Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

GENEALOGI DALAM RANGKA PENCIPTAAN SERAT DARMASARANA KARYA R. NG. RANGGAWARSITA Anung Tedjowirawan
Humaniora Vol 18, No 2 (2006)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.947 KB) | DOI: 10.22146/jh.870

Abstract

The goal of the writing of Serat Darmasarana by R.Ng. Ranggawarsita is the reception of Âdiparwa and continuation of the story of Mosalaparwa, Prasthanikaparwa, and Swargarohanaparwa. By writing Serat Darmasarana and texts in the Pustakaraja Madya R.Ng. Ranggawarsita intends to place Pengging as a myth, as the central government in Java, after the fall of Kediri. Further, R.Ng. Ranggawarsita also wants to place the Gods and Pandawa as the ancestors of Mataram Kings.
Persejajaran Unsur-unsur Autochton dalam Cerita Panji Angreni dengan Cerita PantunMundinglaya Dikusumah Anung Tedjowirawan
Humaniora Vol 16, No 3 (2004)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2481.951 KB) | DOI: 10.22146/jh.1310

Abstract

Panji Angreni is a popular Panji story while the others besides Mundignlaya Dikusumah poem story a well known Sunda poesm, besides Lutung Kesarung, Ciung Wanara, and Nyi Sumur Bandung. Lirk common poems, Mundinglaya Dikusumah story belongs to a series of sacred stories or legends and is connected with traditional ceremonies such as children circumcision or marriage. The connection between Panji story with Padjajaran King. Fact of that Prabu Surya Amiluhur as a figure Panji story, will be the King of Padjajaran in the future. Poerbatjaraka and Berf claimed that Panji stories have historical background Poerbatjaraka placed the figure, in the era of Kediri while Berg placed them during the region of Hayam Wuruk in Majapahit Kingdom by Hayam Wuruk King. Rases Anthropology Structure Analysis of Panji Angreni Story and Mundinglaya Dikusumah poem story explained that both of the stories contained autochton principles which include; a)Totemisme, b) Classification System, c) Myte, 4) Cross Caussine, e) Stamheros and f) Intitation.
Teks-teks Sumber Wayang Madya (Relasi, Konstruksi, dan Persamaan Beberapa Tokohnya dengan Raja-Raja Jawa) Anung Tedjowirawan
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1657.909 KB) | DOI: 10.22146/jh.1951

Abstract

Wayang Madya adalah salah satu jenis seni pertunjukkan wayang yang telah lama tenggelam. Sekalipun tidak pernah populer di Surakarta, seperti dikemukakan Pigeaud (Pigeaud, 1967), tetapi pernah dipentaskan di Istana Mangkunegaran di abad 19 dengan mengambil lakon Jayabaya (Claire Holt, 1967). Bentuk Wayang Madya adalah paduan Wayang kulit (Purwa) dengan Wayang Gedhog. Bagian atas sampai tengah mengambil bentuk wayang Purwa, sedangkan bagian tengah ke bawah mengambil bentuk Wayang Gedhog (Sayid, 1981). Sumber bahan Wayang Madya pun menjadi jembatan yang menghubungkan bahan kedua tradisi wayang tersebut. Jika Wayang Purwa mengambil cerita dewa-dewa sampai keluarga Pandawa dan Wayang Gedhog mengambil cerita Panji dari Jenggala dengan putri Kediri (Uhlenbeck, 1964), maka Wayang Madya mengambil cerita para cucu Pandawa sampai menjelangPanJI (Brandon , 1970). Dapat pula cerita sejak peristiwa wafatnya Prabu Yudayana sampai masa Prabu Jayalengkara naik tahta tahun 765 C -1052 C (863 M 1130 M) (Kats, 1924).
Kakawin Udayana: Kajian Hermeneutika atas Teks Kakawin Minor dalam Tradisi Bali Tedjowirawan, Anung
Manuskripta Vol 9 No 1 (2019): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v9i1.101

Abstract

Kakawin Udayana (Udayanacarita) is a kakawin minor in Balinese tradition. Kakawin Udayana tells the life story of King Udayana (Sri Manmatamurti, Sri Kamamurti), the son of Sang Sri Satasenya, the descendant of Pandu. Prabangkara's painting led Udayana fell in love and sought to fondle Dewi Anggarawati (Dewi Anggara, Sri Sudewi), the consort of Maharaja Candrasena from Yarwanti Kingdom. As a result, Maharaja Candrasena ordered Perwira Pemberani (The Brave Officers) to trick and arrest King Udayana. Finally, King Udayana sentenced to death. The primary source of this research is Kakawin Udayana. Sĕrat Darmasarana, Sĕrat Yudayana and Adiparwa, the first part of Mahabharata, are also used as comparison and complementary materials. This research applies the theory of hermeneutics and comparative literary theory. The method used in this research is by way of proving the researcher’s various presumptions about the character of Udayana in Kakawin Udayana. Evidently, the choosing of Udayana’s character is to represent Udayana, the king of Bali who has overthrown Erlangga (Airlangga). Thus, there is a point of association connecting Kakawin Udayana (Balinese tradition) with SĕratDarmasarana, Sĕrat Yudayana (Javanese tradition), and Adiparwa (Indian tradition). === Kakawin Udayana (Udayanacarita) adalah kakawin minor dalam tradisi Bali. Kakawin Udayana mengisahkan kisah kehidupan Raja Udayana (Sri Manmatamurti, Sri Kamamurti), putra Sang Sri Satasenya, keturunan Pandu. Melalui lukisan Prabangkara menyebabkan Udayana jatuh cinta dan berusaha mencumbui Dewi Anggarawati (Dewi Anggara, Sri Sudewi), permaisuri Maharaja Candrasena dari Kerajaan Yarwanti. Akibatnya Maharaja Candrasena memerintahkan Perwira Pemberani untuk memperdaya serta menangkap Raja Udayana. Raja Udayana akhirnya dijatuhi hukuman mati. Bahan utama penelitian ini adalah Kakawin Udayana, dan sebagai bahan pelengkap pembanding adalah Sĕrat Darmasarana, Sĕrat Yudayana maupun Adiparwa bagian pertama Mahabharata. Dalam penelitian teori yang digunakan adalah teori hermeneutika dan teori sastra bandingan. Adapun metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan jalan membuktikan dugaan peneliti atas berbagai asumsi yang muncul dalam pikiran peneliti tentang tokoh Udayana dalam Kakawin Udayana. Pemilihan tokoh Udayana ini rupanya dalam rangka merepresentasikan Udayana, Raja Bali yang menurunkan Erlangga (Airlangga). Dengan demikian ada titik kaitan antara Kakawin Udayana (tradisi Bali) dengan Sĕrat Darmasarana, Sĕrat Yudayana (tradisi Jawa) maupun Adiparwa (tradisi India).