Muh. Isnanto
Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gagasan dan Pemikiran Muhammadiyah Tentang Kaderisasi Ulama (Studi Kasus tentang Ulama di Muhammadiyah) Muh. Isnanto
Aplikasia: Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama Vol. 17 No. 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/aplikasia.v17i2.1380

Abstract

Pendidikan Islam bukan sekedar proses penanaman nilai-nilai moral untuk membentengi diri dari ekses negatif globalisasi. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai moral yang telah ditanamkan pendidikan Islam mampu berperan sebagai kekuatan pembebas (liberating force) dari himpitan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan sosial budaya dan ekonomi (Syafi’i Ma’arif). Ada kegelisahan terhadap pengkaderan ulama di kalangan pengasuh dan pendidik sehingga  muncul pertanyaan "akan dibawa kemana pemikiran kaderisasi ulama  ini?" atau "bagaimana sistem pengkaderannya?". Ghiroh pengkaderan adalah mencetak ulama sebagai sumber daya manusia yang berkualitas dan berkeadaban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Muhammadiyah memang sedang terjadi krisis ulama, bahkan ada yang lebih ekstrim lagi krisis da’i, yaitu kiris ulama yang intelektual dan intelektual yang ulama. Kedua, faktor-faktor yang menyebabkan ada 2 yaitu faktor internal bersifat kelembagaan. Kurang berfungsinya struktur kelembagaan di persyarikatan Muhammadiyah menyebabkan tidak berfungsinya lembaga-lembaga yang ada mulai dari tingkat Pusat hingga tingkat ranting. Sedangkan faktor eksternalnya adalah pembentukan pola pikir yang ditinggalkan pemerintah kolonial, menguatnya tarikan dan kepentingan politik yang masuk ke lingkungan Persyarikatan serta standar ulama di Muhammadiyah terlalu tinggi, sehingga tidak banyak yang bisa masuk kategori ini. Ketiga, problem solving untuk mengatasi terjadinya krisis Ulama di Muhammdiyah melalui kelembagaan maupun sosial. Secara kelembagaan, adanya kesadaran kolektif akan pentingnya pengkaderan ulama, dan secara sosial adanya kesadaran warga Muhammadiyah akan pendidikan kader ulama.
Praktik Beragama dan Kearifan Lokal Masyarakat Jawa: Studi Kasus di Andong, Boyolali Muh. Isnanto
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i1.2847

Abstract

The infiltration of global cultural, the development of information technology, differences and diversity of beliefs, professions, political affiliations, and class make the Andong very open, plural and has a high potential for conflict in religious and social life. This research is a case study using an ethnographic interpretive approach. The results showed that the religious practice and local wisdom of the Javanese people in Andong Boyolali can fortify people's lives from global influences so as to create harmony. There are values in religious practice and local wisdom that are quite basic, namely humans must be sincere in all aspects of life, wasilah Imam Syadzili: “Siro podo nyambut gawe kanggo wasilah kanggo ngadang rezekine Gusti Allah miturut kabisane” (You are working as a message to block the fortune of Allah SWT as much as possible) And also Mbah Idris's moral message: “Jembarno atimu, ciutno prasangkamu, gedekno pangapuromu, cilekno piwalesanmu, entengno ikhlasmu” (Expand your heart, narrow your prejudices, increase your forgiving nature, reduce your grudges, lighten your sincerity). [Masuknya budaya global, perkembangan teknologi informasi, perbedaan dan keberagaman keyakinan, profesi, afiliasi politik dan juga golongan menjadikan wilayah Andong sangat terbuka, plural dan memiliki potensi konflik yang cukup tinggi dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan pendekatan interpretative etnografik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik beragama dan kearifan lokal masyarakat Jawa di Andong Boyolali dapat membentengi kehidupan masyarakat dari pengaruh global tersebut sehingga dapat menciptakan keharmonisan. Terdapat nilai dalam praktek beragama dan kearifan lokal yang cukup mendasar yaitu manusia harus ikhlas dalam segala aspek kehidupan, wasilah Imam Syadzili : “Siro podo nyambut gawe kanggo wasilah kanggo ngadang rezekine Gusti Allah miturut kabisane”(Kamu pada bekerja sebagai pesan untuk menghadang rejeki Allah SWT semampunya) Dan juga pesan moral Mbah Idris: “Jembarno atimu, ciutno prasangkamu, gedekno pangapuromu, cilekno piwalesanmu, entengno ikhlasmu” (Lebarkan hatimu, sempitkan prasangkamu, besarkan sifat pemaafmu, kecilkan dendammu, ringankan ikhlasmu).]