Arie Setyaningrum Pamungkas
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Review Buku: Understanding Digital Humanities Arie Setyaningrum Pamungkas
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 3, No 1 (2016): Menggagas Kajian Digital Humanities di Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.046 KB) | DOI: 10.22146/jps.v3i1.23529

Abstract

Artikel ini adalah sebuah review yang merupakan pembacaan secara kritis buku panduan (handbook) berjudul Undesrtanding Digital Humanities mengenai kajian humaniora digital yang diedit oleh David M Berry pada tahun 2012. Dalam review ini selain dibahas resensi isi buku dan muatan tematik yang digagasnya, juga menyajikan perdebatan kritis mengenai pembuatan konsep Digital Humanities sebagai paradigma baru kajian sosial humaniora. Perdebatan ini meliputi Digital Humanities sebagai suatu konsep metodologis maupun secara praxis yang berkembang di masyarakat seiring perkembangan teknologi. Dengan menggunakan pendekatan analisis isi dan analisis wacana, tujuan dari review buku ini adalah memeberikan pemaparan gagasan mengenai 'kajian humaniora digital' dan sekaligus pemahaman secara kritis atas implikasi sosiologis yang diakibatkannya.
Aksi Bela Islam dan Ruang Publik Muslim: Dari Representasi Daring ke Komunitas Luring Arie Setyaningrum Pamungkas; Gita Octaviani
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 4, No 2 (2017): Merangkai Kebhinnekaan Indonesia
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1937.07 KB) | DOI: 10.22146/jps.v4i2.28581

Abstract

Narasi bergerak mengenai Islam dimungkinkan karena media moderen mempengaruhi landskap budaya dan politik kehidupan kaum Muslim sehari-harinya. Kasus ‘Aksi Bela Islam’ pada tahun 2016 menuntut Gubernur DKI Jakarta, Basuki Cahaya Purnama, atau yang biasa dikenal dengan nama Ahok, dipenjara karena dianggap telah menista Islam. Kasus ini menunjukkan bahwa para penyelenggara aksi telah berhasil memobilisasi dukungan massa melalui kampanye di media sosial. Kajian ini melacak bagaimana strategi melalui mediatisasi dakwah (propaganda yang mengatasnamakan Islam) dilakukan dalam Aksi Bela Islam dengan mengeksplorasi representasi online ‘daring’ (dalam jaringan) di media sosial sepeti Facebook, Instagram, dan aplikasi pesan personal WhatsApp, sehingga menunjukkan suatu lokasi pada ruang yang disebut sebagai ‘Publik Muslim’. Kemampuan media sosial untuk memungkinkan komunikasi interaktif secara khusus menempatkan ‘narasi bergerak’ tentang keshalehan kaum Muslim urban di Indonesia. Studi etnografi juga dilakukan untuk melihat bagaimana komunitas offline – luring (luar jaringan) yang memiliki akses internet terbatas mendukung gagasan ‘membela Islam’ di Indonesia. Dengan mengkaji baik representasi ‘daring’ maupun observasi komunitas ‘luring’, kajian ini ditujukan untuk menganalisis bagaimana media sosial dimanfaatkan untuk mengkonstruksi strategi dakwah dan politik moralitas publik yang mengutamakan kode-kode dan etika keshalehan dalam Islam di Indonesia saat ini.