Wajidi Wajidi
Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN ISLAM DAN BUDAYA DALAM TRADISI BA-AYUN MAULID DI MASJID BANUA HALAT KABUPATEN TAPIN, KALIMANTAN SELATAN Wajidi Wajidi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 6, No 3 (2014): PATANJALA VOL. 6 NO. 3 SEPTEMBER 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.781 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v6i3.166

Abstract

AbstrakBa-ayun Maulid di Masjid Banua Halat menarik untuk dikaji karena memperlihatkan adanya hubungan antara Islam dan budaya. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan antara Islam dan budaya  pada upacara ba-ayun maulid. Kajian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui gambaran pelaksanaan upacara ba-ayun maulid di Masjid Banua Halat; (2) Mengetahui pengaruh tradisi Pra-Islam dalam upacara ba-ayun maulid di Masjid Banua Halat; (3) Mengetahui latar belakang munculnya pengaruh tradisi Pra-Islam pada upacara ba-ayun maulid di Masjid Banua Halat.  Lokasi penelitian mengambil tempat di desa  Banua Halat Kabupaten Tapin. Secara metodologis, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologis, sejarah, budaya dan keagamaan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Banua Halat dahulunya pernah dihuni komunitas pra-Islam yang tinggal cukup lama dan berlanjut sampai datangnya pengaruh Islam. Ketika Islam berkembang di wilayah ini, terjadilah interaksi Islam dengan  kepercayaan lama sebagaimana tercermin dalam upacara ba-ayun maulid. Upacara ba-ayun maulid  sebenarnya berasal tradisi lama yakni upacara bapalas bidan atau ma-ayun anak sebagai sebuah tradisi yang berlandaskan kepada kepercayaan Kaharingan. Ketika Islam masuk dan berkembang di Banua Halat, upacara bapalas bidan tidak lantas hilang dan malah mendapat pengaruh unsur Islam sebagaimana terlihat pada  upacara ba-ayun maulid yakni upacara mengayun anak sambil membaca syair maulid yang dilaksanakan bersamaan dengan perayaan maulid Nabi Besar Muhammad SAW.  AbstractBa’ayun Maulid in Banua Halat Mosque is interesting study, because  the ceremony shows the interaction between Islam and the local culture. The main problem in this research is to know the relationship between Islam and the culture in the Ba-ayun Mawlid ceremony. This study aims to: (1) Knowing the implementation overview Ba-ayun Maulid ceremony at Banua Halat Mosque; (2) Determine the influence of pre-Islamic traditions in the Ba-ayun Maulid ceremony at Banua Halat Mosque; (3) Knowing the background of the pre-Islamic tradition's effect in Ba-ayun Mawlid ceremony at Masjid  Banua Halat. Location of this research took place in the village of Halat Banua Tapin regency. This research used descriptive-qualitative and multidimensional approaches , which consists of anthropological, historical, cultural and religious perspective. The results of this study indicate that the Banua Halat  village was once inhabited pre-Islamic community. The community settled in a long periods until the advent of Islamic influence. When Islam developed in this region, there was interaction between Islam with the old religion as reflected in the Ba-ayun Maulid  ceremony. The Ba-ayun Maulid ceremony that held at Banua Halat Mosque remnants of the old religion  is still there, but has been acculturated to Islam. The ceremony is originated by the old tradition, Bapalas bidan or ma-ayun anak  as the tradition based on the Kaharingan belief. When Islam came and develop in Banua Halat, the Bapalas bidan ceremony is not  vanished, hence it got the Islam influence as reflected in Ba-ayun Maulid ceremony, in the process of Ma-ayun anak while reciting maulid verse, together with the celebration of Maulid of Profet Muhammad SAW.
EKSISTENSI PARTAI INDONESIA RAYA (PARINDRA) DI KALIMANTAN SELATAN, 1935-1942 Wajidi Wajidi
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 7, No 1 (2015): PATANJALA VOL. 7 NO. 1 MARCH 2015
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1970.912 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v7i1.80

Abstract

AbstrakParindra merupakan organisasi pergerakan berpusat di Jawa yang mempunyai cabang organisasi di Kalimantan Selatan. Peranannya di Kalimantan Selatan belum banyak dipublikasikan. Atas dasar alasan itulah, maka kajian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui persebaran organisasi Parindra di Kalimantan Selatan; (2) mengetahui perjuangan Parindra di Kalimantan Selatan; (3) mengetahui tindakan Pemerintah Hindia Belanda terhadap Parindra di Kalimantan Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah (historical research) dengan menggunakan sebagian besar data primer yakni memoar para pelaku sejarah dari anggota perintis kemerdekaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa asal mula Parindra di Kalimantan Selatan adalah organisasi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) yang dibentuk pada tahun 1930. Karena berfusinya PBI dengan Budi Utomo dan organisasi lainnya di pulau Jawa menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra) di tahun 1935 maka dengan sendirinya PBI di Kalimantan Selatan menjadi Parindra. Perjuangan Parindra di Kalimantan Selatan di antaranya: duduk dalam keanggotaan dewan legislatif (Raad), mendirikan Rukun Tani, Koperasi, Rukun Pelayaran Indonesia (Roepelin), dan Lumbung Padi, Mendirikan organisasi Keputrian, Kepanduan Surya Wirawan, dan Sekolah Parindra, menulis artikel politik dan mengeluarkan mosi menentang peraturan kerja paksa (erakan, rodi). Pemerintah Hindia Belanda menghadapi perjuangan Parindra dengan cara melakukan tindakan pengawasan, pelarangan, dan pembubaran rapat serta penangkapan dan pemenjaraan aktivis Parindra di Kalimantan Selatan. AbstractParindra is a Java-based movement organizations that have branch organization in South Kalimantan. Its role in South Kalimantan has not been widely publicized. Based on that reasons, the study aims are to: (1) determine the distribution of Parindra organization in South Kalimantan; (2) determine Parindra struggle in South Kalimantan; (3) determine the action of Dutch East Indies government against Parindra in South Kalimantan. This research is the historical research by using most of the primary data that the perpetrators of historical memoirs of pioneering independence members. The results show that the origin of Parindra in South Kalimantan is the organization Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) was formed in 1930. Since the fusion of PBI with Budi Utomo and other organizations on the island of Java, Indonesia Raya became a Party (Parindra) in 1935 then by itself PBI in South Kalimantan into Parindra. Parindra struggle in South Kalimantan include: sitting in the membership of the legislative council (Raad), established the Pillars of Farmers, cooperatives, Pillars Shipping Indonesia (Roepelin), and Lumbung Padi, Establishing keputrian organization, Scouting Surya Wirawan, and School Parindra, write political articles and issued a motion against the labor regulations (erakan, forced labor). Dutch East Indies government facing Parindra movement with perform acts of supervision, prohibition and dissolution of the meeting as well as the arrest and imprisonment of activists Parindra in South Kalimantan.