Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PERSARAFAN LIDAH Tanudjaja, George N.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 5, No 3 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.3.2013.4348

Abstract

Lidah merupakan suatu organ muskuler yang sangat mobil dan mempunyai bentuk yang dapat berubah-ubah dalam waktu yang singkat sesuai dengan kemauan dan kebutuhan. Pada saat istirahat lidah menempati bagian terbesar kavitas oris proprium atau rongga mulut utama.   Organ ini terdiri dari tiga bagian, yaitu radiks lingua, korpus lingua dan apeks lingua. Radiks atau basis adalah bagian posterior yang terikat, terutama ke dasar mulut. Fungsi lidah berhubungan dengan proses-proses mengunyah atau penghancuran makanan, mengecap, menelan, berbicara dan membersihkan mulut, tetapi fungsi utamanya ialah untuk mengantarkan makanan ke dalam faring ketika menelan dan membentuk kata-kata saat berbicara. Sebagian besar lidah terdapat di dalam kavum oris dan sebagian kecil lagi di dalam orofaring. Komponen utama lidah ialah otot-otot yang diliputi oleh membran mukosa pada bagian dorsum lingua, apeks lingua, dan bagian lateralnya.
HUBUNGAN TINGGI BADAN DENGAN PANJANG TANGAN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT ANGKATAN 2013 Sambeka, Christanti; Tanudjaja, George N.; Pasiak, Taufiq F.
eBiomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.1.2015.7126

Abstract

Abstract: Identification is important to the victims who have died, because identification is needed to know the person's identity. Body height can be determined using bones measurement, including metacarpal and phalanx. The purpose of this study is to find out the correlation of body height with hand length in the medical student of Sam Ratulangi University class of 2013. This study is an analytic descriptive study with design of cross-sectional study, and total participants of 72 students comprise of 36 male and 36 female. The samples of this study were chosen using the simple random sampling technique and were analyzed with the Pearson correlation analysis and also with the simple linear regression. The result showed a strong correlation between body heights and hand length with the value of ‘r’ in total was 0.855 in the whole subjects and 0.753 in male samples whereas in the female samples the value was 0.603. Based on the result of the simple linear regression analysis we get the formula of male body height = 15.496 + 8.398 x hand length, and the formula of female body height = 85.401 + 4.318 x hand length, and in total body heigth = 42.621 + 6.897 x hand length. Conclusion: There is a same direction and positive relationship between body height and hand length in the medical student of Sam Ratulangi University class of 2013.Keywords: identification, hand length, body height.Abstrak: Identifikasi sangatlah penting pada korban yang telah meninggal, karena identifikasi dilakukan untuk mengetahui kepastian identitas seseorang. Tinggi badan dapat ditentukan menggunakan ukuran tulang-tulang panjang, diantaranya tulang-tulang metakarpal dan tulang-tulang falang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tinggi badan dan panjang tangan pada mahasiswa Fakultas Kedokteraan Unsrat Angkatan 2013. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross-sectional, dengan sampel sejumlah 72 mahasiswa yang terdiri dari 36 mahasiswa laki-laki dan 36 mahasiswa perempuan. Sampel di pilih dengan menggunakan cara simple random sampling dan di analisis dengan analisis korelasi Pearson serta analisis regresi linier sederhana. Didapatkan hubungan yang kuat antara tinggi badan dengan panjang tangan dengan koefisien korelasi (r) pada keseluruhan subjek sebesar 0,855, sedangkan pada laki-laki 0,753 dan pada perempuan 0,603. Dari hasil analisis regresi linier sederhana di dapatkan rumus tinggi badan laki-laki = 15,496 + 8,398 x panjang tangan, tinggi badan perempuan = 85,401 + 4,318 x panjang tangan, dan secara keseluruhan tinggi badan = 42,621 + 6,897 x panjang tangan. Simpulan: Terdapat hubungan searah atau positif antara tinggi badan dengan panjang tangan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi angkatan 2013.Kata kunci: identifikasi, panjang tangan, tinggi badan.
PERBANDINGAN KADAR GULA DARAH POST-PRANDIAL PADA WANITA OBES SENTRAL DENGAN DAN TANPA RIWAYAT KELUARGA PENYAKIT KARDIOVASKULAR Widyaningrum, Arum P. S.; Wangko, Sunny; Tanudjaja, George N.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2609

Abstract

Abstract: Inflammatory process plays some important roles in the occurence of insulin resistance in obesity which inhibits the glucose molecules from entering the cells. In obesity, adipocytes produce active biological molecules called adipokines, some of which worsen the inflammatory process. Insulin resistance results in increases of fasting and post-prandial blood glucose. This study aimed to determine the comparison of post-prandial glucose in central obese women with and without family histories of cardiovascular diseases. This was a cross sectional design study, using a purposive sampling method. This study was carried out at Kairagi Weru Lingkungan IV, Manado.There were 44 respondents that met the inclusion criteria. The data used were BMI, waist circumference, questionnaires, and 2-hour-post-prandial blood glucose examinations. The results showed that most of the respondents were 46-50 years old. For all respondents, there was no significant correlation (P > 0.05) between ages and post-prandial blood glucose levels, or between the BMIs and post-prandial blood glucose levels. The statistic analysis showed that there was no correlation (P = 0.680) between cardiovascular disease family histories and post-prandial blood glucose levels. Besides that, there was no significant difference (P = 0.209) between post-prandial blood glucose levels among samples with or without cardiovascular disease family histories. Conclusion: There was no significant difference in the 2-hour-post-prandial blood glucose levels among the central obese women with or without family histories of cardiovascular diseases. Keywords: cardiovascular disease, central obesity, family history, postprandial.    Abstrak: Reaksi inflamasi berperan dalam resistensi insulin pada obesitas yang mengakibatkan glukosa sulit memasuki sel. Pada obesitas, adiposit menghasilkan molekul biologis aktif, yaitu adipokin; beberapa di antaranya memperburuk proses inflamasi. Resistensi insulin menghasilkan peningkatan kadar gula darah puasa dan post-prandial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar gula darah dua jam post-prandial pada wanita obes sentral dengan atau tanpa riwayat keluarga penyakit kardiovaskular. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan dilakukan di Kelurahan Kairagi Weru Lingkungan IV pada bulan Oktober-November 2012. Sampel sebanyak 44 orang, yang didapatkan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui pemeriksaan IMT dan LP, pengisian kuesioner, serta pemeriksaan kadar gula darah dua jam post-prandial. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar sampel berusia 46-50 tahun. Analisis statistik menunjukkan untuk semua sampel tidak terdapat korelasi bermakna (P > 0,05) antara usia dan kadar gula darah post-prandial, atau antara IMT dan kadar gula darah post-prandial. Tidak terdapat korelasi (P = 0,680) antara sampel yang dengan atau tanpa riwayat keluarga penyakit kardiovaskular dan kadar gula darah post-prandial. Selain itu, tidak terdapat perbedaan bermakna (P = 0,209) antara kadar gula darah post-prandial blood glucose levels pada sampel dengan dan tanpa riwayat keluarga penyakit kardiovaskular. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kadar gula darah dua jam postprandial pada wanita obes sentral dengan dan tanpa riwayat keluarga penyakit kardiovaskular. Kata kunci: obes sentral, postprandial, penyakit kardiovaskular, riwayat keluarga.
GANGGUAN MANSET ROTATOR SENDI BAHU Suatu tinjauan anatomik Tanudjaja, George N.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 6, No 3 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.3.2014.6332

Abstract

Abstract: Rotator cuff of glenohumeral joint is a group of muscles and their tendons which surrounds and protects the wholeness of the glenohumeral joint and functions as a shoulder rotator. Shoulder pain is commonly found and is mostly caused by tendinitis of the rotator cuff or subacromial bursitis. There are four important muscles of this rotator cuff: supraspinatus, infraspinatus, teres minor, and subscapularis (SITS) muscles. Among them, the most troublesome is the tendon of supraspinatus muscle that functions as a sheet as well as the abductor of glenohumeral joint. Therefore, tendinitis of this muscle is associated with spontaneous pain and disturbance in lifting the superior extremity. This cuff structure shows that tendons of the SITS muscles together with the capsule of genohumeral joint and the joint structure itself enable a very wide range of motion with a consequence of being troubled easily.Keywords: glenohumeral, rotator cuf, tendon, jointAbstrak: Manset rotator sendi bahu adalah sekelompok otot dan tendonnya yang mengelilingi dan menjaga keutuhan articulatio genohumerale dengan fungsi lain sebagai rotator brachium. Nyeri bahu sering ditemukan dan umumnya disebabkan oleh tendinitis manset rotator atau bursitis subacromiale. Di antara keempat tendines, yang tersering mengalami gangguan yaitu tendon m. supraspinatus yang selain sebagai pembungkus juga berfungsi sebagai abduktor articulatio glenohumerale sehingga selain nyeri spontan juga ditemukan kesulitan mengangkat membrum superior. Struktur manset ini menunjukkan bahwa tendines keempat otot tersebut bergabung dengan capsula articularis genohumerale dengan struktur sendinya yang memungkinkan pergerakan bahu yang sangat luas tetapi dengan konsekuensi akan lebih mudah terjadi gangguan.Kata kunci: sendi bahu, manset rotator, tendon, articulatio