MARIANI FEBRIANA LERE DAWA
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI ALETHEIA

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PEREMPUAN DI PERSIMPANGAN JALAN DARI REFORMASI MARIANI FEBRIANA LERE DAWA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2017): SEPTEMBER 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i2.62

Abstract

Abstrak: Merayakan Reformasi Gereja yang ke-500 tahun pada tahun ini tidaklah menjadi lengkap tanpa mendiskusikan peran perempuan dalam perjuangan Reformasi. Tradisi mencatat banyak hal yang berkaitan dengan laki-laki dalam Gerakan Reformasi, namun sedikit yang membuka tabir tradisi di baliknya mengenai peran perempuan. Karena itu, artikel ini memberikan catatan sejarah yang tersembunyi mengenai peran perempuan dan menunjukkan betapa kontribusi perempuan dalam penyebaran ideide Reformasi tidak dapat diabaikan.  Para perempuan dari kalangan bangsawan dan juga para istri pendeta dari gereja Protestan memberikan diri mereka dengan keunikan masing-masing dalam tugas panggilan mereka. Mereka dengan berani dan dengan rela menyerukan suara Reformasi ini, sekalipun kematian menjadi ancaman bagi mereka. Bagi para perempuan tangguh dalam Reformasi ini, tidak ada kata lain selain Kebenaran Injil diberitakan.   Bergerak dari Jerman, menuju Strasbourg, Perancis, Jenewa, dan Inggris, beberapa perempuan yang disebutkan di sini adalah mereka yang sudah menyuarakan suara mereka dalam era dan waktu mereka. Karena itu, bersama dengan mereka pada hari ini, mari kita menyerukan suara kebenaran ini sembari menyadari hakekat dan karunia diri kita masing-masing, agar berita Injil tersebar ke semua penjuru.Kata-kata Kunci: Reformasi, peran perempuan, hakekat dan karunia, istri, dan pejuang kokoh
RESENSI BUKU : LISTENING TO THE PAST : THE PLACE OF TRADITION IN THEOLOGY MARIANI FEBRIANA LERE DAWA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v2i1.20

Abstract

Mendengar kata tradisi maka secara sekilas timbul kesan bahwa tradisi itu adalah kuno, dan bersifat stagnan serta tidak memiliki keterkaitan dengan hidup kita pada saat ini. Kesan ini menjadi pupus kala membaca tulisan dari Holmes. Holmes mengajak kita secara serius mendengar kepada tradisi dari gereja dan bagaimana tradisi itu bermanfaat dalam menyusun kerangka teologi pada hari ini. Memang secara sekilas membaca judul dari buku ini akan timbul kesan bahwa buku ini sedang membahas pemikiran teologi gereja pada abad mula-mula dan bagaimana menempatkan pemikiran teologis itu dalam hidup gereja. Namun rupanya Holmes mendiskusikan peran dari tradisi dalam konteks yang lebih luas dari beragam tradisi, baik dari pemikiran Agustinus, Basil, Gregorius Nazianzus, John Damascus, Calvin,  Anselmus, Edwards, Anabaptis, Baptis dan lain-lain.
LAJANG DALAM GEREJA DAN PELAYANAN MARIANI FEBRIANA LERE DAWA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2015): MARET 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v3i1.35

Abstract

Berbagai macam stereotip dan stigma yang diberikan kepada para lajang dalam kehidupan sehari-sehari. Tidak tertutup kemungkinan penilaian itu juga terjadi di dalam gereja Tuhan. Beranjak dari pemikiran Yesus dan Paulus, maka melajang atau menikah bukanlah suatu persoalan utamanya. Melainkan persoalan penting hari ini adalah apakah  dalam budaya yang berorientasi kepada keluarga hari ini, para lajang mendapatkan penghargaan dan penerimaan yang berimbang dari gereja terhadap diri mereka. Penerimaan berimbang di sini diperhadapkan dengan komparasi cara gereja bersikap terhadap mereka yang sudah menikah dan kepada para lajang di dalam pelayanan dalam suatu kategori tertentu yang menampakkan suatu pembedaan yang signifikan.    Sikap pembedaan ini tidak boleh tumbuh subur dalam gereja, karena Kitab Suci membuka kesempatan bagi kedua itu ada dalam gereja, khususnya dalam melayani Allah. Karena itu, harus ada suatu perubahan paradigma cara berpikir gereja terhadap para lajang untuk menuju kepada suatu komunitas gereja yang transformatif. Perayaan gereja dalam pelayanannya diletakkan kepada identitas mereka dalam Kristus dan bukan karena status melajang atau menikah atau apapun yang gereja hendak  kenakan pada dirinya.   Lajang dalam pelayanan gereja adalah suatu karunia dalam hidup gereja dan karena itu gereja harus mendukung dan mendorong mereka untuk melakukan suatu karya pelayanan yang lebih besar, agar pertumbuhan dari tubuh Kristus mencapai tujuan yang dikehendaki oleh Allah.   Kata kunci:  Lajang, Menikah, Pelayanan, Kultur Masyarakat, Sikap Gereja.
SPIRITUALITAS AMNESIA VERSUS SPIRITUALITAS : SUATU RFELEKSI DALAM KOMUITAS HIDUP GEREJA MARIANI FEBRIANA LERE DAWA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i2.14

Abstract

Spiritualitas anamnesis bertemu dengan spiritualitas amnesia, suatu kebangkitan bertemu dengan kematian dan ketertiduran. Namun dalam pertemuan dan bahkan pertarungan diantara keduanya diupayakan agar anamnesis mendapat tempat utamanya. Anamnesis menolong gereja, yang terbenam dan terbuai dalam ranjang amnesia, terbangun; Terbangun dari mimpi, yang palsu menuju kepada suatu realitas yang otentik dari kehidupan.   Perkataan anamnesis dari Kristus dan tulisan perjamuan kudus dari Paulus menegaskan bahwa anamnesis bukan sekedar mengingat yang bersifat historis, melainkan mengingat yang mengarah kepada pertemuan dengan identitas diri serta terintegrasi dalam pengalaman eksistensial diri sebagai individu dan sebagai gereja yang bersifat korporat, bahwa sesungguhnya gereja Yesus Kristus, yang diutus kedalam dunia adalah gereja yang dapat bertumbuh dalam kesatuan diri dengan Kristus, dan sesama.    Anamnesis mengingatkan apa itu gereja dan kemanakah gereja sedang melangkah, dalam tujuan eskaton. Itulah sebabnya mentalitas dan pisau pembedahan dari anamnesis membuat kita masuk dalam panggilan apa arti menjadi murid Yesus dalam dunia. Anamnesis mengingatkan bangkit dari realita tidur masa lalu menuju pada realita terjaga hari ini dan dimasa depan.   Kata Kunci: Spiritualitas, amnesia, anamnesis, perjamuan kudus, jati diri, gereja dan panggilan.
LEX ORANDI, LEX CREDENDI ET LEX VIVENDI : IBADAH DAN PERILAKU KEHIDUPAN ORANG PERCAYA MARIANI FEBRIANA LERE DAWA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 1 (2016): MARET 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v4i1.47

Abstract

Abstrak: Betapa sering orang  percaya menghadiri ibadah minggu demi minggu, namun kehidupan dan perilakunya tidak menunjukan sebagai seorang yang beribadah. Terputusnya relasi di antara ibadah dan kehidupan dalam kebanyakan orang percaya menantang gereja untuk menolong dan melatih umat mengenai apa sebenarnya yang terjadi di dalam ibadah, khususnya ibadah yang ditindaki dengan seperangkat liturgi. Liturgi yang dilakukan oleh gereja sebenarnya bukan sekedar urutan acara yang dilakukan dalam ibadah, melainkan liturgi adalah jendela kehidupan dalam kerajaan Allah, bahwa sedemikianlah seharusnya umat itu hidup sehari-hari. Ibadah dalam ruang yang tersedia dengan perangkat liturgi yang ada menjadi simbol bagaimana umat seharusnya hidup di dalam dunia, karena ruang ibadah itu adalah ruang dunia dan liturgi itu adalah cara kehidupan orang percaya yang diringkas dalam satu pola kehidupan. Dalam hal ini, maka liturgi itu sebenarnya juga menjadi acuan pelatihan dari gereja bagaimana memuridkan umat Allah untuk menjadi umat yang diutus masuk ke dalam dunia dengan membawa kehidupan ilahi, sebagai garam dan terang dunia.   Kata-kata Kunci: Ibadah, Liturgi, misi dan perilaku orang percaya