Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK OLAHAN KELAPA DALAM PADA MODEL PERTANIAN BIOINDUTRI DI KABUPATEN MAJENE ketut Indrayana; Hesti Rahasia; Muh. Rikcy; Chicilia Iriyani Rayo
Jurnal Agrisistem : Seri Sosek dan Penyuluhan Vol 16 No 2 (2020): Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52625/j-agr-sosekpenyuluhan.v16i2.90

Abstract

Konsep pertanian bioindustri tanpa limbah sebagai salah satu strategi untuk peningkatan nilai tambah dan daya saing serta kesejahteraan petani. Konsep ini, menuntut setiap lini produk mempunyai nilai jual, sehingga penggunan sumber daya menjadi efisien dan dapat menekan biaya produksi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan kawasan administrasi pemerintahan dalam suatu model bioindustri terpadu yang terbentuk secara partisipatif oleh seluruh komponen masyarakat/lembaga dalam satu desa yang terlibat dalam bioindustri di desa tersebut. Komoditas utama yang ditangani yaitu kelapa dalam. Komoditas lain yang berpotensi meningkatkan nilai tambah dan pendapatan masyarakat secara nyata di masyarakat juga ikut dikembangkan. Hasil kajian ini menunjukan Jumlah kelompok tani yang terlibat dalam kegiatan sebanyak 3 (tiga) kelompok dengan jumlah anggota petani sebanyak 75 orang. Tingkat pendidikan rata-rata dari SD – S1 dengan umur rata-rata 41,63 tahu. Lahan kelapa anggota kelompok yang termasuk dalam kegiatan bioindustri seluas 35,25 ha dengan rata-rata kepemilikan 1,33 ha setiap anggota, Pengelolaan Kelapa dalam oleh anggota kelompok tani telah memproduksi atau menghasilkan kopra sebesar 43.234 kg dengan tingkat nilai penerimaan sebesar Rp. 259.404.000,-, Minyak Kelapa sebesar 10.795 liter dengan tingkat nilai penerimaan sebesar Rp. 161.925.000 dan pengeolahan arang tempurung sebesar 11.326 kg dengan nilai penerimaan Rp. 45.304.000,-, Nilai penerimaan kotor anggota kelompok tani bioindustri pada tahun 2019 sebesar Rp. 466.633.000- dengan rata-rata penerimaan setiap kelompok sebesar Rp. 155.544.333,-, Masih diperlukan peningkatan dan penguatan kinerja kelompok khususnya terhadap peningkatan kinerja anggota, pemanfaatan kelompok tani (gapoktan) sebagai pusat perencanaan dan pelaksanaan kerja anggota.
AKSELERASI PERMASYARAKATAN TEKNOLOGI PRODUKSI KAKAO MENDUKUNG PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KOMODITAS EKSPOR DI SULAWESI BARAT ketut Indrayana; Hesti Rahasia
Jurnal Agrisistem : Seri Sosek dan Penyuluhan Vol 17 No 1 (2021): Jurnal Agrisistem: Seri Sosek dan Penyuluhan
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52625/j-agr-sosekpenyuluhan.v17i1.179

Abstract

Sulawesi Barat merupakan salah satu daerah penghasil kakao tertinggi diindonesia. Biji kakao merupakan salah satu komoditas ekspor andalan hasil pertanian yang besar dan salah satu komoditas penyumbang tersbesar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Sulawesi Barat.Luas pertanaman kakao di Sulawesi Barat pada tahun 2017 mencapai 145.787 Ha Luas Tanaman Kakao Yang menghasilkan 92.413 Ha, dengan produksi 73.297 ton, Produktivitas baru mencapai 0,79 ton/ha (Dirjen Perkebunan). Potensi lahan untuk pengembangan kakao di Sulawesi Barat masih sangat terbuka. Potensi pengembagan tersebut didukung oleh potensi lahan yang cukup sesuai untuk kakao seluas 467.627 ha. Hasil kegiatan ini yaitu Pola/model Diseminasi Multi Channel (DMC) dapat meningkatkan adopsi inovasi teknologi budidaya dan pasca panen kakao dari 19,44 persen menjadi 45,56 persen di Kecamatan Kalukku dan dari 30,00 % menjadi 73,89% di Kecamatan Papalang. Peningkatan adopsi inovasi teknologi budidaya dan pasca panen kakao mengakibatkan terjadinya peningkatan produktivitas kakao dari 450,71 kg/ha/th menjadi 720,50 kg/ha/tahun di Kecamatan Kalukku dan dari 570,30 kg/ha/tahun menjadi 1.239,71 kg/ha/ tahun di Kecamatan Papalang setelah dilakukan Kegiatan.Selain itu juga terjadi peningkatan mutu biji kakao yang dihasilkan petani pada ke dua lokasi sehingga sesuai dengan SNI