitas wisata dan pengunjung dan industry wisata harus menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan produktifitas Masyarakat. Upaya mengelola sampah dilakukan dengan memilah dengan mendirikan TPST, tetapi memiliki keterbatasan teknologi terutama proses pemilahan yang masih manual. Aktifitas ekonomi sesuai potensi wisata berupa produk unggulan yang dikembangkan berupa produk ecoprint masih terkendala model dan teknologi konvensional. Tujuan penerapan teknologi adalah untuk meningkatkan volume daur ulang sampah dan meningkatkan produktifitas produk ecoprint. Mitra kegiatan adalah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Cemerlang, pengelola sampah wisata dan usaha rumahan di bawah pengelolaan BUMDES Wanatirta Mukti yang mengembangkan produk ecoprint. Upaya peningkatan keberdayaan kelompok terhambat permasalahan utama yaitu pengetahuan SDM, kebutuhan teknologi tepat guna dan pemasaran produk. Metode yang diaplikasikan adalah penerapan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra pengelola sampah berupa optimasi pemilahan dan daur ulang, sedangkan pada usaha ecoprint diterapkan penguatan corak tulang daun, model busana dan teknologi table - steamer kain. Hasil penguatan kelompok pengelola sampah dengan mesin pemilah 4 ton/jam mampu mendaur ulang sampah sebesar 95%, dari sebelumnya hanya 35%. Produksi ecoprint mampu meningkatkan kapasitas produksinya 60%, dan variasi produknya meningkat 55%. Pemasaran dengan website mampu mempromosikan produk dan layanan penjualan secara online.Abstract: Kemutug Lor Village, Banyumas Regency, Central Java Province is located in the iconic Baturaden tourist buffer area, with many tourist activities and visitors and the tourism industry must maintain environmental cleanliness and increase community productivity. Efforts to manage waste are carried out by sorting it by establishing a TPST, but this has technological limitations, especially the sorting process which is still manual. Economic activities in accordance with tourism potential in the form of superior products developed in the form of ecoprint products are still constrained by conventional models and technology. The aim of applying technology is to increase the volume of waste recycling and increase the productivity of ecoprint products. The activity partners are the Cemerlang Community Waste Manajemen, tourism waste management and home businesses under the management of Village Enterprise Wanatirta Mukti which develops ecoprint products. Efforts to increase group empowerment are hampered by the main problems, namely knowledge of human resources, the need for appropriate technology and product marketing. The method applied is the application of technology adapted to the needs of waste management partners in the form of optimizing sorting and recycling, while in the ecoprint business, strengthening leaf bone patterns, clothing models and table - fabric steamer technology are applied. The results of strengthening the waste management group with a 4 ton/hour sorting machine were able to recycle 95% of waste, from previously only 35%. Ecoprint production was able to increase production capacity by 60%, and product variety increased by 55%. Marketing with a website is able to promote products and sales services online.