Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Ratu Adil sebagai Jembatan Kontekstual: Membaca Konsep Mesias Perjanjian Baru melalui Narasi Damarwulan Arif Wicaksono; David Eko Setiawan
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.827

Abstract

The concept of the Messiah in the New Testament is often understood within a Jewish theological framework that may be unfamiliar to Indonesian audiences. Therefore, a contextual approach is needed to bridge this understanding through local cultural symbols and narratives. This research aims to interpret the concept of the Messiah in the New Testament through the Javanese cultural narrative of the Ratu Adil, particularly in the story of Damarwulan. The research employs a qualitative method using contextual theology and narrative analysis of biblical texts alongside Javanese literary traditions. The findings indicate that the figure of Ratu Adil in the Damarwulan narrative shares thematic parallels with the concept of the Messiah, especially in aspects of liberation, restoration of justice, and victory over evil. However, there are fundamental theological differences, particularly regarding the universal salvation and divine nature of the Messiah in Christian faith. This study concludes that the narrative of Ratu Adil can function as a hermeneutical bridge for explaining the Messiah concept to Javanese communities without losing the uniqueness of New Testament theology. AbstrakKonsep Mesias dalam Perjanjian Baru sering dipahami dalam kerangka teologis Yahudi yang kurang akrab bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu diperlukan pendekatan kontekstual yang mampu menjembatani pemahaman tersebut melalui simbol dan narasi budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk membaca konsep Mesias dalam Perjanjian Baru melalui narasi budaya Jawa tentang Ratu Adil, khususnya dalam kisah Damarwulan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis teologi kontekstual dan kajian naratif terhadap teks Alkitab serta tradisi sastra Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa figur Ratu Adil dalam narasi Damarwulan memiliki kesamaan tematik dengan konsep Mesias, terutama dalam aspek pembebasan, pemulihan keadilan, dan kemenangan atas kejahatan. Namun demikian terdapat perbedaan teologis yang mendasar, khususnya dalam dimensi keselamatan universal dan natur ilahi Mesias dalam iman Kristen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa narasi Ratu Adil dapat berfungsi sebagai jembatan hermeneutis untuk menjelaskan konsep Mesias kepada masyarakat Jawa tanpa menghilangkan keunikan teologi Perjanjian Baru.
Pernyataan Iman Menurut Roma 10:9 dan Relevansinya bagi Kaum Difabel Kategori Tunawicara Arif Wicaksono; Laurens Ruben Sumisu
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 3 No. 2 (2024): Maret 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v3i2.189

Abstract

The statement of faith according to Romans 10:9 is a call to confess Jesus Christ as Lord and accept His resurrection from the dead. This verse emphasizes the importance of verbal confession of the Christian faith and belief in the heart in the truth of Christ's resurrection as the basis for salvation. For disabled people in the speech category, who may face communication challenges. In order to find the relevance of this confession of faith to the faith of the Speech Impaired, the author uses a literature study approach. Based on research conducted, confession does not always have to be verbal. Confession of faith can be done in a deep heart and awareness of the universal gift of salvation, not limited by communication limitations. The relevance of Romans 10:9 for the deaf category lies in their ability to experience, express, and celebrate the Christian faith through various forms of communication, while the Church provides support and inclusivity to ensure their safety and spiritual growth.ABSTRAKPernyataan iman menurut Roma 10:9 adalah panggilan untuk mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan mempercayai kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Ayat ini menekankan pentingnya pengakuan verbal terhadap iman Kristen dan keyakinan dalam hati akan kebenaran kebangkitan Kristus sebagai dasar keselamatan. Bagi kaum difabel kategori tunawicara, yang mungkin menghadapi tantangan komunikasi. Guna menemukan relevansi pengakuan iman ini terhadap keimanan kaum Tuna wicara penulis menggunakan  pendekatan studi pustaka. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pengakuan tidak selalu harus bersifat verbal. Pengakuan iman dapat dilakukan dalam hati yang mendalam serta kesadaran akan anugerah keselamatan yang universal, tidak terbatas oleh keterbatasan komunikasi. Relevansi Roma 10:9 bagi kaum difabel kategori tunawicara terletak pada kemampuan mereka untuk mengalami, menyatakan, dan merayakan iman Kristen melalui berbagai bentuk komunikasi, sementara gereja memberikan dukungan dan inklusivitas untuk memastikan keselamatan dan pertumbuhan rohani mereka.. Kata-kata kunci: Difabel, Pernyataan Iman, Roma 10:9, Tunawicara.
Interpretasi Perceraian dan Pernikahan Kembali dalam Matius 5:32 Rick Gamelia; Arif Wicaksono; Marthin Steven Lumingkewas
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 13 No 1 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v13i1.214

Abstract

Divorce and remarriage are common things in today's post-modern society. Both of these practices are also commonly found in the lives of Christians. This is due to a lack of proper understanding of the Christian view of divorce and remarriage to those who have been divorced. In order to understand this, the author tries to build an understanding of Christian teachings through the text of Matthew 5:32. The method used to reveal the essence of true teaching is a grammatical-contextual exegesis approach. The grammatical-contextual method pays attention to the original grammatical rules and the context of the text to be studied. The results show that Jesus taught that both divorce and marriage to a divorced person are serious matters. Divorce as a result of adultery or marriage to someone who has been divorced is mentioned as sexual immorality in Matthew 5:32. This behavior causes a person to place the burden of sin on divorced husbands, divorced wives and even husbands who take divorced wives to bear the same sin of adultery and live in adultery.
Pola Coaching terhadap Generasi Z berdasarkan Matius 17:5 Felicia Irawaty; Arif Wicaksono
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 14 No 1 (2024): December
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v14i1.276

Abstract

Generasi Z merupakan kelompok demografis yang memiliki karakteristik unik dan kebutuhan khusus dalam pengembangan diri dan karier. Pendekatan coaching yang efektif untuk generasi ini perlu mempertimbangkan aspek spiritual dan nilai-nilai yang relevan. Tujuan dari studi ini adalah untuk merumuskan pendekatan coaching kepemimpinan yang sesuai bagi Generasi Z dengan menggali prinsip-prinsip kasih, kepercayaan, dan keberanian sebagaimana tercermin dalam Matius 17:5. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dan analisis teologis terhadap ayat tersebut. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa memastikan kasih yang cukup, membangun kepercayaan dan hubungan mendalam, serta keberanian untuk mendelegasikan dan mempromosikan merupakan strategi efektif dalam coaching Generasi Z. Implikasi praktis dari studi ini dapat diterapkan dalam berbagai konteks, termasuk pendidikan, bisnis, dan pelayanan gereja.