p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Majalah Farmaseutik
Novianti Fatli Azizah
Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Farmakoekonomi (Cost Effectiveness Analysis) Penggunaan Terapi Infus Imunoglobulin Intravena (IVIG) Pada Kasus Coronary Virus Disease (Covid-19) Issaura Issaura; Novianti Fatli Azizah; Renny Nurul Faizah; Ika Putri Jami'atusholihah; Shafinaz Nabila Rahmania
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71903

Abstract

Imunoglobulin Intravena (IV IG) merupakan produk derivatif plasma pendonor yang dapat memberikan proteksi imun secara pasif terhadap berbagai macam patogen. Pada infeksi Covid-19 yang berat, pemberian terapi infus IV IG dapat mengurangi respon inflamasi, antibodi autoreaktif yang mengikat sitokine dan domain variabel antibodi lain (antibodi anti-idiotipik). Selain itu, kehadiran dimer IgG pada IV IG dapat memblokir pengaktifan FcγR pada sel efektor imun. Tujuan untuk menganalisis Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Length of Stay (LOS) penggunaan terapi IV IG sebagai penilaian terhadap urgensitas pemberian terapi IV IG pada pasien COVID-19. Penelitian ditinjau dari perspektif rumah sakit sebagai penyedia layanan kesehatan, menggunakan Total Medical Cost dengan efektifitas LOS pasien. Disajikan dengan analisis deskriptif dan analisa farmakoekonomi efektifitas biaya yang dikerjakan secara retrospektif, pada periode waktu 3 bulan (Juni- Agustus 2020) di Instalasi Rawat Inap Intensive Care Unit (ICU) Isolasi Mawar Merah Putih RSUD Kabupaten Sidoarjo. Didapatkan jumlah sampel yang masuk kriteria inklusi 38 pasien. Kelompok pasien tanpa pemberian IV IG (25 pasien) lebih cost effective dibanding kelompok dengan pemberian IV IG, yaitu lebih menghemat Rp. 2.510.741 dengan LOS ICU 11 hari dibanding IV IG merk Gamaras® (4 pasien), dan lebih menghemat Rp 3.702.561 dengan LOS ICU 6 hari dibanding IV IG merk Intratect® (9 pasein). Dengan uji statistik tanpa pemberian IVIG dengan IVIG merk Gamaras® dan Intratect® menunjukkan LOS tidak bermakna (sig>0,05) dan ACER yang berbeda bermakna (sig
Efektifitas Penggunaan Enoxaparin dan Fondaparinux Sebagai Antikoagulan Pada Pasien Covid-19 di RSUD Sidoarjo Novianti Fatli Azizah; Renny Nurul Faizah; Digna primasanti; Ikrimatul Khuluqiyah Prihantini; Imanda Gita Romadhian
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71913

Abstract

Covid-19 merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh coronavirus tipe baru. Tidak hanya menyebabkan pneumonia viral, SARS-CoV-2 juga memiliki dampak terhadap sistem kardiovaskular. Sebanyak 16-49% kasus severe Covid-19 ditemukan memiliki komplikasi trombotik, yang ditandai dengan peningkatan nilai d-dimer, fibrinogen, pemanjangan waktu prothrombin, dan trombositopenia. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunan obat Enoxaparin dan Fondaparinux sebagai antikoagulan pada pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo. Desain penelitian yang digunakan adalah Observasional yang bersifat retrospektif pada pasien rawat inap Covid-19 selama pada Bulan Mei - Agustus 2020, dimana subyek terbagi dalam 3 kelompok pasien yang mendapat terapi antikoagualan injeksi sub-cutan. Masingmasing kelompok diukur kadar d-dimer sebelum dan sesudah pemberian antikoagulan. Pada kelompok 1 (pasien mendapat terapi Enoxaparin 1x injeksi per-hari) dengan rata-rata penggunaan antikoagulan selama 5,5 hari, dimana penurunan kadar d-dimer tidak signifikan. Kelompok 2 (pasien mendapat terapi Enoxaparin 2x injeksi per-hari), rata-rata penggunaan antikoagulan 5,6 hari dengan rata-rata penurunan d-dimer sebesar 1596 µg/l. Pada kelompok 3 (pasien mendapat terapi Fondaparinux 1x injeksi per-hari), rata-rata penggunaan antikoagulan 3,5 hari, dengan rata-rata penurunan d-dimer sebesar 1630 µg/l. ada perbedaan bermakna dari nilai d-dimer sebelum dan sesudah pemberian Enoxaparin 2x sehari dan Fondaparinux 1x sehari. Berdasarkan hasil statistik, diketahui bahwa kelompok pemberian antikoagulan terbaik dalam menurunkan nilai d-dimer adalah kelompok 3 (Fondaparinux).
Perbedaan Efektifitas Terapi Eritropoetin Alfa dan Beta Pada Pasien Hemodialisis Reguler di RSUD Sidoarjo Renny Nurul Faizah; Novianti Fatli Azizah; Hari Purwoko
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i1.71914

Abstract

Erythropoietin adalah langkah terakhir dalam pengobatan anemia yang disebabkan oleh penyakit ginjal kronis. Ada beberapa pilihan untuk eritropoietin rekombinan, yaitu eritropoietin alfa dan eritropoietin beta. Erythropoietin alfa dan beta adalah dua bentuk rhEPO yang memiliki urutan asam amino yang sama tetapi berbeda dalam rantai glikosilasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas eritropoietin alfa dan eritropoietin beta dengan mengamati peningkatan kadar hemoglobin pasien. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain pre-post-test pada 2 kelompok pasien yang mendapat terapi eritropoietin di Unit Hemodialisis. RSUD Sidoarjo periode September-Oktober 2019. Setiap kelompok diukur kadar Hbnya sebelum dan sesudah pemberian eritropoietin selama 1 bulan. Terdapat 52 responden yang memenuhi kriteria inklusi, dimana 29 pasien pada kelompok eritropoietin alfa dan 23 pasien pada kelompok eritropoietin beta. Rata-rata peningkatan Hb subjek yang menggunakan eritropoietin beta lebih besar daripada eritropoietin alfa. Berdasarkan uji statistik diperoleh nilai p=0,049 (p<0,05), artinya ada perbedaan yang signifikan antara perbedaan kadar Hb setelah eritropoietin alfa (0,02g/dl) dan eritropoietin beta (0,48g/dl ) dan tidak ada reaksi obat yang tidak diinginkan dari kedua kelompok penelitian.