Nur Ainun Lubis
STAIN Gajah Putih Takengon, Aceh Tengah, Aceh

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING PADA MATERI SPLDV DI KELAS VIII SMP NEGERI 2 TAKENGON Nur Ainun Lubis; Nurul Qomariyah Ahmad; Rahmani J
Jurnal As-Salam Vol. 2 No. 2 (2018): Jurnal As-Salam
Publisher : Asosiasi Dosen Perguruan Tinggi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37249/as-salam.v2i2.30

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu tujuan atau kompetensi yang akan dicapai dalam pelajaran matematika. Semua pemecahan masalah melibatkan beberapa informasi dan untuk mendapatkan penyelesaiannya digunakan informasi tersebut. Informasi-informasi ini pada umumnya merupakan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika salah satunya pada sistem persamaan linear dua variabel. karena akan memudahkan siswa untuk menghitung barang belanjaan di pasar dan juga memudahkan siswa nantinya apabila akan membuat sebuah perusahan. Selain siswa kurang bisa dalam menyelesaikan soal sistem pesamaan linear dua variabel siswa juga masih kurang terampil dalam menjawab soal pemecahan masalah. Untuk itu peneliti menggukan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dalam pemecahan masalah matematis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan dan perbedaan hasil belajar menggunakan model Creative Problem Solving (CPS) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Takengon. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitiannya yaitu quasi ekperimen, karena penelitian ini ingin mengetahui perbedaan dari kelas eksperimen dan kontrol serta ingin melihat peningkatan pada kelas eksperimen yang diberi perlakuan model pembelajaran (CPS). Penelitian yaitu dengan nilai rata-rata pada kelas yang kontrol yaitu 42,9 dan nilai rata-rata pada kelas eksperimen yaitu 53,4, yang dimana kelas tersebut berdistribusi normal. Dengan nilai uji hipotesis thitung ttabel dimana 12,53 2,02 dengan demikian Ha diterima, sehingga terdapat perbedaan rerata kemampuan pemecahan masalah siswa. Dan hasil pengujian gain ternormalisasi diperoleh untuk kriteria gain ternormalisasi terendah 4 siswa (20%) dan dengan kriteria sedang diperoleh 16 siswa (80%), Sehingga dapat disimpulkan terdapat peningkatan kemampuan masalah siswa pada kelas VIII SMP Negeri 2 Takengon dengan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS).
PENGGUNAAN ALAT PERAGA BERBASIS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS Nurul Qomariyah Ahmad; Nur Ainun Lubis; Rezeky Putra Alasta
Jurnal As-Salam Vol. 2 No. 2 (2018): Jurnal As-Salam
Publisher : Asosiasi Dosen Perguruan Tinggi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37249/as-salam.v2i2.31

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu tujuan atau kompetensi yang akan dicapai dalam pelajaran matematika. Semua pemecahan masalah melibatkan beberapa informasi dan untuk mendapatkan penyelesaiannya digunakan informasi tersebut. Informasi-informasi ini pada umumnya merupakan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika salah satunya pada operasi bilangan bulat. Operasi pada bilangan bulat merupakan hal yang mendasar di pelajari dalam mata pelajaran matematika, namum masih banyak siswa mengalami kesulitan melakukan operasi bilangan bulat khususnya pada operasi perkalian dengan secara manual. Hal ini dikarenakan siswa lebih bergantung dengan menggunakan kalkulator. Selain siswa kurang bisa dalam melakukan operasi perkalian siswa juga masih kurang terampil dalam menjawab soal pemecahan masalah. Untuk itu peneliti menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan berbantukan alat peraga tulang napier dan alat peraga papan stick sebagai alat bantu hitung dalam pemecahan masalah matematik siswa . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penggunaan alat peraga berbasis model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada siswa kelas VII SMP Negeri 5 Takengon. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitiannya yaitu ekperimen, karena penelitian ini ingin mengetahui perbedaan dari perbandingan alat peraga tulang napier dan papan stick berbasis model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Adapun hasil penelitian yaitu dengan nilai rata-rata pada kelas yang diberi perlakuan alat peraga tulang napier yaitu 77,25 dan nilai rata-rata pada kelas yang diberi perlakuan alat peraga papan stick yaitu 76, yang dimana kelas tersebut berdistribusi normal dan homogen. Dengan nilai uji hipotesis thitung >ttabel dimana 2,50 > 2,02 dengan demikian Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematik siswa pada kelas VII SMP Negeri 5 Takengon dengan penggunaan alat peraga Tulang Napier dengan alat peraga papan stick berbasis model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Nur Ainun Lubis; Hasrul Harahap
Jurnal As-Salam Vol. 1 No. 1 (2016): Jurnal As-Salam
Publisher : Asosiasi Dosen Perguruan Tinggi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jigsaw adalah suatu struktur multifungsi struktur kerjasama belajar. Jigsaw dapat digunakan dalam beberapa hal untuk mencapai berbagai tujuan tetapi terutama digunakan untuk persentasi danmendapatkan materi baru, struktur ini menciptakan saling ketergantungan. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu metode pembelajaran yang didasarkan pada bentuk struktur rmultifungsi kelompok belajar yang dapat digunakan pada semua pokok bahasan dan semua tingkatan untuk mengembangkan keahlian dan keterampilan setiap kelompok yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli. Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal, yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, jenis kelamin dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda ditugaskan untuk mempelajari dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Kelompok ahli merupakan gabungan dari beberapa ahli yang berasal darikelompok asal. Kunci keberhasilan jigsaw adalah saling ketergantungan, yaitu setiap siswa bergantung kepada anggota timnya untuk dapat memberikan informasi yang diperlukan supaya dapat berkinerja baik pada saat penilaian.
Solusi Umum Persamaan Diferensial Eksak Empat Variabel Hasrul Harahap; Nur Ainun Lubis
Jurnal As-Salam Vol. 1 No. 1 (2017): Jurnal As-Salam
Publisher : Asosiasi Dosen Perguruan Tinggi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tinjau persamaan diferensial eksak empat variabel. Dalam tulisan ini akan dicari suatu metode dalam menentukan solusi umum dari persamaan diferensial eksak empat variabel dan jika persamaannya tidak eksak, maka akan ditentukan suatu metode dalam menentukan faktor integrasi dari persamaan diferensial empat variabel yang tidak eksak tersebut, sehingga persamaannya menjadi persamaan diferensial eksak empat variabel.
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING PADA MATERI SPLDV DI KELAS VIII SMP NEGERI 2 TAKENGON Nur Ainun Lubis; Nurul Qomariyah Ahmad; Rahmani J
Jurnal As-Salam Vol. 2 No. 2 (2018): Jurnal As-Salam
Publisher : Asosiasi Dosen Perguruan Tinggi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.237 KB) | DOI: 10.37249/as-salam.v2i2.30

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu tujuan atau kompetensi yang akan dicapai dalam pelajaran matematika. Semua pemecahan masalah melibatkan beberapa informasi dan untuk mendapatkan penyelesaiannya digunakan informasi tersebut. Informasi-informasi ini pada umumnya merupakan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika salah satunya pada sistem persamaan linear dua variabel. karena akan memudahkan siswa untuk menghitung barang belanjaan di pasar dan juga memudahkan siswa nantinya apabila akan membuat sebuah perusahan. Selain siswa kurang bisa dalam menyelesaikan soal sistem pesamaan linear dua variabel siswa juga masih kurang terampil dalam menjawab soal pemecahan masalah. Untuk itu peneliti menggukan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dalam pemecahan masalah matematis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan dan perbedaan hasil belajar menggunakan model Creative Problem Solving (CPS) pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Takengon. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitiannya yaitu quasi ekperimen, karena penelitian ini ingin mengetahui perbedaan dari kelas eksperimen dan kontrol serta ingin melihat peningkatan pada kelas eksperimen yang diberi perlakuan model pembelajaran (CPS). Penelitian yaitu dengan nilai rata-rata pada kelas yang kontrol yaitu 42,9 dan nilai rata-rata pada kelas eksperimen yaitu 53,4, yang dimana kelas tersebut berdistribusi normal. Dengan nilai uji hipotesis thitung ttabel dimana 12,53 2,02 dengan demikian Ha diterima, sehingga terdapat perbedaan rerata kemampuan pemecahan masalah siswa. Dan hasil pengujian gain ternormalisasi diperoleh untuk kriteria gain ternormalisasi terendah 4 siswa (20%) dan dengan kriteria sedang diperoleh 16 siswa (80%), Sehingga dapat disimpulkan terdapat peningkatan kemampuan masalah siswa pada kelas VIII SMP Negeri 2 Takengon dengan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS).
PENGGUNAAN ALAT PERAGA BERBASIS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS Nurul Qomariyah Ahmad; Nur Ainun Lubis; Rezeky Putra Alasta
Jurnal As-Salam Vol. 2 No. 2 (2018): Jurnal As-Salam
Publisher : Asosiasi Dosen Perguruan Tinggi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.351 KB) | DOI: 10.37249/as-salam.v2i2.31

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu tujuan atau kompetensi yang akan dicapai dalam pelajaran matematika. Semua pemecahan masalah melibatkan beberapa informasi dan untuk mendapatkan penyelesaiannya digunakan informasi tersebut. Informasi-informasi ini pada umumnya merupakan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika salah satunya pada operasi bilangan bulat. Operasi pada bilangan bulat merupakan hal yang mendasar di pelajari dalam mata pelajaran matematika, namum masih banyak siswa mengalami kesulitan melakukan operasi bilangan bulat khususnya pada operasi perkalian dengan secara manual. Hal ini dikarenakan siswa lebih bergantung dengan menggunakan kalkulator. Selain siswa kurang bisa dalam melakukan operasi perkalian siswa juga masih kurang terampil dalam menjawab soal pemecahan masalah. Untuk itu peneliti menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan berbantukan alat peraga tulang napier dan alat peraga papan stick sebagai alat bantu hitung dalam pemecahan masalah matematik siswa . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penggunaan alat peraga berbasis model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada siswa kelas VII SMP Negeri 5 Takengon. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitiannya yaitu ekperimen, karena penelitian ini ingin mengetahui perbedaan dari perbandingan alat peraga tulang napier dan papan stick berbasis model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Adapun hasil penelitian yaitu dengan nilai rata-rata pada kelas yang diberi perlakuan alat peraga tulang napier yaitu 77,25 dan nilai rata-rata pada kelas yang diberi perlakuan alat peraga papan stick yaitu 76, yang dimana kelas tersebut berdistribusi normal dan homogen. Dengan nilai uji hipotesis thitung >ttabel dimana 2,50 > 2,02 dengan demikian Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematik siswa pada kelas VII SMP Negeri 5 Takengon dengan penggunaan alat peraga Tulang Napier dengan alat peraga papan stick berbasis model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Nur Ainun Lubis; Hasrul Harahap
Jurnal As-Salam Vol. 1 No. 1 (2016): Jurnal As-Salam
Publisher : Asosiasi Dosen Perguruan Tinggi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.927 KB)

Abstract

Jigsaw adalah suatu struktur multifungsi struktur kerjasama belajar. Jigsaw dapat digunakan dalam beberapa hal untuk mencapai berbagai tujuan tetapi terutama digunakan untuk persentasi danmendapatkan materi baru, struktur ini menciptakan saling ketergantungan. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu metode pembelajaran yang didasarkan pada bentuk struktur rmultifungsi kelompok belajar yang dapat digunakan pada semua pokok bahasan dan semua tingkatan untuk mengembangkan keahlian dan keterampilan setiap kelompok yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli. Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal, yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, jenis kelamin dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda ditugaskan untuk mempelajari dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Kelompok ahli merupakan gabungan dari beberapa ahli yang berasal darikelompok asal. Kunci keberhasilan jigsaw adalah saling ketergantungan, yaitu setiap siswa bergantung kepada anggota timnya untuk dapat memberikan informasi yang diperlukan supaya dapat berkinerja baik pada saat penilaian.
Solusi Umum Persamaan Diferensial Eksak Empat Variabel Hasrul Harahap; Nur Ainun Lubis
Jurnal As-Salam Vol. 1 No. 1 (2017): Jurnal As-Salam
Publisher : Asosiasi Dosen Perguruan Tinggi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.021 KB)

Abstract

Tinjau persamaan diferensial eksak empat variabel. Dalam tulisan ini akan dicari suatu metode dalam menentukan solusi umum dari persamaan diferensial eksak empat variabel dan jika persamaannya tidak eksak, maka akan ditentukan suatu metode dalam menentukan faktor integrasi dari persamaan diferensial empat variabel yang tidak eksak tersebut, sehingga persamaannya menjadi persamaan diferensial eksak empat variabel.