This Author published in this journals
All Journal Humaniora
Sukamti Suratidjo
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Linkage dalam Klausa Adjektival sebagai Sarana Penalaran Sukamti Suratidjo
Humaniora No 6 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.527 KB) | DOI: 10.22146/jh.1871

Abstract

Berbahasa merupakan kegiatan yang memerlukan penalaran, sebab tanpapenalaran komunikasi tidak akan berhasil dengan baik. Salah satusarana penalaran adalah pertalian makna atau linkage. Dalam bahasa Indonesia linkage berupa: urutan, seleksi, penguasa-pembatas, konstruksi relasional, dan konteks. Penulis akan membahas linkage dalam klausa adjektival sebagai sarana penalaran. Penalaran berkaitan dengan kelogisan, dan makna kalimat. Kalimat yang tidak logis sulit dipahamidan merusak makna. Oleh karena itu, makalah ini bertuiuan memberi penyelesaian terhadap masalan berbahasa yang logis.
KLAUSA TERIKAT DAN KLAUSA RELATIF Sukamti Suratidjo
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1786.944 KB) | DOI: 10.22146/jh.2086

Abstract

Nichols (1985 : 17) menjelaskan bahwa masalah klausa merupakan pendapat yang berasal dari Eropa dari bahasa eksotik, yang masih merupakan keanekaragaman pendapat mengenai kehadirannya dalam tata bahasa. Sehubungan dengan pendapat Nichols tersebut maka perlu kiranya dibahas mengenai klausa terikat dan klausa relatif dalam bahasa Indonesia. Mengapa topik mengenai klausa terikat yang menjadi fokus perhatian? Uraian berikut merupakan jawabannya. Berdasar pada pendapat Kridalaksana (I985:156) mengenai pembagian klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat, klausa terbagi atas klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klausa yang memiliki potensi untuk menjadi kalimat, sedang klausa terikat adalah klausa yang: tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat dan hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor. Satu hal yang menarik adalah pengertian terikat pada klausa, yaitu terikat pada apa? Kiranya permasalahan ini akan terpecahkan dengan mengindenifikasi klausa terikat dan melihat kehadirannya berdasarkan ciri-cirinya. Selanjutya bagian dari klausa terikat ada yang disebu t klausa relatif, Hal ini terdapat relasi yang kuat dengan klausa terikat.
STRATEGI PENGANGKATAN BAHASA NASIONAL INDONESIA DAN IRLANDIA: SUATU PERBANDINGAN Sukamti Suratidjo
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1638.359 KB) | DOI: 10.22146/jh.2160

Abstract

Pengangkatan suatu bahasa menjadi Bahasa Nasional melalui suatu strategi yaitu rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus (Pusat Bahasa, 1988: 859). Strategi pengangkatan Bahasa Nasional Indonesia dilaksanakan secara terselubung lewat budaya, sedang di Irlandia strategi dilaksanakan secara terang-terangan. Keperbedaan strategi inilah yang menjadi permasalahan untuk dibahas dalam makalah ini. Di samping itu juga banyaknya hambatan dalam menuju tujuan serta situasi kebahasaan akan menjadi perhatian juga. Dengan dipaparkannya masalah strategi pengangkatan Bahasa Nasional akan dapat diketahui betapa pentingnya Bahasa Nasional suatu negara, dan perlunya perencanaan bahasa. Dengan demikian, perencanaan bahasa perlu dilakukan untuk menunjang pembangunan nasional baik fisik maupun mental.
Pemakaian Bentuk-bentuk Kebahasaan secara "Opsional" dan Pemakaian Kata Mubazir Sukamti Suratidjo
Humaniora No 1 (1989)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2103.953 KB) | DOI: 10.22146/jh.2367

Abstract

Pemakaian bahasa secara "opsional" adalah pemakaian yang artinya bisa dipakai bisa tidak (Kridalaksana 1983:212). Istilah "opsional" dipakai untuk menamai tagmem yang hanya muncul pada beberapa kontruksi (Cook, 1969:17). Kehadiran suatu bentuk kebahasaan tidak menambah kejelasan dalam pemakaian bahasa secara opsional, sebaliknya ketidakhadiran suatu bentuk kebahasaan tidak mengurangi kejelasan informasi.