Akhlis Syamsal Qomar
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REINTERPRETASI ETNISITAS DAN RASIALITAS SEBAGAI KONSEP KETAHANAN SOSIAL (STUDI KASUS PERLAWANAN RONGGO PRAWIRODIRJO TAHUN 1810) Akhlis Syamsal Qomar; Warto .; Akhmad Arif Musadad
Prosiding Conference on Research and Community Services Vol 4, No 1 (2022): Fourth Prosiding Conference on Research and Community Services
Publisher : STKIP PGRI Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keragaman bangsa Indonesia yang tinggi merupakan sumbu yang mudah tersulut oleh konfrontasi-konfrontasi etnisitas dan rasialitas. Masalah etnisitas dan rasialitas bagi bangsa Indonesia menggejala secara kuat setelah era Reformasi 1998. Konflik yang berbau SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) terjadi di banyak daerah dan menjadi peringatan serius bagi bangsa Indonesia bahwa masalah etnisitas dan rasialitas bisa mengancam ketahanan sosial. Artikel ini mendiskusikan masalah etnisitas dan rasialitas sebagai konsep ketahanan sosial berdasarkan data sejarah perlawanan rakyat Madiun yang dipimpin oleh Raden Ronggo Prawirodirjo III tahun 1810 yang kental akan nilai-nilai. Penelitian ini menggunakan metode historis. Sumber yang digunakan yaitu sumber primer dan sekunder berupa arsip Residensi Yogyakarta 1724-1903, babad, majalah, dan pustaka berupa buku-buku. Pengumpulan data dilakukan dengan dengan teknik studi pustaka. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis historis. Prosedur penelitian dilaksanakan meliputi tahap heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Raden Ronggo Prawirodirjo III menyerukan kepada semua golongan masyarakat baik bumiputra maupun Timur Asing (Tionghoa) di wilayah mancanegara timur dan pesisir untuk turut serta dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda pada 20 November 1810 hingga 17 Desember 1810. Fakta-fakta tersebut menunjukkan aspek ketahanan sosial, antara lain: 1) ketahanan budaya berupa keragaman ras dan etnis dalam suatu wilayah sebagai bonus demografi. 2) ketahanan politik dengan penyatuan berbagai suku bangsa untuk kepentingan yang sama, yaitu perlawanan terhadap kolonialisme. 3) ketahanan sosial sebagai tujuan bersama dengan mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan individu dan kelompok. Selain memiliki kesamaan kepentingan, Raden Ronggo melihat bahwa perbedaan suku dan ras tidak serta merta menjadi penghalang untuk bersatu melawan penjajahan Belanda yang mengancam kehidupan sosial mereka. Sehingga paradigma mengenai isu etnisitas dan rasialitas mengarah pada chauvinisme, namun dapat dikelola sebagai modal ketahanan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
SEJARAH PENDIDIKAN PESANTREN BANJARSARI DALAM KERANGKA HISTORIOGRAFI INDONESIASENTRISME Akhlis Syamsal Qomar
JUSAN: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Indonesia Vol 2 No 1 (2024): JUSAN: Jurnal Sejarah Peradaban Islam Indonesia
Publisher : UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/jusan.v2i1.9517

Abstract

Abstract: Banjarsari Islamic boarding school village is one of the fief villages at the same time became the most influential religious educational institution in Java in the 18-19 centuries. YearThat year was the golden age of the well-known Banjarsari Islamic boarding school village as a village that is politically and economically independent from the practice of the economic exploitation system colonialism which was very impartial to the indigenous people of that time. As a fief village, Banjarsari is free from the influence and interference of any party, not except the government Dutch colonial. Although in the field of Dutch politics several times tried to interfere the internal affairs of the Banjarsari fief until it managed to split it into two, namely the village the fief of Banjarsari Kulon and the village of the fief of Banjarsari Wetan around 1815-16. as strong whatever the Dutch wish to interfere in Banjarsari's internal affairs, but he did not manage to enter in the field of economics until 1870. The internal dynamics of the Banjarsari fief economy walk independently. Based on the traditional rural economic system which focuses on the agricultural sector. In Banjarsari, in particular, the second sector is developing namely the trade of palm fiber brooms as a local product that helps boost the economy the community so that it makes Banjarsari a truly independent fief village. Keyword: Banjarsari Islamic Boarding School, agricultural sector, trade sector; independent village.