Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Aspek Nilai Religiusitas dalam Teks Terjemahan Cerita Masyarakat Sasak Rare Sigar di Pulau Lombok Lalu Wirajayadi
SOLID Vol 10, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Teknologi Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35200/solid.v10i2.429

Abstract

Adapun tujuan penulisan artikel ini, yaitu memberikan deskripsi kejelasan informasi tentang nilai religiusitas yang terkandung di dalam cerita masyarakat Sasak Rare Sigar dan perwujudan nilai religiusitas yang terkandung dalam cerita Rare Sigar di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Selanjutnya dalam artikel ini digunakan metode observasi, dokumentasi, translitrasi/terjemahan, dan telaah. Sedangkan metode analisis data yaitu pendekatan pragmatis dan struktural. Hasil analisis teks terjemahan cerita masyarakat Sasak Rare Sigar menunjukan bahwa bentuk aspek nilai religiusitas meliputi : Ketakwaan, Pengabdian kepada Rasulullah, dan Keinginan untuk menyebarkan agama Islam. Nilai-nilai yang lebih universal seperti kesetiaan, keberanian karena benar, kedarmawanan, baik kepada orang tua maupun kepada orang lain, pengorbanan yang tulus demi yang baik, dan kesetiakawanan. Adapun wujud nilai religiusitas dalam cerita masyarakat Sasak Rare Sigar dengan tolak ukur bersifat akhlak dan prilaku dalam penganutnya meliputi: ketakwaan, keinginan untuk menyebarkan Agama Islam, dan baik kepada orang tua maupun kepada orang lain.Kata kunci: Aspek, Nilai Religiusitas, Cerita Rakyat Rare Sigar
PKM PENINGKATAN KUALITAS HASIL EVALUASI PEMBELAJARAN SISWA MENGGUNAKAN ANALISIS BUTIR SOAL DENGAN PROGRAM ITEMAN DAN SPSS DI DESA JAGO KECAMATAN PRAYA KABUPATEN LOMBOK TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Muhamad Yunus; Lalu Wirajayadi; Neni Suryanirmala; Aliahardi Winata; Zul Haeri
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 3: Agustus 2021
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v1i3.157

Abstract

Tenaga pendidik (guru) sebagai fasilitator peserta didik harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalamn melakukan analisis butir soal. Identifikasi terhadap setiap butir item soal dilakukan dengan harapan akan menghasilkan berbagai informasi berharga yang pada dasarnya akan menjadi umpan balik guna melakukan perbaikan, pembenahan, dan penyempurnaan terhadap butir soal. Madrasah Aliyah Miftahul Iman NW Bundua (mitra 1) dan Madrasah Aliyah Nurul Anwar (mitra 2) sebagai mana diketahui bahwa banyak tenaga pendidikanya yang tidak memiliki kompetensin menganalisis butir soal. Instrumen yang digunakan tenaga pendidik masih didominasi dari buku dan LKS. Hal tersebut menunjukkan bahwa guru belum mengetahui kualitas tes yang digunakan sehingga diperlukan peningkatan kompetensi guru melaui pelatihan analisis butir soal. Analisis butir soal yang diberikan berupa analisis butir soal dengan menggunakan program Iteman dan SPSS. Guru sebagai objek pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) diharapkan mampu menyusun butir soal yang memiliki tingkat kesukaran, daya pembeda serta fungsi distraktor yang baik. Butir soal soal yang sudah dilakukan analisis akan dikumpulkan menjadi satu kemudian akan dibentuk menjadi bank soal bagi. Pelaksanaan kegiatan ini akan dilaksanakan melalui beberapa tahapan diantaranya (1) tahap pelatihan program yang akan di isi dengan pemahan konsep dari setiap bentuk analisis. (2) Tahap pendampingan analisis butir soal bagi peserta. (3) Tahap implementasi program yang dilaksanakan melalui uji coba hasil analisis butir soal kepada peserta didik di masing-masing mitra. Luaran yang diperoleh dari Program Kemitraan Masyarakat ini adalah berupa bank soal, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai acuan pembuatan dan pengembangan butir soal yang lebih berkualitas
CERMINAN BUDAYA DALAM BAHASA DAERAH: SEBAGAI PENANDA IDENTITAS DIRI MASYARAKAT SASAK Lalu Wirajayadi; Muhamad Yunus; Neni Suryanirmala; Aliahardi Winata; Zul Haeri
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 1 No. 3: Agustus 2021
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.792 KB)

Abstract

Cerminan budaya dalam bahasa daerah merupakan pernyataan bahwa bahasa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan, sehingga segala yang ada dalam kebudayaan akan tercermin di dalam bahasanya, begitu juga sebaliknya. Hal ini memperlihatkan penggunaan bahasa daerah tersebut oleh masyarakat Sasak mencerminan kebudayaan masyarakat tersebut sekaligus memberikan kontribusi untuk mempertahankan identitas diri masyarakat Sasak dalam modernisasi kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu, Permasalahan yang hendak diungkapkan dalam penelitian ini, yaitu: bagaimanakah budaya tercermin dalam bahasa daerah dan penggunaan bahasa daerah sebagai penanda identitas diri masyarakat Sasak? Adapun penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai budaya tercermin dalam bahasa daerah dan penggunaan bahasa daerah sebagai penanda identitas diri masyarakat Sasak. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah fenomena kehidupan bermasyarakat yang masih dilakukan dalam kegiatan tertentu oleh masyarakat Sasak. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara dan catat. Sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif. Artinya, teknik yang berusaha menguraikan dan menggambarkan data yang telah dikumpulkan atau ada, kemudian selanjutnya dianalisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan setiap budaya terungkap dalam bahasanya. Cerminan budaya dalam bahasa daerah itu terlihat pada penggunaan kosa kata, dimana penggunaan bahasa daerah tersebut menandakan identitas diri masyarakat Sasak
IPTEK DAN KOMUNIKASI ANTAR MANUSIA: KESANTUNAN YANG TERANCAM Wirajayadi, Lalu
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 10, No 2: July 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v10i2.32642

Abstract

Setiap aspek kehidupan umat manusia tidak lepas dari berinteraksi antar satu sama lain. Bahasa merupakan wahana untuk berkomunikasi sekaligus berfungsi sebagai sarana berpikir dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan dalam bidang IPTEK berdampak pada pola kehidupan umat manusia dengan segala peradaban dan kebudayaannya. Saat ini, kita dapat merasakan betapa besar pengaruh kemajuan dalam bidang IPTEK yakni, ketika berkomunikasi manusia tidak lagi dihadapkan dalam bentuk fisik akan tetapi melalui bahasa digital. Oleh karena itu, permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk perkembangan IPTEK dan komunikasi antar manusia sebagai kesantunan yang terancam. Adapun penelitian ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kesantunan yang terancam. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah fenomena kehidupan berinteraksi/berkomunikasi yang masih dilakukan dalam kegiatan tertentu oleh masyarakat. Data dikumpulkan dengan teknik observasi dan catat. Sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif . Artinya, teknik yang berusaha menguraikan dan menggambarkan data yang telah dikumpulkan atau ada, kemudian selanjutnya dianalisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi sebagai upaya untuk mencapai tujuan praktis, beriringan pula dengan perkembangan polsa hidup masyarakat menuju kearah globalisasi yang menyebabkan terjadinya pergeseran kesantunan dalam berkomunikasi.
CERITA RAKYAT RARE SIGAR: POTRET NILAI RELIGIUSITAS DALAM TRADISI LISAN MASYARAKAT SASAK Wirajayadi, Lalu
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 1: January 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i1.37490

Abstract

Cerita rakyat Rare Sigar merupakan bagian dari folklor Sasak Lombok yang sarat dengan nilai-nilai religiusitas dan kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis nilai religiusitas yang terkandung dalam cerita rakyat Rare Sigar sebagai potret kearifan lokal masyarakat Sasak. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif dengan pendekatan kajian sastra lisan. Data diperoleh melalui studi pustaka, dokumentasi, dan analisis teks cerita rakyat Rare Sigar. Teknik analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan dengan menitikberatkan pada aspek religiusitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat Rare Sigar memuat nilai religiusitas yang meliputi ketakwaan, keinginan untuk menyebarkan agama Islam, dan baik kepada orangtua maupun kepada orang lain yang diwujudkan dalam perilaku tokoh-tokohnya. Nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai sarana pendidikan moral dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan. Dengan demikian, cerita rakyat Rare Sigar tidak hanya berperan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media internalisasi nilai religiusitas dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Sasak.
Pelatihan Literasi Bahasa Hukum Sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan Verbal dan Perundungan di SMA Negeri 2 Jonggat Lalu Wirajayadi; Baiq Ishariaty Wika Utary; Fitria Ika Agustina
Kreasi: Jurnal Inovasi dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Juli
Publisher : BALE LITERASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kreasi.v6i2.3950

Abstract

Verbal abuse and bullying in school environments remain issues that can compromise student safety, well-being, and psychological development. These forms of abuse range from teasing, insults, threats, and name-calling to social exclusion and the dissemination of demeaning comments via social media. A root cause often overlooked in bullying prevention programs is students' low level of legal literacy; consequently, they fail to distinguish between harmless joking, hurtful speech, and actions that carry legal consequences. This community service initiative aims to enhance the understanding of students at SMA Negeri 2 Jonggat regarding legal terms and concepts related to verbal abuse, bullying, and child protection, while also equipping them with the skills to independently recognize, report, and prevent such actions. The methods employed included participatory legal literacy training, awareness-raising sessions, case simulations, and guidance on establishing an anti-bullying task force within the school. The activities were conducted at SMA Negeri 2 Jonggat, involving 10th and 11th-grade students as primary participants, alongside guidance and counseling teachers. Training materials covered concepts of verbal abuse and bullying, linguistic politeness, students' rights and obligations, child protection, social responsibility, and reporting procedures for bullying incidents. The results indicate an improved student understanding of legal terms related to bullying, increased student confidence in reporting verbal abuse, and the formation of a sustainable student group dedicated to anti-bullying efforts. This program is expected to serve as a replicable model for other schools seeking to prevent verbal abuse and bullying through the strengthening of legal literacy.