Hasan Hasan
Universitas Hasanuddin

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Bentuk dan Makna Ritual Ma’nene’ To Sarani di Toraja Utara Haryeni Tamin; Hasan Hasan; Kasmawati Kasmawati; Indarwati Indarwati
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v7i2.1300

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menganalisis bentuk prosesi dan makna dari ritual ma’nene’ to Sarani di Kabupaten Toraja Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan metode observasi dengan menggunakan teknik catat dan wawancara (interview). Lokasi penelitian bertempat di kecamatan Denpina, kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan beberapa ritual ma’nene’ to sarani yang dilakukan oleh masyarakat kecamatan Denpina, yaitu ma’bukka’ liang (membuka liang kuburan), ma’bawa pangan (membawa jenis makanan), masseroi (membersihkan), mangallo batang rabuk (menjemur jasad), ma’palobo (mengganti pembungkus),’ mangrapa (memasukkan kembali)’, dan ma’tutu’ liang (menutup liang kubur). Setiap prosesi yang dilakukan ini mengandung makna dan tujuan tertentu.
Pola Penggunaan Sapaan Bahasa Bima Hasan Hasan
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v7i2.1302

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan di Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin. Permasalahan yang diteliti adalah bagaimana pola-pola penggunaan sapaan dalam bahasa Bima.Tujuannya adalah mencari dan menemukan variasi pola penggunaan sapaan dalam bahasa Bima. Pengumpulan data dilakukan melalui penelitian lapangan atau kerja medan dengan teknik: (1) observasi (pengamatan), (2) wawancara, (3) rekaman, (4) catat, (5) pilah. Data dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, variasi jenis dan pola penggunaan sapaan bahasa Bima dapat diklasifikan sebagai berikut: (1) sapaan kata ganti diri, yang terdiri atas: (a) sapaan persona pertama (tunggal dan jamak), (b) sapaan persona kedua (tunggal dan jamak), (c) sapaan persona ketiga (tunggal dan jamak); (2) sapaaan nama diri, yang terdiri atas: (a) menyapa dengan nama diri asli (nama yang sebenarnya), (b) menyapa dengan nama diri secara sopan (penghormatan); (3) menyapa secara keakraban; (4) sapaan berupa jabatan dan gelar, yang terdiri atas: (a) sapaan berupa jabatan, (b) sapaan berupa gelar, (c) sapaan berupa gelar khusus, (d) sapaan gelar khusus dengan nama diri + kata sifat.
Bentuk dan Makna Ritual Mappacci pada Pernikahan Bangsawan Bugis (Studi Kasus di Desa Benteng Gantarang Kabupaten Bulukumba) Kasmawati Kasmawati; Indarwati Indarwati; Haryeni Tamin; Hasan Hasan
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v7i2.1414

Abstract

Mapacci adalah salah satu dari sekian banyak ritual dalam pernikahan adat suku Bugis di Sulawesi Selatan. Ritual ini adalah upacara untuk membersihkan dan menyucikan diri bagi calon pengantin dari hal-hal yang tidak baik. Prosesi ini biasa dilaksanakan pada saat menjelang acara akad nikah keesokan harinya. Adat kebudayaan ini ditradisikan oleh masyarakat dan diyakini dapat membawa keberkahan dalam pernikahan hingga sampai sekarang. Penelitian ini difokuskan pada bentuk makna dalam ritual upacara adat mappacci. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif bertema budaya lokal. Data dikumpulkan dengan metode observasi, dengan teknik rekam, catat, dan wawancara. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis secara deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa makna ritual dalam ritual mapacci pada pernikahan bangsawan Bugis di desa Benteng Gantarang kabupaten Bulukumba, yakni: kesucian hati calon mempelai menghadapi hari esok; harapan, yang dimaknai semoga pernikahan nanti akan berlangsung dengan langgeng (selamanya); doa dan restu dari para keluarga; makna agar calon mempelai kelak di kemudian hari dapat hidup bahagia seperti mereka yang meletakkan pacci di atas tangannya.