p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Kebidanan
Titik Wijayanti
Prodi D3 Kebidanan STIKES Estu Utomo Boyolali

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU POST PARTUM DENGAN PIJAT OKSITOSIN DI BPM NGUDI RAHARJO CEPOGO Titik Wijayanti; Atik Setiyaningsih
Jurnal Kebidanan VOLUME 11. No.02, Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35872/jurkeb.v11i02.354

Abstract

ABSTRAKASI Eksklusif diberikan  hingga bayi berusia 6 bulan, dimana ASI eksklusif merupakan salah satu indikator kesehatan anak. (Profil Kesehatan Indonesia, 2014 : 106). Di kabupaten Boyolali pada tahun 2014 cakupan ASI eksklusif hanya mencapai 15,6 % dan untuk cakupan ASI Eksklusif di kecamatan Cepogo 65,1 %. (Profil Kesehatan Kab. Boyolali, 2014). Upaya untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif antara lain adalah pijat oksitosin. Pijat okstosin merupakan metode baru yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, keluarga terutama suami sehingga belum banyak ibu post partum yang tahu dan mau melakukan pijat oksitosin. Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang antara lain umur, pendidikan dan sosial ekonomi (Notoatmodjo, 2010). Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu post partum di BPM Ngudi Raharjo Cepogo pada bulan Maret – Juni 2017 sejumlah 60 ibu post partum. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu post partum yang melakukan pijat oksitosin di BPM Nguji Raharjo Cepogo sejumlah 30 ibu post partum dengan tehnik pengambilan sampel purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu post partum yang melakukan pijat oksitosin berumur 20 – 35 tahun sebanyak 21 responden (70%), memiliki pendidikan menengah (SMA) sebanyak 18 responden ( 60%) serta bekerja sebanyak 18 responden (60%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa umur, pendidikan dan pekerjaan merupakan faktor pembentuk perilaku pijat oksitosin pada ibu post partum di BPM Ngudi Raharjo Cepogo.Kata Kunci : Pijat Oksitosin, Umur, Pendidikan, Pekerjaan. DESCRIPTION OF CHARACTERISTICS OF POST PARTUM MOTHER WITH OXYTOSIN MASSAGE IN BPM NGUDI RAHARJO CEPOGOABSTRACTExclusive breastfeeding is given until babies are 6 months old, where exclusive breastfeeding is an indicator of children's health. (Indonesia Health Profile, 2014: 106). In Boyolali district in 2014 exclusive breastfeeding coverage only reached 15.6% and for exclusive breastfeeding coverage in Cepogo sub-district 65.1%. (Health Profile of Boyolali Regency, 2014). Efforts to increase the coverage of exclusive breastfeeding include oxytocin massage. Ostosin massage is a new method that can be done by health workers, families, especially husbands so that not many post partum mothers know and want to do oxytocin massage. Several factors that influence a person's health behavior include age, education and socioeconomic (Notoatmodjo, 2010). The design of this research is quantitative descriptive research. The population in this study were all post partum mothers in BPM Ngudi Raharjo Cepogo in March - June 2017, as many as 60 post partum mothers. The sample in this study was post partum mothers who performed oxytocin massage at BPM Nguji Raharjo Cepogo with 30 post partum mothers using purposive sampling technique. The results showed that the majority of post partum mothers who did oxytocin massage aged 20 - 35 years were 21 respondents (70%), had secondary education (SMA) as many as 18 respondents (60%) and worked as many as 18 respondents (60%). Thus it can be concluded that age, education and occupation are the factors forming the behavior of oxytocin massage in post partum mothers at BPM Ngudi Raharjo Cepogo.Keywords: Oxytocin Massage, Age, Education, Work.
EFEKTIFITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP KETRAMPILAN IBU DALAM MELAKUKAN PIJAT BAYI Ardiani Sulistiani; Titik Wijayanti
Jurnal Kebidanan VOLUME 12. No.01, JUNI 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35872/jurkeb.v12i01.368

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Pijat bayi merupakan salah satu bentuk perawatan yang baik  untuk perkembangan bayi. Di Indonesia pelaksanaan pijat bayi di masyarakat desa masih dipegang perannya oleh dukun bayi yang tidak sesuai dengan cara medis. Teknik pemijatan yang tidak benar pada bayi justru membahayakan bayi (Sujarwo, 2014). Pijat bayi yang terbaik adalah dilakukan oleh ibu. Wawancara kepada ibu balita umur 0-1 tahun di Dzaky SPA didapatkan keterangan bahwa belum pernah ada pendidikan kesehatan tentang pijat bayi dan kebanyakan warga belum bisa memijat bayinya sendiri. Tujuan: Mengetahui efektifitas pendidikan kesehatan terhadap ketrampilan ibu dalam melakukan pijat bayi. Metode: Penelitian pra eksperimen, desain one group pretest postest. Populasi semua ibu yang memiliki bayi 0-1 tahun di Dzaky SPA pada bulan Januari-Februari 2019 sejumlah 27 responden. Teknik sampling dengan purposive sampling, jumlah responden yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi sejumlah 22 responden. Instrument penelitian pendidikan kesehatan menggunakan SOP dan ketrampilan ibu dalam melakukan pijat bayi menggunakan cheklist yang diukur sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan. Analisis bivariat menggunakan mc nemar karena data berbentuk kategorik, dengan bantuan aplikasi program SPSS. Hasil:. Ketrampilan dalam melakukan pijat bayi sebelum diberikan pendidikan kesehatan sebagian besar dalam kategori tidak terampil yaitu 81,8%. Ketrampilan dalam melakukan pijat bayi sesudah diberikan pendidikan kesehatan sebagian besar dalam kategori terampil yaitu 63,6%. Terdapat perbedaan ketrampilan ibu dalam melakukan pijat bayi sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan (0,002<0,05). Kesimpulan: Pendidikan kesehatan efektif terhadap peningkatan ketrampilan ibu dalam melakukan pijat bayi.  Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi bidan untuk melakukan pendidikan kesehatan pada ibu tentang pijat bayi agar ibu mampu melakukan pijat bayi secara mandiri .                                                                                                                   Kata Kunci: Pendidikan kesehatan, Ketrampilan ibu, Pijat bayi EFFECTIVENESS OF HEALTH EDUCATION ON THE MOTHER'S SKILLS IN PERFORMING BABY MASSAGEABSTRACTBackground: Baby massage is a good form of treatment for infant development. In Indonesia the implementation of baby massage in the village community is still held by the role of the traditional birth attendant who is not in accordance with medical methods. Improper massage techniques in infants actually endanger the baby (Sujarwo, 2014). Baby massage is best done by the mother. Interviews with mothers of toddlers aged 0-1 years at Dzaky SPA obtained information that there had never been health education about baby massage and most residents had not been able to massage their own babies. Objective: To find out the effectiveness of health education on mother's skills in doing baby massage. Method: Pre-experimental research, design one group pretest postest. The population of all mothers who have 0-1 year old babies in Dzaky SPA in January-February 2019 is 27 respondents. Sampling technique with purposive sampling, the number of respondents who fit the inclusion and exclusion criteria was 22 respondents. The health education research instrument uses SOP and the mother's skills in conducting infant massage using a checklist that is measured before and after health education. Bivariate analysis uses mc nemar because the data is categorical, with the help of the SPSS program application. Results: The skills in doing baby massage before being given health education were mostly in the unskilled category at 81.8%. The skills in doing baby massage after being given health education are mostly in the skilled category that is 63.6%. There are differences in maternal skills in performing infant massage before and after being given health education (0.002 <0.05). Conclusion: Health education is effective in increasing maternal skills in performing infant massage. The results of this study can be input for midwives to do health education to mothers about infant massage so that mothers are able to do baby massage independently. Keywords: Health education, Mother's skills, Baby massage
HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU DENGAN PIJAT TUINA PADA BALITA USIA 1 – 2 TAHUN Titik Wijayanti; Ardiani Sulistiani
Jurnal Kebidanan VOLUME 12. NO.02, DESEMBER 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35872/jurkeb.v12i02.397

Abstract

ABSTRAKMasa tumbuh kembang di usia balita merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang, karena itu sering disebut golden age atau masa keemasan. Setiap orang tua menginginkan anaknya tumbuh dengan normal. Salah satu upaya untuk menaikkan berat badan adalah dengan pijat Tuina. Sebagai metode baru belum banyak ibu balita yang tahu tentang pijat Tuina dan mau anaknya dilakukan pijat Tuina. Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang antara lain umur, pendidikan, pengalaman dan sosial ekonomi (Green dalam Notoatmodjo, 2012). Penelitian ini menggunakan desain analitik  kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini seluruh ibu balita yang datang ke BPM Ardiani S pada bulan Mei sampai Juni 2019 sejumlah 42 ibu. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu balita sejumlah 42 ibu. Adapun tehnik sampling yang digunakan adalah total sampling. Dari hasil penelitian di ketahui 73,80% ibu berusia ? 20 tahun, 59,50% memiliki pendidikan menengah (SMA), 73,80% memiliki paritas multipara, 76, 20% ibu memberikan pijat Tuina, Ada hubungan antara umur ibu dengan pijat Tuina ( ? = 0,000 < 0,05), Ada hubungan antara pendidikan ibu dengan pijat Tuina (? = 0,001 < 0,05), ada hubungan anatara paritas ibu dengan pijat Tuina (? = 0,037 < 0,05), ada hubungan secara simultan (bersama-sama) antara umur, pendidikan dan paritas ibu dengan pijat Tuina (? = 0,000 < 0,05), faktor umur memiliki hubungan yang paling kuat dengan pijat Tuina (? = 0,000 < 0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan baik parsial dan bersama antara umur, pendidikan dan paritas ibu dengan pijat Tuina, faktor yang paling kuat hubungannya dengan pijat Tuina adalah faktor Umur.Kata Kunci : Pijat Tuina, Umur, Pendidikan, Paritas.MOM CHARACTERISTIC RELATIONSHIP WITH TUINA MASSAGE IN CHILDREN 1 - 2 YEARS OLDABSTRACTThe period of growing up at the age of toddlers is a time that lasts quickly and will never be repeated, because it is often called the golden age. Every parent wants their child to grow normally. One of the efforts to gain weight is by using Tuina massage. As a new method, not many mothers of toddlers know about Tuina and want to do Tuina massage and want to do Tuina massage . Several factors that influence a person's health behavior include age, education, experience and socio-economy (Green in Notoatmodjo, 2012). This research uses a quantitative analytic design. The population in this study is mothers of children under five who came to BPM Ardiani S from May to June 2019 with a total of 42 mothers. The sample in this study were all mothers with a total of 42 mothers. The sampling technique used was total sampling. From the results of the study, it is known that 73.80% of mothers aged ? 20 years, 59.50% have secondary education (SMA), 73.80% have multiparity parity, 76, 20% of mothers give Tuina massage, There is a relationship between maternal age and Tuina massage (? = 0,000 <0.05), There is a relationship between maternal education and Tuina massage (? = 0.001 <0.05), there is a relationship between maternal parity and Tuina massage (? = 0.037 <0.05), there is a relationship Simultaneously (together) between age, education and parity of mothers with Tuina (? = 0,000 <0.05), the age factor had the strongest relationship with Tuina massage (? = 0,000 <0.05). Thus it can be denied that there is a partial and shared relationship between age, education and parity of massage mothers with Tuina and the strongest factor with Tuina massage is the age factor.Keywords: Tuina Massage, Age, Education, Parity
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESADARAN PASIEN TENTANG PROTOKOL KESEHATAN PADA ERA NEW NORMAL Titik Wijayanti; Herdini Widyaning Pertiwi; Bekti Dian Lestari
Jurnal Kebidanan VOLUME 14. NO.01, JUNI 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35872/jurkeb.v14i01.514

Abstract

ABSTRAK Latar belakang. Pandemi Covid-19 saat ini sedang melanda Indonesia, semakin hari peningkatan jumlah pasien yang positif semakin meningkat. Di era new normal ini peran masyarakat dalam memutus tali rantai penyebaran virus covid-19 sangat penting. Berbagai upaya masyarakat dan pemerintah dalam memutus penyebaran virus ini dengan menerapkan protokol kesehatan meliputi mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas. Namun belum sepenuhnya masyarakat sadar akan pentingnya penerapan protokol kesehatan, masih banyak masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan. (Kemenkes RI 2020). Tujuan penelitian. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi tingkat kesadaran pasien tentang protokol kesehatan pada era new normal. Design penelitian. Penelitian analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi yaitu seluruh pasien di PMB Windarti,A.Md.Keb pada 16 Maret 2021 sampai 16 April 2021 sejumlah 53 pasien. Teknik sampling adalah accidental sampling dengan jumlah sampel 32 responden. Alat ukur penelitian kuesioner. Analisis bivariat menggunakan uji sperman rank. Hasil penelitian. Responden mayoritas kategori dewasa 20 responden (62,5%), pendidikan sebagian besar menengah 17 responden (53,1%). Pengetahuan mayoritas cukup 14 responden (43,8%). Tingkat kesadaran pasien tentang protokol kesehatan pada era new normal mayoritas dalam kategori sedang 14 responden (43,75%). Tidak ada pengaruh faktor usia dengan tingkat kesadaran pasien tentang protokol kesehatan pada era new normal (0,114>0,05), ada pengaruh faktor pengetahuan dengan tingkat kesadaran pasien tentang protokol kesehatan pada era new normal (0,000<0,05, r=0,614), kekuatan kolerasi kuat. Kesimpulan. Tidak ada hubungan usia dengan kesadaran pasien tentang protokol kesehatan pada era new normal dan ada hubungan pengetahuan dengan kesadaran pasien tentang protokol kesehatan pada era new normal. Kata Kunci : usia, pengetahuan, kesadaran pasien, protokol kesehatan
ANALISIS FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI BALITA Titik Wijayanti; Atik Setiyaningsih; Rismawati Rismawati
Jurnal Kebidanan VOLUME 16, NO.01 JUNI 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35872/jurkeb.v16i01.738

Abstract

Gizi merupakan bagian hal terpenting dalam tumbuh kembang dikarenakan erat dengan kesehatan dan kecerdasan. Masalah gizi di Indonesia terbanyak gizi kurang. dengan peningkatkan kasus pada tahun 2022 dari 17,0 % menjadi 17,1%. Di Boyolali tahun 2022 masih terdapat 4.137 balita (7,06%) mengalami stunting. Masalah kurang gizi dipengaruhi oleh penyebab langsung dan tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor - faktor yang berhubungan dengan status gizi balita meliputi faktor riwayat penyakit, pola makan dan tingkat ekonomi. Penelitian yang digunakan korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi seluruh ibu dan balita usia 1 - 3 tahun di Posyandu Anggrek pada bulan Mei 2023, tehnik pengambilan sampel accidental sampling. Analisis bivariatnya uji Chi Square. Respoden yang tidak memiliki riwayat penyakit status gizinya baik sebanyak 25 (64,6%), hasil uji chi square p value 0,037 < 0,05. Responden dengan pola makan baik status gizinya baik sejumlah 27 (72,9%), hasil uji chi square p value 0,007 < 0,05. Responden dengan ekonomi > UMR memiliki status gizinya baik sebanyak 17 (46%), hasil uji chi square p value 0,040 < 0,05. Ada hubungan riwayat penyakit, pola makan dan tingkat ekonomi dengan status status gizi balita. Kata Kunci : Riwayat Penyakit, Pola Makan, Tingkat Ekonomi, Status Gizi Balita