MARKUS DOMINGGUS LERE DAWA
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI ALETHEIA

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MENYOAL SIKAP GEREJA TERHADAP POLITIK MARKUS DOMINGGUS LERE DAWA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 17, No 9 (2015): SEPTEMBER 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v3i2.40

Abstract

Abstrak: Sikap gereja terhadap politik adalah isu yang masih terus relevan untuk didiskusikan di Indonesia. Setiap kali menjelang pemilu atau menyikap isu-isu tertentu dalam politik negara orang Kristen ramai meributkan sikap yang sebaiknya diambil gereja. Sikap yang banyak diambil adalah menjauhkan diri dari politik atau sekurang-kurangnya netral. Berangkat dari kasus sikap Sinode Gereja Kristus Tuhan (GKT) terhadap politik, tulisan ini hendak mendorong dilakukannya tinjau ulang terhadap sikap gereja terhadap politik. Dalam dialog dengan sejumlah pemikiran dari filsafat politik klasik dan pikiran sejumlah pemikir Kristen disimpulkan bahwa gereja sebaiknya lebih peduli dan aktif terlibat serta tidak menyerahkan urusan ini melulu kepada anggota-anggota gereja saja.  Kata-kata Kunci: GKT, politik, netralitas, pemerintah, tanggung jawab
REFORMASI GEREJA, JOHN CALVIN, DAN ISLAM MARKUS DOMINGGUS LERE DAWA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2017): SEPTEMBER 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i2.63

Abstract

Abstrak: Tulisan ini berupaya menginvestigasi peran yang dimainkan Islam pada terjadinya Reformasi Gereja abad ke-16, yang berlangsung di masa puncak kejayaan Kerajaan Islam Ottoman-Turki dan di tengah-tengah upaya kerajaan tersebut meluaskan daerah kekuasaannya ke Eropa. Pertemuan-pertemuan dengan Islam dalam cara-cara yang seperti ini melahirkan persepsipersepsi tersendiri terhadap Islam, yang pada tokoh-tokoh Reformator seperti Calvin dikaitkan dengan pandangan teologinya. Bahwa persepsi-persepsi itu umumnya negatif harus diterima sebagai suatu produk dari zaman yang tersendiri, dan tidak bisa ditransfer begitu saja ke masa kini yang sama sekali berbeda.  Kata-kata Kunci: Reformasi, Eropa Barat Kristen, Islam, John Calvin, persepsi.
GEREJA METHODIST DAN PERSOALAN SOSIAL ORANG-ORANG TIONGHOA DI KOTA SURABAYA PADA ZAMAN HINDIA BELANDA, 1909-1928 MARKUS DOMINGGUS LERE DAWA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v2i2.27

Abstract

Pada tahun 1909, Gereja Methodist Episkopal Konferensi Malaysia untuk pertama kalinya membuka sebuah jemaat di Pecinan Surabaya. Sejak itu dan terus selama dua puluh tahun kemudian, Gereja Methodist hadir untuk menjangkau dan melayani orang-orang Tionghoa yang berdomisili di wilayah itu. Sebagai pendatang yang mencari nafkah di negeri asing, orang-orang Tionghoa yang menjadi target Gereja Methodist ini menghadapi sejumlah persoalan: lingkungan pemukiman yang buruk, lingkungan sosial yang sakit, hidup tanpa pasangan dan pendidikan. Lewat teori-teori tentang keterlibatan gereja dalam isu-isu sosial yang dihadapi oleh masyarakatnya, dan khususnya pikiran Calvin Van Reken tentang peran gereja sebagai institusi dan gereja sebagai organisme, artikel ini mencoba secara kritis meneropong peran yang dimainkan Gereja Methodist dalam mengatasi masalah yang dihadapi orang-orang Tionghoa di Pecinan Surabaya. Dari kedua karakter itu, Gereja Methodist Episkopal di Surabaya telah coba menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi oleh orang-orang Tionghoa di Pecinan. Namun pendekatan yang dipakai masih pada menciptakan ruang alternatif di dalam kompleks gereja dan belum sampai menyentuh pada fundamen persoalan, yaitu kebijakan pemerintah kolonial Belanda untuk orang-orang Tionghoa kala itu.   Kata kunci: Gereja Methodist, orang Tionghoa, Pecinan Surabaya, masalah-masalah sosial, gereja sebagai institusi, gereja sebagai organisme.