ALFIUS ARENG MUTAK
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI ALETHEIA

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

DISIPLIN ROHANI SEBAGAI PRAKTEK IBADAH PRIBADI ALFIUS ARENG MUTAK
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 1 (2016): MARET 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v4i1.45

Abstract

Abstrak: Istilah Disiplin Rohani sudah dikenal luas di kalangan orangorang percaya, walaupun ada yang tidak setuju dengan kata ―disiplin‖ yang dikaitkan dengan hal-hal rohani. Secara umum disiplin rohani dipahami sebagai praktek atau kegiatan yang dilakukan dalam rangka membangun relasi dan komunikasi dengan Tuhan secara pribadi. Untuk membangun hubungan yang baik dengan Tuhan diperlukan kedisiplinan bukan semau dan sesukanya. Hal ini di perkuat oleh Paulus dalam nasehatnya kepada Timotius dengan mengatakan ―Latihlah dirimu beribadah‖ (1 Timotius 4:7c). Paulus mengingatkan Timotius agar terus melatih dirinya beribadah. Untuk melatih diri membutuhkan disiplin. Karena disiplin rohani adalah sarana dalam menumbuh kembangkan kesalehan hidup. Selain untuk membangun komunikasi yang intens dengan Tuhan dan Bapa kita, disiplin rohani juga adalah sebagai bagian dari ibadah pribadi, karena lewat disiplin rohani seseorang dapat sekaligus beribadah kepada Allah Tuhannya. Tulisan ini mengangkat bagian-bagian dari disiplin rohani yang pada hakekatnya adalah ibadah pribadi itu sendiri. Melalui disiplin rohani seseorang mendekatkan diri kepada Tuhan, berkomuniksai dengan datang  di hadapan Allah, karena esensi dari pada ibadah itu adalah perjumpaan dengan Allah.      Kata-kata kunci: Disiplin rohani, ibadah pribadi
REFORMASI DAN PENDIDIKAN KRISTEN : MENELUSURI WARISAN REFORMASI DALAM PENDIDIKAN KRISTEN ALFIUS ARENG MUTAK
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2017): SEPTEMBER 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i2.59

Abstract

Abstraksi: Tujuan utama dari tulisan ini ialah untuk melihat relasi antara peringatan 500 tahun reformasi dengan pendidikan Kristen. Reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther dengan menempelkan sembilan puluh lima dalil di pintu gereja di kota Wittenberg, Jerman sebagai protesnya terhadap teologi dan pengajaran gereja pada 31 Oktober 1715 telah memberikan dampak yang sangat besar dalam pendidikan Kristen.  Dampak-dampak itu dapat dilihat dari banyak kontribusi yang diberikan oleh gerakan reformasi bagi dunia pendidikan di seluruh dunia. Hal itu dapat dilihat dari munculnya tokoh-tokoh penting yang berjuang bagi pendidikan baik di Eropa, Amerika, dan Indonesia. Kenyataan ini tentu tidak mengherankan karena sejak semula perjuangan yang dilakukan oleh Martin Luther dan kawan-kawan adalah berjuang selain bagi iman dan teologi, ia juga berjuang dalam bidang pendidikan. Hal yang sama dilakukan oleh John Calvin yang dibuktikan dengan didirikannya Jenewa Academy sebagai tempat belajar.  Bukan hanya itu, beberapa pakar pendidikan seperti Yohanes Amos Comenius, Johann H. Pestalozzi, dan Robert Raikes telah memberikan kontribusi yang besar bagi pendidikan di Eropa. Hal yang sama juga terjadi di Amerika tiga tokoh gereja Reformed seperti Louis Berkhof, Cornelius Van Till, dan Nicholas P. Wolterstorff. Karena gereja-gereja garis utama di Indonesia berasal dari Calvinis, maka tidak bisa ditampik bahwa gerakan reformasi telah memberikan kontribusi yang besar bagi pendidikan Kristen di Indonesia.  Kata-kata Kunci: Pendidikan Kristen, Reformasi, Calvinisme
RESENSI BUKU : BUILDING A STRONG YOUTH MINISTRY ALFIUS ARENG MUTAK
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i1.25

Abstract

Penulis menyajikan paling tidak lima pertanyaan yang menimbulkan jalan buntu dalam pelayanan kaum muda yaitu: - Tidak mampukah anda melontarkan gagasan yang baik walaupun hanya sedikit? – Mampukah anda  mencegah kami dari kegagalan? – Bersediakah anda membantu gereja saya agar mengerti bahwa dalam pelayanan jumlah tidaklah penting? – Mampukah anda mengeluarkan saya dari permainan politik ini? (hal 19-28)
FORMASI SPIRITUALITAS SARANA MENUJU KEDEWASAAN SPIRITUAL ALFIUS ARENG MUTAK
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v6i1.70

Abstract

Abstraksi:Salah satu tujuan dari formasi spiritualitas adalah agar orang percaya mengalami pertumbuhan dalam relasinya dengan Tuhan yang ia percayai. Pertumbuhan itulah yang kemudian menggiringnya menuju kepada kedewasaan penuh didalam Kristus, hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Efesus,―Sampai kita semua menuju kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.‖ (Efesus 4:13)   Menuju kepada kedewasaan penuh adalah sebuah proses yang panjang dalam  membangun kedekatan dengan Tuhan dan itu terjadi lewat formasi spiritualitas. Karena itu kedewasaan spiritual mensyaratkan penataan ulang prioritas, berubah, dan belajar menaati Allah. Kunci dari kedewasaan ini adalah kekonsistenan, ketekunan dalam melakukan hal-hal yang mendekatkan kita pada Allah lewat pembacaan dan mempelajari Alkitab, doa, persekutuan, dan pelayanan. Spiritualitas itulah yang menggerakkan kita menunjukkan perhatian bagi kesejahteraan sesama.  Kata Kunci:Formasi spiritualitas, pertumbuhan spiritual, dan kedewasaan spiritual
REPOSISI HATI : MEMAHAMI PANGGILAN DAN DINAMIKA SPIRITUALITAS HAMBA TUHAN ALFIUS ARENG MUTAK
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v2i1.17

Abstract

Seorang hamba Tuhan harus mengerti panggilan dan dinamika spiritualitasnya, mengapa demikian? Karena panggilan adalah bagian yang penting dari seorang hamba Tuhan, maka  sebagai seorang pelayan Tuhan ia harus yakin seyakin-yakinnya bahwa ia dipilih dan di panggil serta ditetapkan oleh Tuhan  kedalam tanggung jawab pelayanan. Seiring dengan berjalannya waktu, kadangkala hamba Tuhan mulai kabur terhadap panggilannya sebagai seorang hamba Tuhan. Tulisan ini mengulas kembali tentang pentingnya memahami panggilan diri sebagai hamba Tuhan dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pelayan Tuhan.   Memahami panggilan itu tidaklah cukup bagi seorang hamba Tuhan, sebagai pemimpin rohani, ia juga harus tahu bahwa seorang pemimpin rohani, ia harus menunjukkan kehidupan kerohanian yang terus bertumbuh, sehingga ia dapat menjadi teladan bagi jemaat yang dilayaninya. Tetapi dalam perjalanan pelayanan hamba Tuhan sering menghadapi kelelahan dan kekeringan rohani, keadaan ini tentu tidak baik bagi seorang hamba Tuhan. Dalam menghadapi dinamika spiritualitasnya, seorang hamba Tuhan harus menyadari kedaannya, serta mengambil langkah-langkah yang tepat dalam membangun kembali spiritualitasnya, dengan membangun disiplin rohani yang baik dan teratur, serta lectio divina yaitu pembacaan Firman Tuhan yang lebih mendalam.       Kata kunci:  Formasi spiritual, panggilan hamba Tuhan, kekeringan rohani, disiplin rohani, lectio divina.