Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Genealogi Kuasa dalam Kebijakan Pengembangan Pertanian Organik di “Wilayah Pardikan” Jawa Ronny Ersya Novianto Putra; Hempri Suyatna
Jurnal Pemikiran Sosiologi Vol 5, No 1 (2018): Dimensi Kesejahteraan Dalam Perspektif Sosiologi Kritis
Publisher : Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.699 KB) | DOI: 10.22146/jps.v5i1.35403

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah: (1) menggambarkan dan mendialektikakan dinamika dan relasi kepentingan aktor dalam pengembangan pertanian organic; (2) mengidentifikasi aktor yang diuntungkan dan dirugikan dalam pengembangan pertanian organik. Metode penelitian kualitatif untuk pembangunan dilakukan dalam penelitian ini. Pengumpulan data menggunakan observasi lapangan, wawancara dan dokumentasi melalui informan para aktor penggerak yang terlibat pertanian organik di suatu wilayah tertentu. Penelitian dilakukan di suatu wilayah di Jawa yang disebut sebagai “Wilayah Pardikan” (bukan nama sebenarnya) – suatu nama samaran untuk kepentingan menjaga kerahasiaan para informan yang terlibat dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan genealogi kuasa (kuasa wacana) telah memungkinkan penguasa untuk mendominasi pengembangan pertanian organik sehingga belum efektif memberikan peningkatan kesejahteraan serta akses terhadap produktivitas petani. Faktanya sejak tahapan perencanaan sampai dengan implementasi kepentingan penguasa dan aktor penggerak mendominasi arena kebijakan pengembangan pertanian organik. Klaim dan pencitraan keberhasilan pengembangan pertanian organik merupakan rekayasa yang lahir dari kepentingan dialektis aktor atas dinamika relasi kuasa (menurut perspektif Foucauldian). Genealogi kuasa yang diterapkan dalam kasus ini hanya menghasilkan pihak-pihak tertentu yang diuntungkan. Yaitu pihak yang memiliki ruang jaringan wacana (normalizing judgment) yang kuat untuk mempengaruhi pihak lain. Ironisnya petani menjadi pihak yang dirugikan dalam pengembangan pertanian organik karena hanya menjadi obyek pembangunan pertanian.
Pemetaan Kerentanan Pekerja Anak Sebagai Perajin Batik Dalam Mewujudkan Potensi Diri Secara Penuh Di Trembono Tegalrejo Gedangsari Gunungkidul Dyah Harumming Kinanthi; Hempri Suyatna
Jurnal Masyarakat dan Desa Vol 4 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Pembangunan Masyarakat Desa (D3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47431/jmd.v4i2.487

Abstract

Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021 melaporkan  sebanyak 2,2 juta anak di Indonesia terlibat dalam pekerjaan. Keberadaan pekerja anak membutuhkan perhatian yang lebih untuk penanganan resiko yang dihadapi seperti kekerasan verbal dan non verbal. Padukuhan Trembono Kalurahan Tegalrejo Kapanewon Gedangsari merupakan wilayah sentra kerajinan batik di Gunung Kidul  yang sebagian warganya termasuk anak anak terlibat dalam usaha tersebut. Perlindungan dan jaminan serta komitmen bersama dibutuhkan untuk mendukung terlaksananya pemenuhan hak dan kebutuhan dasar bagi pekerja anak. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kerentanan pada pekerja anak. Pendekatan studi kasus dengan pendalaman data kualitatif digunakan dalam mengumpulkan data primer untuk dianalisis. Hasil penelitian ditemukan adanya kerentanan yang berlanjut pada pekerja anak sebagai perajin batik.  Pemetaan kerentanan pekerja anak yang berlanjut  diantaranya pada kepercayaan diri, kapasitas literasi , dan kesehatan fisik . Temuan penelitian ini diharapkan berguna dalam mendorong akses kesetaraan pada pekerja anak agar pekerja anak dapat mewujudkan potensi dirinya secara penuh
Pengaruh Nilai Keagamaan, Sosial, dan Budaya dalam Pengembangan Usaha Batik: Studi pada Pengusaha Batik Keturunan Hadramaut Arinal Karima; Hempri Suyatna
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 1 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.11604

Abstract

Sebagai masyarakat pendatang dari Hadramaut, Yaman Selatan, banyak hal menarik yang dapat dilihat dan ditelusuri pada pengusaha batik keturunan Hadramaut. Beberapa dari mereka sudah mempunyai nama besar di kota Pekalongan, bahkan sudah mampu membuka cabang di berbagai wilayah di Indonesia. Salah seorang pengusaha batik juga mendapatkan penghargaan atas kontribusinya dalam mempekerjakan orang-orang disabilitas. Selain itu, produk batik mereka mampu menembus pasar internasional di berbagai negara. Fakta-fakta tersebut tidak lepas dari nilai-nilai yang mereka anut dalam hidupnya sebagai prinsip dalam berbisnis. Kajian ini berupaya melihat implikasi dari nilai-nilai yang terkadung dalam nilai-nilai keagamaan, sosial, dan budaya pada pengembangan usaha batik keturunan Hadramaut. Terkait dengan hal ini terdapat tujuh informan yang diwawancarai dan ditemukan bahwa ada implikasi nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya dalam pengembangan usaha batik, terutama dalam hal permodalan, produksi, akses pasar, kemitraan serta kreativitas. Nilai keagamaan terlihat paling menonjol pada bagian permodalan, kemitraan, dan kreativitas. Nilai sosial ditemukan pada bagian produksi dan kemitraan. Terakhir, nilai budaya terlihat paling menonjol pada bagian permodalan, produksi, akses pasar, dan kemitraan.
Pengaruh Nilai Keagamaan, Sosial, dan Budaya dalam Pengembangan Usaha Batik: Studi pada Pengusaha Batik Keturunan Hadramaut Arinal Karima; Hempri Suyatna
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 1 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.11604

Abstract

Sebagai masyarakat pendatang dari Hadramaut, Yaman Selatan, banyak hal menarik yang dapat dilihat dan ditelusuri pada pengusaha batik keturunan Hadramaut. Beberapa dari mereka sudah mempunyai nama besar di kota Pekalongan, bahkan sudah mampu membuka cabang di berbagai wilayah di Indonesia. Salah seorang pengusaha batik juga mendapatkan penghargaan atas kontribusinya dalam mempekerjakan orang-orang disabilitas. Selain itu, produk batik mereka mampu menembus pasar internasional di berbagai negara. Fakta-fakta tersebut tidak lepas dari nilai-nilai yang mereka anut dalam hidupnya sebagai prinsip dalam berbisnis. Kajian ini berupaya melihat implikasi dari nilai-nilai yang terkadung dalam nilai-nilai keagamaan, sosial, dan budaya pada pengembangan usaha batik keturunan Hadramaut. Terkait dengan hal ini terdapat tujuh informan yang diwawancarai dan ditemukan bahwa ada implikasi nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya dalam pengembangan usaha batik, terutama dalam hal permodalan, produksi, akses pasar, kemitraan serta kreativitas. Nilai keagamaan terlihat paling menonjol pada bagian permodalan, kemitraan, dan kreativitas. Nilai sosial ditemukan pada bagian produksi dan kemitraan. Terakhir, nilai budaya terlihat paling menonjol pada bagian permodalan, produksi, akses pasar, dan kemitraan.
Institusionalisasi Program Green Entrepreneurship: Program SAMADE Kabupaten Kampar Riau Irham Dani; Hempri Suyatna
REFORMASI Vol 16, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v16i1.8234

Abstract

Economic vulnerability and ecological pressures resulting from the dominance of oil palm plantations have led to dependence on a single commodity, low levels of farmer innovation and entrepreneurial capacity, and environmentally damaging conventional agricultural practices. This study aims to describe the dynamics and inter-actor relationships in the process of developing the institutionalization of the SAMADE Program in Kampar Regency, Riau Province. The study employs a qualitative method with a phenomenological approach, using in-depth interviews, participatory observation, and documentation studies involving various actors, including farmers, agricultural extension officers, local government officials, and financial institutions. A total of 18 informants participated in this study. The findings reveal that the institutionalization process of the SAMADE Program evolves dynamically through seven stages: initial contact, awareness, understanding, trial, adoption, institutionalization, and the internalization of green entrepreneurship values. Agricultural extension officers play a pivotal role at each stage, acting as key facilitators and mentors in the implementation of sustainable agricultural practices. The main supporting factors for program success include community solidarity, pro-environmental local government policies, and partnerships with financial institutions. Meanwhile, constraints arise in the form of limited capital, entrenched conventional farming cultures, and restricted access to technology.Kerentanan ekonomi dan tekanan ekologis akibat dominasi perkebunan kelapa sawit yang menimbulkan ketergantungan pada satu komoditas, rendahnya inovasi dan kapasitas kewirausahaan petani, serta praktik pertanian konvensional yang merusak lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dinamika dan relasi antaraktor dalam proses pengembangan institusionalisasi Program SAMADE di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan fenomenologi dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap berbagai aktor, antara lain petani, penyuluh, pemerintah daerah, serta lembaga keuangan. Jumlah informan yang dilibatkan dalam penelitian ini sebanyak 18 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses institusionalisasi Program SAMADE berlangsung secara dinamis melalui tujuh tahap: kontak awal, kesadaran, pemahaman, uji coba, adopsi, dan pelembagaan hingga internalisasi nilai green entrepreneurship. Peran penyuluh pertanian menjadi kunci dalam setiap tahap, berfungsi sebagai fasilitator dan pendamping utama dalam penerapan praktik pertanian berkelanjutan. Faktor pendukung utama keberhasilan program meliputi solidaritas komunitas, dukungan kebijakan pemerintah daerah yang pro-lingkungan, dan kemitraan dengan lembaga keuangan. Sementara itu, hambatan muncul dalam bentuk keterbatasan modal, budaya bertani konvensional yang sulit diubah, serta keterbatasan teknologi.