Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Intensitas Penggunaan Tik Tok Terhadap Gratifikasi Penggunanya Sri Wahyuning Astuti; Dyah Sri Subandiah
PRoMEDIA Vol 7, No 1 (2021): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/promedia.v7i1.4459

Abstract

AbstractThe TikTok application until April 2020 has increased its usage to reach 2 billion downloads. Indonesia is the country with the highest number of Tik Tok downloaders in the world. In a day 100 videos or about 39 minutes are used by Tik Tok users in Indonesia watching videos. This study aims to determine the motives for selecting media (uses and gratification) with the habits of Tik Tok users. Of the 6 motives that underlie media selection (uses and gratification), the results of the study reveal that most tik tok users in Indonesia have a motive to seek information and spend time. In addition, there was a positive relationship between the choice of the motive for using Tik Tok with user habits with a correlation value of p <0.005 and R = .662.Keywords : Tik Tok, Uses and Gratification, User HabitAbstraksiAplikasi TikTok hingga April 2020 mengalami peningkatan penggunaan hingga mencapai 2 Milyar unduhan. Indonesia menjadi negara dengan jumlah pengunduh Tik Tok terbanyak di dunia.  Dalam sehari 100 video atau sekitar 39 menit digunakan oleh pengguna Tik Tok di Indonesia menyaksikan video. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif pemilihan media (uses and gratification) dengan kebiasaan pengguna Tik Tok. Dari 6 motif yang mendasari pemilihan media (uses and gratification), hasil penelitian mengungkap sebagian besar pengguna tik tok di Indonesia memiliki motif untuk mencari informasi, dan menghabiskan waktu. Selain itu didapatkan hubungan yang positif antara pemilihan motif penggunaan Tik Tok dengan kebiasaan pengguna dengan nilai korelasi p < 0,005 dan R= .662.Kata Kunci: Tik Tok, Uses and Gratification, Intensitas Penggunaan
Detox Media Digital (Sikap Milenial Terhadap Detox Media Digital) Sri Wahyuning Astuti; Dyah Sri Subandiah
PRoMEDIA Vol 6, No 2 (2020): PROMEDIA
Publisher : UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/promedia.v6i2.4071

Abstract

AbstractThe penetration of digital media use, especially millennials, is getting longer and more massive. In a day, on average, millennials in Indonesia use digital media for up to 5 hours per day. The use of digital media which has become increasingly massive has created problems for its users. Starting from physical problems to psychological problems. To reduce dependency and the negative impact of social media users, a digital media detox is needed. Digital media detox is an effort to reduce to select the use of digital media, from social media to the use of internet-based applications. Detox digital media aims to make users use only the applications they need. This study aims to determine the attitudes of social media users regarding digital media detox using a descriptive quantitative approach. The subjects in this study were social media users. The data collection technique used was convenience sampling. The results showed, at the cognitive, affective and conative level most of the respondents already had a positive attitude towards digital media detox.Keywords: Detox, Digital media, AttitudeAbstraksiPenetrasi penggunaan media digital khususnya milennial semakin lama dan masif. Dalam sehari rata rata milennial menggunakan media digital hingga 5 jam perhari. Penggunaan media digital yang sudah semakin masif memunculkan permasalahan bagi para penggunanya. Mulai dari masalah fisik hingga maslah psikologis. Sayangnya dampak yang ditimbulkan dari penggunaan media sosial, tidak diikuti dengan peningkatan kesadaran penggunanya. Sebagian besar pengguna media sosial bahkan tidak sadar dengan efek negatif penggunaan media sosial yang terus menerus yang mereka alami. Karena itulah diperlukan sebuah terobosan untuk mengurangi penggunaan sosial media. Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan detox media sosial, yakni mengurangi penggunaan media sosial dan menyeleksi content yang mendatangkan pengaruh buruk bagi milennial. Sayangnya, tidak semua milennial melakukan aktifitas ini, karena persepsi dan pemahaman yang salah dari detox media sosial.Kata Kunci: detox media digital, persepsi, partisipasi
MANAJEMEN KOMUNIKASI PASANGAN PEKERJA RUMAH TANGGA DI JAKARTA DALAM MENGHADAPI KRISIS KEUANGAN KELUARGA Dyah Sri Subandiah
Jurnal Visi Komunikasi Vol 14, No 1 (2015): May 2015
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/visikom.v14i1.1666

Abstract

In some big cities such as Jakarta, Surabaya and Bandung, communication patterns began to change with a shift in values and culture. One important dimension of family communication is adaptation to change. Communication theory used in the Family, the Family Adaptation, Communication Patterns, and Financial Crisis This research is a qualitative study using a phenomenological approach. Data collection techniques using face-to-face in-depth interviews and continuously to get information from informants. Because the interviews were conducted more than once, it is also called intensive interviews.The findings showed three communication strategies in the face of the financial crisis (1) proactive, trying actively to discuss financial issues, (2) prediction in the form of social gathering needs brother, and (3) social networks, namely improving communication with the utilization of information technology.While internally, the couple's communication patterns are applied is interactional. There is no openness and reciprocity between the two. Starting with a new pattern of nonverbal communication continued to verbal communication.Beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Bandung, pola komunikasi mulai berubah seiring dengan terjadinya pergeseran nilai-nilai dan budaya. Salah satu dimensi penting dalam komunikasi keluarga adalah adaptasi terhadap perubahan. Teori yang digunakan Komunikasi dalam Keluarga, Adaptasi dalam Keluarga, Pola Komunikasi, dan Krisis Keuangan Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara tatap muka secara mendalam dan terus menerus untuk menggali informasi dari informan. Karena wawancara dilakukan lebih dari satu kali, maka disebut juga intensive interviews.Temuan penelitian menunjukkan tiga strategi komunikasi dalam menghadapi krisis keuangan yakni (1) proaktif, mencoba aktif untuk membicarakan masalah keuangan, (2) prediksi kebutuhan dalam bentuk arisan saudara, dan (3) jejaring sosial, yaitu meningkatkan komunikasi dengan pemanfaatan teknologi informasi. Sementara secara internal, pola komunikasi yang pasangan ini terapkan adalah adalah interaksional. Ada keterbukaan lalu ada timbal balik antara keduanya. Di awali dengan pola nonverbal communication baru dilanjutkan ke komunikasi verbal.