Gumulya Djuharto
Sekolah Tinggi Teologi Aletheia, Lawang, Jawa Timur

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEBUNTUAN RELASI ATAU LEGITIMASI KEKERASAN: JARINGAN INTERAKSI ANTARA PERILAKU KORUP AKHAN DAN POTENSI CORPORATE SIN DALAM YOSUA 7 Gumulya Djuharto
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 1 (2020): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i1.100

Abstract

The presence of elements of violence and vengeance in Joshua 7 has always intrigued scholars. This study first presents a brief survey of Joshua 7 based on the interpretations of scholars in making the text understandable, reliable and therefore applicable to the current contexts. After that, I propose the relation impasses as the key to understand the text that displayed the web interaction between the corrupt attitude of one person (i.e. Achan) and the potential of the corporate sin (i.e. Israel’s community). The analysis of the participant-reference shifts in Joshua 7 proved that potency.  And because of that serious threat, the coming judgment was an inevitable outcome to Achan and his family. Kehadiran elemen kekerasan dan pembalasan dendam dalam Yosua 7 selalu menarik perhatian para ahli. Pertama-tama, studi ini akan menampilkan survei singkat tentang Yosua 7 berdasarkan penafsiran-penafsiran para ahli untuk membuat teks ini dapat dimengerti dan dipercaya sehingga dapat diaplikasikan dalam konteks sekarang. Setelah itu, penulis mengusulkan kebuntuan relasi sebagai kunci untuk memahami teks yang menampilkan jaringan interaksi antara sikap korup seseorang (yaitu Akhan) dan potensi terjadinya dosa komunitas (yaitu komunitas Israel). Analisa perubahan-perubahan partisipan dan referensi di Yosua 7 membuktikan potensi dosa corporate sin tersebut. Oleh karena ancaman yang serius itu, penghakiman yang terjadi adalah akibat yang tidak dapat terelakkan lagi bagi Akhan dan keluarganya.
Koreksi prospektif teks 2 Samuel 24 terhadap perilaku Daud bagi rekonstruksi kebijakan publik yang akuntabel Gumulya Djuharto
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.468

Abstract

This article offers another solution from the various solutions that have been offered previously to the problem in 2 Samuel 24 which is more disjunctive rather than conjunctive. In fact, conjunctive understanding using the public theology perspective of Paul Hanson which is analyzed by Oliver Glanz??"s Participant-Reference Shifts Theory has the potency to produce a conjunctive solution in the form of an accountable public policy. This accountable public policy is based upon the correction of David??"s behavior, which should communicate dialogically with God, and consecutively, a dialogical communication with his subordinates through transparent sharing of vision and values. This communication model becomes a preparation key for interaction with less familiar communities that are characterized by mutual respect, and not a compromising attitude, while still promoting togetherness in solving problems that arise in a community.AbstrakArtikel ini menawarkan solusi lain dari berbagai solusi yang pernah ditawarkan sebelumnya terhadap permasalahan dalam 2 Samuel 24 yang lebih bersifat disjungtif dan bukan konjungtif. Padahal, pemahaman secara konjungtif dengan menggunakan perspektif teologi publik dari Paul Hanson yang dianalisis berdasarkan Teori Participant-Reference Shifts dari Oliver Glanz terhadap teks tersebut berpotensi menghasilkan solusi konjungtif berupa suatu kebijakan publik yang akuntabel. Kebijakan publik yang akuntabel tersebut bermuara pada koreksi perilaku Daud yang seharusnya berkomunikasi secara dialogis dengan Tuhan, dan berdampak pada terciptanya komunikasi dialogis dengan para bawahannya melalui sharing visi dan nilai-nilai secara transparan. Model komunikasi tersebut menjadi kunci persiapan menuju interaksi dengan komunitas yang kurang familier yang bercirikan sikap saling menghormati, dan bukan sikap kompromistis, dengan tetap mengedepankan kebersamaan dalam menyelesaikan masalah yang muncul dalam suatu komunitas.