Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Artefak Tulang Situs Gua Babi (Kalimantan Selatan): Variasi Tipologis Dan Teknologisnya Bagyo Prasetyo
Berkala Arkeologi Vol 19 No 1 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1879.194 KB) | DOI: 10.30883/jba.v19i1.791

Abstract

Situs ini pertama kali ditemukan pada tahun 1995 oleh tim Balai Arkeologi Banjarmasin bersama dengan Puslit Arkenas ketika melalukan survei eksploratif di Pegunungan Meratus. Hasil pengamatan muka tanah di halaman gua menunjukkan indikasi adanya data arkeologi yang perlu mendapat penelitian lebih lanjut. Kemudian secara berkesinambungan, Balai Arkeologi Banjarmasin melakukan ekskavasi sejak tahun 1996 sampai 1998. Berdasarkan penelitian tersebut telah menghasilkan sejumlah data arkeologi berupa industri alat batu (serut ujung, serut samping, serut cekung, serut berpunggung tinggi, bor, lancipan bertangkai, bilah dipakai, lancipan, serpih dipakai, batu inti, perkutor dan batu penumbuk, batu pelandas, kapak perimbas, serpih, bilah serta serpihan), artefak tulang, perhiasan serta tembikar. Selain data artefaktual, ditemukan juga sisa-sisa fauna, cangkang moluska serta komponen manusia.
Megalitik Di Situbondo Dan Pengaruh Hindu Di Jawa Timur Bagyo Prasetyo
Berkala Arkeologi Vol 19 No 2 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.219 KB) | DOI: 10.30883/jba.v19i2.820

Abstract

Menyimak kronologi perkembangan budaya megalitik di Situbondo terlihat bahwa paling tidak pada sekitar abad 5 (sesuai dengan pertanggalan karbon) bahkan ada kemungkinan jauh sebelumnya, bahwa tradisi megalitik telah mengakar dan terus berkembang jauh kemudian sampai abad ke 15 M atau mungkin lebih setelah runtuhnya kerajaan dengan ciri Hindu (Majapahit) di wilayah Jawa Timur. Megalitik sebagai suatu tradisi dan kepercayaan asli bangsa Indonesia tampaknya tidak mudah digeser oleh pengaruh agama dari luar (asing). Pada umumnya pengaruh agama asing hanya melekat pada masyarakat dalam lingkungan istana atau masyarakat yang termasuk dalam jangkauan tampuk pemerintahan, sedangkan bagi masyarakat yang ada di luar tidak terpengaruh oleh unsur-unsur tersebut. Kalau diperhatikan secara seksama tampaknya masyarakat pendukung tradisi megalitik selalu membangun komunitas yang cukup luas.
STONE JAR IN SUMBAWA: DISTRIBUTION, TYPE, AND TECHNOLOGY Bagyo Prasetyo
AMERTA Vol. 30 No. 1 (2012)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Tempayan Batu di Sumbawa: Distribusi, Tipe, dan Teknologi. Di bagian barat Pulau Sumbawa terdapat peninggalan megalitik berupa tempayan batu, yang tersebar di beberapa tempat di Kabupaten dan Kota Bima (Nusa Tenggara Barat). Penelitian yang dilakukan di kawasan ini lebih difokuskan pada persebaran situs-situs, bentuk-bentuk tempayan maupun teknologi pembuatannya. Hasil penelitian telah menunjukkan adanya 8 situs yang tersebar di tiga desa meliputi Desa Rora, Palama, dan Kumbe, dengan jumlah temuan sebanyak 21 buah yang terdiri dari 18 wadah dan 3 tutup tempayan batu. Berdasarkan tipe morfologi membuktikan adanya beberapa bentuk yang membedakan dengan tempayan-tempayan batu yang ditemukan di kawasan Lembah Napu, Besoa, Bada di Sulawesi Tengah, Toraja di Sulawesi Selatan, dan Samosir di Sumatra Utara. Selain itu fakta juga memberikan adanya bukti-bukti teknologi berupa jejak-jejak pengerjaan pada tempayan batu.Kata kunci: tempayan batu, persebaran, tipe, teknologi Abstract. To the west of Sumbawa there are stone vats, a part of megalithic culture, which spread at several sites in the Regency and City of Bima, Sumbawa Island (West Nusa Tenggara). The study carried out in this area was more focused on site distribution, shapes of jars, and manufacturing techniques. Investigation result reveals eight sites dispersed at the villages of Rora, Palama, and Kumba, where 21 jars are found. The jars consist of 18 bodies and 3 lids. The morphological types show some stone jars that are different from the types found in other parts of Indonesia, such as Napu, Besoa, Bada Valley (Central Sulawesi), Toraja (South Sulawesi), and Samosir (North Sumatra). In term of technology, it shows that stone jars indicated some traces of scratch on it.Keywords: stone vat, distribution, type, technology
MEGALITIK DI SITUBONDO DAN PENGARUH HINDU DI JAWA TIMUR Bagyo Prasetyo
Berkala Arkeologi Vol. 19 No. 2 (1999)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v19i2.820

Abstract

Based on the chronology of the development of megalithic culture in Situbondo, it can be seen that at least around the 5th century (according to carbon dating) there was even a long time before, that the megalithic tradition had taken root and continued to develop much later until the 15th century AD or maybe more after the collapse of the kingdom with Hinduism characteristics (Majapahit) in the East Java region. Megaliths as a tradition and the original belief of the Indonesian people do not seem to be easily shifted by external (foreign) religious influences. In general, the influence of foreign religions is only attached to the community within the palace or society that is included in the reach of the reins of government, while those outside are not affected by these elements. If you pay close attention, it seems that the people who support the megalithic tradition always build a fairly broad community.
ARTEFAK TULANG SITUS GUA BABI (KALIMANTAN SELATAN): VARIASI TIPOLOGIS DAN TEKNOLOGISNYA Bagyo Prasetyo
Berkala Arkeologi Vol. 19 No. 1 (1999)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v19i1.791

Abstract

This site was first discovered in 1995 by a team from the Balai Arkeologi Banjarmasin together with the Puslit Arkenas when carrying out an exploratory survey in the Meratus Mountains. Observation of the ground surface in the cave shows an indication of archaeological data that needs further research. Then continuously, the Banjarmasin Archeology Center carried out excavations from 1996 to 1998. Based on this research, it has produced a number of archaeological data in the form of stone tools industry, bone artifacts, jewelry and pottery. Apart from artifactual data, the remains of fauna, mollusk shells and human components were also found.