Abdul Hafid
Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SISTEM KEPERCAYAAN PADA KOMUNITAS ADAT KAJANG DESA TANAH TOWA KECAMATAN KAJANG KABUPATEN BULUKUMBA Abdul Hafid
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 5, No 1 (2013): PATANJALA VOL. 5 NO. 1 MARCH 2013
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.56 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v5i1.150

Abstract

AbstrakTulisan ini mendeskripsikan sistem kepercayaan asli komunitas adat Kajang yang dikenal dengan istilah Patuntung yang bersumber dari kepercayaan leluhur bercirikan animisme dan dinamisme. Pada awalnya sistem kepercayaan Patuntung adalah sebuah agama adat, berasal dari kata tuntungi berarti sumber kebenaran. Kepercayaan Patuntung pada dasarnya memiliki keyakinan dan pandangan tentang Tuhan (Turi’e A’ra’na), alam dan manusia. Dalam praktiknya, ajaran Patuntung yang mengkiblatkan diri pada Pasang ri Kajang yaitu pesan-pesan, firman, wasiat, amanat dari Sang Pencipta. Seluruh interaksi dalam kehidupan komunitas adat Kajang mengharuskan pola hidup yang sederhana (tallasa kamase-masea), menghindari sikap berlebih-lebihan, memperlakukan makhluk-makhluk di sekelilingnya dengan bersahaja, dan apa adanya. Isi Pasang ri Kajang merupakan himpunan dari sejumlah sistem kehidupan, meliputi sistem kepercayaan, sistem ritus dan sejumlah norma sosial, yang sarat dengan pesan-pesan moral yang luhur dan ajaran-ajaran kebijaksanaan. Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan sistem kepercayaan komunitas adat Kajang yang tertuang dalam Pasang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tanah Towa, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi-Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik pengamatan dan wawancara kepada beberapa tokoh masyarakat dan warga komunitas adat. AbstractThis paper describes the belief system of indigenous peoples of Kajang known as Patuntung which is derived from ancestral beliefs characterized by animism and dynamism. At first Patuntung belief system is an indigenous religion, derived from the word tuntungi which means source of truth. Belief system of Patuntung basically has a belief and view of God (Turi'e A'ra'na), mother nature and humankind. In practice the teachings of Patuntung direct itself to Pasang ri Kajang namely messages and words from the Creator. The whole interaction in the lives of indigenous community of Kajang requires a simple lifestyle (tallasa kamase-masea), avoiding exaggerated attitude, and being gentle to every creature around him. The contents of Pasang ri Kajang are a set of living systems, including the system of beliefs, rites and a system of social norms, which are laden with messages of morality and wisdom teachings. The purpose of this study is to reveal the belief systems of indigenous community of Kajang that is contained in the Pasang. This research was conducted in the village of Tanah Towa, Bulukumba, the Province of South Sulawesi. The author conducted a qualitative-descriptive method. Data were collected through observation and interview to several community leaders and the members of the community as well. 
UPACARA TRADISIONAL MASSORONG LOPI DI DESA TAPANGO KABUPATEN POLMAN PROVINSI SULAWESI BARAT Abdul Hafid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.826 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.80

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang tradisi ritual upacara massorong lopi yang dilakukan pada masyarakat di Desa Tapango Kabupaten Polman Provinsi Sulawesi Barat.Tulisan ini bersifat deskriptif – kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi (yaitu pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap berbagai aktivitas dan perilaku pada masyarakat Tapango), wawancara mendalam terhadap tokoh masyarakat, budayawan, pelaku ritual dan pemerintah setempat, dan dokumentasi. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa tradisi ritual ini merupakan warisan nenek moyang terdahulu yang diyakini sebagai pencucian diri atau tolak bala’ dari berbagai gangguan bencana alam, baik gangguan tanaman, gangguan di sungai maupun gangguan wabah penyakit yang dapat membahayakan kehidupan masyarakat.Tradisi ritual ini dipimpin oleh sando banua (dukun kampung) dan dihadiri oleh seluruh warga Desa Tapango dan sekitarnya, serta pemerintah setempat. Waktu pelaksanaan upacara massorong lopiini, dilakukan pada bulan syafar (berdasarkan kelender Hijriah) dan tempat pelaksanaannya yaitu di tepi sungai dalam wilayah Desa Tapango, dengan membawa bersama-sama berbagai jenis sesajen.Dan hingga saat ini kegiatan tradisi ritual massorong lopi masih dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat pendukungnya yang bermukim di Desa Tapango dan masyarakat Mandar pada umumnya.