Syukron Mahbub Syukron Mahbub
Universitas Islam Madura

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

KEKERASAN TERHADAP ANAK PERSPEKTIF HAM DAN HUKUM ISLAM SERTA UPAYA PERLINDUNGANNYA Syukron Mahbub
Ulumuna: Jurnal Studi Keilsman Vol 1 No 2 (2015)
Publisher : LP2M IAI Miftahul Ulum Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.475 KB)

Abstract

The violence against children can occurred anywhere and anytime, and it was also as a human right violation against children which cannot be justified either in the perspective of Human Right and Islamic law. despite the fact that they are often overlooked. Therefore it needs a strategic step to handle it. The handling problem of violence victim children should be done together because violence is a crucial problem, it cannot be solved only by one stakeholder, it needs to divide the role and creates the clear mechanism and responsibility of all related sector, such as government, komnas HAM, KPAI, PPT, LSM, social organization, university, mass media, professional institution, law enforcement, politician, social leaders, and family, social and children environment. The most important thing is the whole commitment to fight save them. Because children is not only the heir and generation , but same time as the owner and manager of the future
MANAKAR KAFÂ`AH DALAM PRAKTIK PERKAWINAN KYAI DI MADURA Syukron Mahbub Syukron Mahbub
AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial Vol. 6 No. 2 (2011)
Publisher : Faculty of Sharia IAIN Madura collaboration with The Islamic Law Researcher Association (APHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/al-lhkam.v6i2.311

Abstract

Abstrak: Kajian ini difokuskan pada persoalan, secara garis besar, bagaimana pandangan kyai tentang kafâ`ah dan praktiknya dalam perkawinan. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena subjek yang diteliti memerlukan pengamatan secara utuh dan menyeluruh tentang kondisi yang sebenarnya. Data dalam  kajian ini diperoleh melalui observasi partisipan, dan wawancara mendalam. Kajian ini menghasilkan temuan bahwa kyai melakukan perkawinan antar keluarga dekat dan kerabat yang berasal dari keluarga kyai juga. Mereka menghindari terjadinya perkawinan dengan kerabat lain yang berasal dari keluarga non kyai. Dalam kaitannya dengan sikap perkawinan kyai ini, ditemukan dua tipe kyai yang berbeda yaitu: Pertama, tipe  kyai fanatik keturunan; kedua, tipe kyai fleksibel dalam memberikan keputusan. Kyai fanatik keturunan menjadikan faktor keturunan sebagai alasan pertama dan utama dalam memilih pendamping hidup bagi anak-anaknya. dalam mengambil langkah tindakannya kyai fanatik keturunan ini setidaknya dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, adanya wasiat nenek moyang yang diikuti oleh generasi berikutnya. Kedua, adanya usaha untuk menjaga kemurnian keturunan. Sedangkan kyai fleksibel tidak begitu  fanatik terhadap keturunan dalam mengambil keputusan. Dalam masalah kafâ’ah, selain faktor keturunan, mereka juga mempertimbangkan faktor yang lain, seperti faktor kekayaan, nilai agama yang kuat serta kecakapan ilmu pengetahuan.   Abstract: This study was designed to examine the view of kyai toward kafâ`ah and its practice in marriage. Qualitative approach has been used to collect intact and whole data from the subject by using the instruments of participatory observation and in-depth interview. It was found that kyai performs a marriage with the close family members and among relatives. They avoid a marriage with a family of different lineage particularly non-kyai family.  From the perspective of this marriage attitude, it could be catagorized two types of kyai. Firstly, is a kyai which is offspring fanatic, and secondly, a kyai which is flexible in giving decision. The former is influenced by two factors---firstly, ancestor will and second, the attempts to keep the family chasity. The later is not adhering strictly to the family genuinity. Kafâ`ah also takes a consideration on other factors such as opulence, the firm religious values, and knowledge proficiency.   Kata-kata Kunci: Kyai, kafâ`ah, Madura, dan perkawinan
TELA’AH AYAT TENTANG KAWIN LINTAS AGAMA Syukron Mahbub
AHSANA MEDIA:  Jurnal Pemikiran, Pendidikan dan Penelitian Ke-Islaman Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Ahsana Media: Pemikiran, Pendidikan dan Penelitian Ke-Islaman
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.842 KB) | DOI: 10.31102/ahsana..6.2.2020.51-60

Abstract

Dalam Al-qur’an secara tekstual terdapat tiga ayat yang berkaitan dengan kawin lintas agama yaitu QS. al-Baqarah: 221, al‑Mumtahanah: 10, dan al-Maidah: 5. Penulis melakukan penelitian dalam menela’ah ayat tentang kawin lintas agama tersebut dengan penelitian kepustakaan (library research) karena bahan kajian yang dipergunakan berasal dari sumber-sumber kepustakaan.dari hasil yang ditemukan tiga ayat tersebut memiliki makna yang bertingkat. Ayat yang pertama surat al-Baqarah: 221 melarang mengawini orang musyrik, baik laki-laki muslim maupun perempuan muslimah. Sedangkan ayat yang kedua al- Mumtahanah: 10 mengungkapkan larangan perempuan muslim dikawinkan dengan laki-laki non muslim. Sedangkan ayat yang ketiga al-Maidah: 5 berkaitan dengan mengawini perempuan ahli kitab.
Konflik dan Kekerasan Sunni-Syiah Sampang Prespektif Kultur Kekerasan dan Hak Asasi Manusia Syukron Mahbub
VOICE JUSTISIA : Jurnal Hukum dan Keadilan Vol 2 No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Universitas Islam Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.764 KB)

Abstract

Persoalan konflik antar aliran dala Islam di Kabupaten Sampang telah menjadi isu nasional dan bahkan internasional yang hingga saat ini belum mencapai kata tuntas, hingga saat ini nasib para korban kekerasan masih mengungsi karena tidak diterima di tempat kelahirannya. Analisa yang berkembang saat ini hanya seputar mendiskreditkan korban kekerasan hanya dikarenakan bertentangan dengan paham mayoritas masyarakat sampang. Kajian ini mencoba menelusuri dan mengkaji persoalan konflik di Sampang dalam prespektif kultur budaya Madura serta perbandingannya dengan prinsip hak asasi manusia terkait dengan toleransi dan kebebasan beragama, dengan harapan akan mampu meluruskan anggapan-anggapan keliru seputar konflik Sunni dan Syi’ah di Kabupaten Sampang.
MENELISIK AUTENTISITAS SEBUAH HADIS: STUDI ATAS KAIDAH KESHAHIHAN HADIS DITILIK DARI SANAD DAN MATAN Suhaimi, Syukron Mahbub
Jurnal Al-Ulum : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Ke-Islaman Vol 8 No 2 (2021): al- Ulum (Jurnal Pendidikan, Penelitian dan pemikiran ke Islaman)
Publisher : Universitas Islam Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract It is considered very urgent to seek the authenticity of a hadith for academics and practitioners of Islamic law so that they should easily be able to identify the authenticity of the hadith. So that it can be used as an objective reference basis in writing and berhujjah for those who are concerned in the field of hadith. A hadith can be declared as a valid hadith if it has five criteria, namely: (1) the sanad is continuous, (2) it is narrated by a just person, (3) it is narrated by a dabit person, (4) there are no irregularities in the hadith, and (5) the absence of 'illat. These five criteria are included in the sanad and matan of the hadith which will be explained in detail later. The method in compiling this article is done by reviewing the literature related to the rules of hadith validity which is then carried out as a kind of study both objectively and subjectively. Keywords: Sahih Hadith, Sanad, Matan.
KOVENAN INTERNASIONAL HAK SIPIL POLITIK (KIHSP) DAN KOVENAN INTERNASIONAL HAK EKONOMI SOSIAL BUDAYA (KIHESB) KORELASINYA DENGAN MAQASHID AL-SYARI’AH PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Syukron Mahbub
Jurnal Yustitia Vol 20, No 2 (2019): JURNAL YUSTITIA
Publisher : Universitas Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.058 KB) | DOI: 10.53712/yustitia.v20i2.687

Abstract

Berangkat dari penjelasan bahwa Maqashid al-Syari’ah merupakan salah satu elemen penting dalan hukum Islam, maka dalam merumuskan bentuk relasi dengan KIHSP, KIHESB dalam hukum Ham, Maqashid al- Syari’ah mutlak diperlukan sebagai nilai dan metode. Hal ini dikarenakan oleh keberadaan Maqasid al- Syari’ah sebagai wadah kemaslahatan yang diakui oleh al-Syari’, atau kita kenal dengan istilah al-maslahah al-mu’tabarah. Sehingga diharapkan produk hukum yang dihasilkan dapat memenuhi dua kriteria pokok, sebagai mana dimaksudkan oleh Imam al-Syatibiy, yakni: (1) sejalan dengan kehendak al-Syari’; dan (2) membawa kemaslahatan pada manusia. Sementara itu muatan yang terdapat di dalam instrumen pokok, instrumen khusus dan instrumen tambahan Hak Asasi Manusia baik dalam KIHSP, KIHESB sebagian memang ada yang bertentangan dengan formulasi hukum Islam klasik yang menjadi karakter masyarakat arab masih nampak dalam sejumlah ketentuan hukum Islam, seperti di catat oleh An-Na’im, premis tersebut misalnya bisa saja dijumpai dalam kasus perbudakan dan deskriminasi berdasarkan agama dan gender.  Namun sebagian yang lain dari instrumen pokok HAM tersebut ketika dikaitkan dengan prinsip maqosid al-syariah demi untuk membawa kemaslahatan bagi segenap umat manusia berdasar lima prinsip tujuan syara’  maka bisa saling melengkapi dan saling menguatkan, oleh karena prinsip hukum Ham sama-sama ingin menjamin prinsip hak asasi manusia.
Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender Dalam Persfektif Islam Syukron Mahbub
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 21 No. 1 (2022)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2022.211.65-80

Abstract

Pendidikan pertama bagi anak merupakan pengenalan terhadap lingkungan keluarga terutama pemahaman tentang orang tua. Dalam pendidikan ini, orang tua membentuk watak dalam kemampuan kognitif dan sikap anak. Namun, keluarga menghadapi beberapa problem dalam konteks Pendidikan kesenjangan gender. Oleh karena itu, keluarga dituntut mampu memahamkan pendidikan berbasis gender kepada anak. Hal ini bersamaan dengan upaya Pemerintah dalam program pendidikan keluarga berwawasan gender (PKBG) dengan Inpres No. 9 tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender. Program ini menyadarkan pemahaman hak dan kewajiban pada peran laki-laki dan perempuan pada institusi keluarga. Dalam pendidikan Islam, peran laki-laki dan perempuan memiliki akses dan kesempatan yang setara dengan kemapuan yang dimiliki. al-Qur’an mengisyaratkan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Hal ini termaktub dalam surah al-Hujurat ayat 13. Keluarga menjalankan fungsi-fungsi alami  terutama fungsi pendidikan keluarga yang mengajarkan kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan.   [The first education for children is an introduction to the family environment, especially an understanding of parents. In education, parents shape the character in the cognitive abilities and attitudes of children. However, families have several problems in the context of gender gap education. Therefore, families have a role required to be able to understand gender-based education to children. In issues, The Government's efforts in the gender-oriented family education program (PKBG) with family law with Number No. 9 of 2000 on gender mainstreaming. The program raises awareness of the rights and obligations of the roles of men and women in the family daily role. In Islamic education, the roles of men and women have access and opportunities that are equal to their abilities. The Qur'an implies the equality of men and women in surah al-Hujurat 13. The family carries out natural functions, especially the function of family education which teaches equality and justice between men and women.]