Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Karakterisasi dan Klasifikasi Numerik Khamir dari Madu Hutan Sulawesi Tengah Meilia Prihartini; Miftahul Ilmi
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.662 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v2i2.41

Abstract

Khamir merupakan fungi uniseluler yang memiliki habitat hidup di hampir semua tempat seperti wilayah akuatik, daratan, dan udara termasuk dalam makanan. Madu merupakan salah satu makanan dengan kandungan gula tinggi dan aktivitas air (aw) yang rendah. Madu hutan Sulawesi Tengah merupakan salah satu jenis madu asal Indonesia yang dihasilkan oleh lebah madu Apis dorsata. Madu mengandung mikroorganisme, terutama khamir, yang berasal dari nektar yang dihisap oleh lebah madu. Penelitian karakterisasi dan klasifikasi khamir dalam madu hutan Sulawesi Tengah dilakukan untuk memperoleh informasi mengenaikeragaman isolat khamir dalam madu hutan dan untuk mengetahui karakteristikisolat khamir dalam madu hutan Sulawesi Tengah. Khamir diisolasi dari sampel madu hutan menggunakan medium Bean Sprouts Extract Agar (BSEA). Isolat dikarakterisasi meliputi uji karakter morfologi koloni, morfologi sel, dan uji karakter fisiologi-biokimia. Masing-masing karakter yang diuji dikodekan dengan1 apabila hasil positif dan 0 apabila negatif dan dibuat matriks n × t. Data dianalisisdengan metode taksonomi numerik dengan tingkat kemiripan ditentukan menggunakan Jaccard coefficient (SJ) dan Simple Matching coefficient (SSM). Sementara pengelompokkan (clustering)digunakan metode UPGMA. Data diolah menggunakan program MVSP dan disajikan dalam bentuk dendrogram. Dari 11sampel madu hutan berhasil diisolasi 27 jenis khamir yang dikelompokkan menjadi 6 genus dan 1 outlier berdasarkan nilai indeks kesamaan ≥ 70% menunjukkan keragaman yang rendah. Karakteristik isolat khamir dalam madu hutan Sulawesi Tengah yaitu merupakan khamir Ascogenous yang bersifat osmofilik, mampu mengasimilasi 8 jenis karbon, tumbuh pada suhu 37°C, memfermentasi glukosa, non-fermentatif terhadap galaktosa, laktosa, dan sukrosa, serta mengasimilasi nitrogen khususnya KNO3.
Analisis Numerik Khamir dari Nektar Bunga Kebun Raya Baturraden dan Panggeran Hargobinangun Chris Elian Beryl Setiady; Miftahul Ilmi
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.446 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v2i2.43

Abstract

Khamir pada nektar bunga masih belum banyak diteliti di Indonesia. Padahal keragaman tanaman di Indonesia sangat tinggi karena letak geografis dan iklimnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan kekerabatan khamir pada nektar bunga melalui pendekatan taksonomi numerik. Metode yang dilakukan adalah mengisolasi khamir dari nektar bunga di Kebun Raya Baturraden dan Padukuhan Panggeran, Hargobinangun. Hasil isolasi kemudian dipurifikasi hingga menjadi isolat murni, kemudian diamati karakter morfologi, fisiologis, dan biokimia. Data dianalisis dengan koefisien Jaccard, dikelompokkan dengan metode UPGMA, dan disajikan dalam bentuk dendogram. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada dendogram Jaccard’sCoefficient dengan menggunakan cut-off 70%, didapatkan 3 kluster dan 1 outlier. Kluster I dan outlier IV yang berasal dari Padukuhan Panggeran diduga merupakan khamir Basidiomycetes, memiliki indeks kesamaan 63%. Sementara kluster II dan III yang berasal dari Kebun Raya Baturraden, diduga merupakan khamir Ascomycetes dan memiliki indeks kesamaan 62%.
Penapisan Isolat Khamir Oleaginous dari Nektar Bunga dan Madu Hutan Kirana Dira Anjani; Miftahul Ilmi
Jurnal Mikologi Indonesia Vol 2, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Perhimpunan Mikologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.472 KB) | DOI: 10.46638/jmi.v2i2.42

Abstract

Khamir oleaginous mampu mengakumulasi lipid lebih dari 15% dari berat kering selnya. Pada kondisi nitrogen yang terbatas, khamir tersebut mampu mengakumulasi lipid hingga 70%. Lipid yang dihasilkan mengandung asam lemak seperti palmitat, oleat, dan linoleat, sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi biodiesel. Khamir oleaginous umumnya hidup dilingkungan dengan konsentrasi karbon yang tinggi, antara lain nektar bunga dan madu. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penapisankhamiroleaginous yang diisolasi darinektar bunga dan madu hutan. Sampel nektar bunga diambil dari Kebun Raya Baturraden, Purwokerto,dan tempat pembibitan bunga di Kaliurang, Yogyakarta. Sedangkan sampel madu hutan diambil dari 11 kabupaten di Sulawesi. Uji kualitatif dilakukan dengan teknik pewarnaan sudan III dan uji kuantitatif dilakukan dengan mengukur berat lipid per berat kering biomassanya. Penelitian menghasilkan 6 isolat khamir oleaginous dari 47 isolat: PG12.2 (17,88%), PG12.3 (17,13%), PG5.4 (18,25%), AP1 (19,07%), PM2.1 (17,55%), dan PM3.2 (18,56%).Profil pertumbuhan isolat AP 1 menunjukkan bahwa kandungan lipid yang diproduksi masih menunjukkan peningkatan setelah penumbuhan selama 70 jam.