Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Fenomena Klasik Pada Tinggalan Arkeologis Dari Masa Kerajaan Demak Di Desa Prawoto Libra Hari Inagurasi
Berkala Arkeologi Vol 21 No 2 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1097.293 KB) | DOI: 10.30883/jba.v21i2.841

Abstract

Di Bukit Prawoto terdapat fenomena klasik-Hindu meskipun berada dalam kerangka sejarah Kerajaan Islam Demak. Fenomena Klasik-Hindu tersebut terlihat pada tinggalan arkeologis dan konsep yang melatarbelakangi pemilihan Bukit atau Gunung Prawoto sebagai tempat untuk mendirikan bangunan pesanggrahan. Yoni, dan lapik arca masih mewarnai konstruksi bangunan pesanggrahan pada ·masa Kerajaan Demak, tetapi telah dialihkan fungsinya, dari sakral religius menjadi fungsi profan. Adapun konsepsi tentang gunung, merupakan konsep yang telah ada sejak masa klasik-Hindu dan tetap mempunyai arti penting pada jaman Kerajaan Demak.
FENOMENA KLASIK PADA TINGGALAN ARKEOLOGIS DI PRAWOTO (Suatu Kajian Pendahuluan) Libra Hari Inagurasi
AMERTA Vol. 21 (2001)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.
PROSPEK PENELITIAN ARKEOLOGI INDUSTRI DI INDONESIA: Sebuah Pemikiran Awal Libra Hari Inagurasi
AMERTA Vol. 29 No. 1 (2011)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tulisan ini merupakan pemikiran awal bertujuan untuk memperkenalkan kajian arkeologi industri (industrial archaeology) di Indonesia. Pertimbangannya ialah arkeologi industri telah lama di kenal di Eropa khususnya di Inggris tetapi di Indonesia merupakan sebuah hal yang baru. Indonesia memiliki peninggalan industri, namun selama ini penelitian arkeologi yang menaruh perhatian pada arkeologi industri belum dilakukan secara optimal. Industri-industri tua tersebut saat ini banyak yang telah punah tenggelam oleh kemajuan zaman, namun masih ada yang bertahan. Peninggalan material industri yang berasal zaman kolonisasi oleh Belanda menjadi bukti-bukti arkeologis tentang aktivitas industri pada masa lampau. Pokok-pokok pemikiran yang tertuang di dalam tulian ini meliputi pengertian arkeologi industri dan sejarah perkembangannya di Eropa, latar belakang pertumbuhan industri di Indonesia, ranah arkeologi industri di Indonesia, prospek penelitian dan pengembangan arkeologi industri di Indonesia. Diharapkan pemikiran yang tertuang dalam tulisan tersebut menjadi langkah awal untuk memajukan arkeologi industri di Indonesia. Kata Kunci: arkeologi industry, prospek di Indonesia Abstract. The Prospect of Industrial Archaeology Reserch: a Preliminary Notion. This article is a preliminary notion, which objection is to introduce industrial archaeology in Indonesia. The reasoning is that industrial archaeology has long been known in Europe, UK in particular, but in Indonesia it is a new subject. Although Indonesia has quite many old industrial remains, thus far archaeological investigations with industrial archaeology as the main focus have not been optimally performed. Many of the old industries have now perished due to modernization. However, there are still some that survive. Remains of industrial activities from the Dutch colonial period are the archaeological evidences about the industrial activities in the olden days. The main considerations in this article include the definition of industrial archaeology and its development history in Indonesia, the domain of industrial archaeology in Indonesia, the prospect of research and development of indus- trial archaeology in Indonesia. It is hoped that the notions in this article can be the initial step to develop industrial archaeology in Indonesia. Keywords: industrial archaeology, prospect in Indonesia
FENOMENA KLASIK PADA TINGGALAN ARKEOLOGIS DARI MASA KERAJAAN DEMAK DI DESA PRAWOTO Libra Hari Inagurasi
Berkala Arkeologi Vol. 21 No. 2 (2001)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v21i2.841

Abstract

At Prawoto Hill there is a classical-Hindu phenomenon even though it is within the historical framework of the Islamic Kingdom of Demak. This classical-Hindu phenomenon can be seen in the archaeological remains and the concept behind the choice of Hill or Mount Prawoto as a place to build a pesanggrahan building. Yoni, and statues still colored the construction of the pesanggrahan building during the Demak Kingdom era, but their function had been transferred from sacred to religious to profane. The concept of mountains is a concept that has existed since the classical-Hindu period and still has an important meaning during the era of the Demak Kingdom.
BATU SILINDRIS DAN BUDIDAYA TEBU DI BANTEN, BATAVIA, DAN SEKITARNYA PADA ABAD KE 17—18 Libra Hari Inagurasi
Naditira Widya Vol. 9 No. 1 (2015): Naditira Widya Volume 9 Nomor 1 April Tahun 2015
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banten dan Batavia adalah contoh dua kota pada abad ke-17 -18 yang memproduksi gula dari bahan baku tebu. Pembuatan gula di Banten dan Batavia dilakukan oleh orang-orang Cina.Tujuan dari tulisan ini adalah memberikan gambaran tentang peralatan yang digunakan untuk menggiling tebu beserta lokasi-lokasinya di Kota Banten, Batavia, dan sekitarnya abad ke-17-18. Adapun tahap-tahap dalam penulisan ini adalah deskripsi terhadap data arkeologi dan penelusuran literatur. Hasil dari penelitian ialah diketahuinya alat yakni batu untuk menggiling tebu dinamakan molen di Museum Situs Banten Lama, Museum Sejarah Jakarta, dan di Kalapadua, Tangerang. Tempat-tempat penggilingan tebu di Banten berada di pemukiman orang Cina seperti Pabean dan Pamarican, adapun di Batavia berada di Ommelanden, misalnya di tepi Sungai Ciliwung. Dalam pembahasan, batu-batu penggilingan tebu yang telah ditemukan tersebut diperbandingkan dengan batu sejenis yang terdapat di Museum Gula di Klaten, Jawa Tengah, guna direkonstruksi cara penggunaannya. Adapun kesimpulan dari tulisan ini Banten dan Batavia abad ke-17-18 menjadi pusat produksi gula di belahan barat Pulau Jawa menggunakan alat dibuat dari bahan batu berbentuk silindris (molen). Banten and Batavia are two cities which produced sugar from sugar cane feedstock during the 17-18th century. The manufactures of sugar in Banten and Batavia were conducted by Chinese. This paper aims to describe the equipments for grinding sugar cane and locations of manufactures not only in Banten and Batavia, but also its surroundings. The method used is description of the archaeological data and literature study. The result shows that there is a stone tool for grinding sugar cane called molen which are being collection at Banten Lama Site Museum, Jakarta History Museum, andin Kalapadua, Tangerang. The sugar mill in Banten were located in Chinatown, such as Pabean and Pamarican, while in Batavia were located in Ommelanden, on the Ciliwung riverbanks. In the discussion, the grinding stones have been compared to similar objects from Sugar Museum in Klaten, Central Java, for reconstruction how the use of tool. It can be concluded that during 17-18th century, Banten and Batavia have become the center of sugar production in western Java, and had been using the cylindrical stone for grinding tool.