Indarwati Indarwati
Politeknik LP3I Makassar

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Bentuk dan Makna Ritual Ma’nene’ To Sarani di Toraja Utara Haryeni Tamin; Hasan Hasan; Kasmawati Kasmawati; Indarwati Indarwati
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v7i2.1300

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menganalisis bentuk prosesi dan makna dari ritual ma’nene’ to Sarani di Kabupaten Toraja Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan metode observasi dengan menggunakan teknik catat dan wawancara (interview). Lokasi penelitian bertempat di kecamatan Denpina, kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan beberapa ritual ma’nene’ to sarani yang dilakukan oleh masyarakat kecamatan Denpina, yaitu ma’bukka’ liang (membuka liang kuburan), ma’bawa pangan (membawa jenis makanan), masseroi (membersihkan), mangallo batang rabuk (menjemur jasad), ma’palobo (mengganti pembungkus),’ mangrapa (memasukkan kembali)’, dan ma’tutu’ liang (menutup liang kubur). Setiap prosesi yang dilakukan ini mengandung makna dan tujuan tertentu.
Bentuk dan Makna Ritual Mappacci pada Pernikahan Bangsawan Bugis (Studi Kasus di Desa Benteng Gantarang Kabupaten Bulukumba) Kasmawati Kasmawati; Indarwati Indarwati; Haryeni Tamin; Hasan Hasan
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v7i2.1414

Abstract

Mapacci adalah salah satu dari sekian banyak ritual dalam pernikahan adat suku Bugis di Sulawesi Selatan. Ritual ini adalah upacara untuk membersihkan dan menyucikan diri bagi calon pengantin dari hal-hal yang tidak baik. Prosesi ini biasa dilaksanakan pada saat menjelang acara akad nikah keesokan harinya. Adat kebudayaan ini ditradisikan oleh masyarakat dan diyakini dapat membawa keberkahan dalam pernikahan hingga sampai sekarang. Penelitian ini difokuskan pada bentuk makna dalam ritual upacara adat mappacci. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif bertema budaya lokal. Data dikumpulkan dengan metode observasi, dengan teknik rekam, catat, dan wawancara. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis secara deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa makna ritual dalam ritual mapacci pada pernikahan bangsawan Bugis di desa Benteng Gantarang kabupaten Bulukumba, yakni: kesucian hati calon mempelai menghadapi hari esok; harapan, yang dimaknai semoga pernikahan nanti akan berlangsung dengan langgeng (selamanya); doa dan restu dari para keluarga; makna agar calon mempelai kelak di kemudian hari dapat hidup bahagia seperti mereka yang meletakkan pacci di atas tangannya.
Eksistensi Ritual Budaya Jeknek Sappara di Desa Balangloe Tarowang Kabupaten Jeneponto Sebagai Pariwisata Budaya Berbasis Kearifan Lokal St. Nursa’adah; Indarwati Indarwati
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i1.2370

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguraikan dan memaparkan bentuk, makna, dan eksistensi ritual adat Jeknek Sappara di desa Balangloe Tarowang, serta untuk memajukan pariwisata budaya berbasis kearifan lokal pada era new normal. Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengangkat dan memperkenalkan salah satu ritual adat berbasis kearifan lokal yang ada di kabupaten Jeneponto. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi media untuk mempublikasikan kekayaan budaya lokal yang selama ini terpendam di desa Balangloe Kabupaten Jeneponto. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode observasi dan wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Data kemudian dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sembilan bentuk ritual dalam upacara adat ini, yaitu: Ap-pasempa, A'lili, Patoeng, Aurung Kalompoang, Dengka Pada, Paolle, A'Jeknek, Akraga, dan Manyukkang. Setiap bentuk ritual memiliki makna kesyukuran masyarakat desa Balangloe Tarowang atas kelimpahan rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa. Ritual budaya ini tetap eksis dan rutin dilaksanakan setiap tahun, meskipun pada tahun 2020 jumlah pengunjung dibatasi. Namun, pada era new normal, yakni pada tahun 2021 dan 2022, jumlah pengunjung dan wisatawan lokal sudah mulai berangsur normal dan pariwisata berbasis budaya lokal ini kembali eksis. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah lokal untuk lebih memperhatikan eksistensi dari keanekaragaman budaya masyarakat Indonesia dengan mendukung serta menjadi promotor dan fasilitator utama yang mendorong berkembangnya perbendaharaan kultur di Bumi Pertiwi khususnya di Tanah Turatea.
Bentuk dan Makna dalam Ritual Pembuatan Kapal Pinisi di Kabupaten Bulukumba Yusuf Yusuf; Haryeni Haryeni; Ita suryaningsih; Indarwati Indarwati
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.2943

Abstract

Studi ini bertujuan menganalisis bentuk dan makna dalam ritual pembuatan kapal pinisi di Kabupaten Bulukumba. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Responden dalam penelitian ini adalah tukang kayu, pemilik kapal, dan tokoh adat yang terlibat dalam proses pembuatan kapal pinisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual pembuatan kapal pinisi di Kabupaten Bulukumba memiliki bentuk dan makna yang sangat dipengaruhi oleh budaya lokal. Bentuk ritual ini terdiri dari serangkaian tahapan, mulai dari pemilihan kayu hingga peluncuran kapal. Setiap tahapan dilakukan dengan penuh perhatian dan didasarkan pada keyakinan spiritual yang kuat. Makna dalam ritual pembuatan kapal pinisi juga sangat penting bagi masyarakat Bulukumba. Ritual ini merupakan simbol kelanjutan tradisi maritim dan cara hidup masyarakat pesisir. Kapal pinisi dianggap sebagai simbol keberanian, kekuatan, dan kesuksesan dalam mengarungi kehidupan di laut. Selain itu, ritual ini juga memiliki makna keagamaan. Masyarakat Bulukumba percaya bahwa kapal pinisi memiliki roh dan jiwa yang harus dihormati. Oleh karena itu, proses pembuatan kapal pinisi dilakukan dengan penuh rasa hormat dan keramat. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pemahaman tentang budaya dan tradisi lokal di Kabupaten Bulukumba. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah dan masyarakat setempat dalam upaya melestarikan dan mengembangkan budaya maritim di wilayah ini.