Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KASTURI, PERAJIN KERAMIK MAYONG LOR JEPARA: SEBUAH MODEL ADAPTABILITAS DALAM PENGEMBANGAN SENI TRADISI Triyanto, -
Imajinasi Vol 6, No 2 (2010): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji masalah model adaptabilitas Kasturi dalam mengembangkan usaha senitradisinya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Sasaran penelitiannya model adaptabiltiasKasturi. Lokasi penelitiannya di Desa Mayong Lor Jepara. Teknik pengumpulan data menggunakanpengamatan, wawancara mendalam, dan pengumpulan bahan dokumen. Data penelitian dianalisis secarasosio-budaya dengan model siklus interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model adaptabilitas Kasturimampu digunakan untuk tetap bertahan (survive) dalam mengembangkan usaha seni tradisinya dan mampumenyesuaikan diri (adaptif) dengan tuntutan perubahan pasar. Unsur-unsur penting yang menjadi faktorpenentu adaptabilitasnya itu ialah pola berpikir yang positif, kebutuhan yang kuat untuk berkembang,pemahaman yang baik terhadap perubahan, dan strategi adaptasinya dalam menghadapi perubahan melaluiproses belajar dan modifikasi budaya. Disarankan Kasturi perlu melakukan pembukuan sederhana,pendokumentasian karya, dan pengembangan pemasaran melalui internet.Kata Kunci: Keramik, perubahan, adaptabilitas, proses belajar, modifikasi budaya
MELUKIS SEBAGAI SARANA BERMAIN DAN TERAPI BAGI ANAK-ANAK AUTIS ( Studi Kasus di SLB Panti Biji Sesawi Semarang) Triyanto, -
Imajinasi Vol 5, No 1 (2009): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan seni dapat berfungsi sebagai terapi bagi orang atau anak-anak yang memiliki masalah psikologis atau gangguan perkembangan mental. Masalah yang dikaji adalah bagaimana kegiatan melukis dapat dijadikan sebagai sarana bermain untuk terapi seni bagi anak-anak autis. Tujuan penelitian ini adalah ingin melihat dan menjelaskan jenis kegiatan melukis yang diberikan sebagai sarana bermain untuk terapi seni bagi anak-anak autis berikut dengan segala respon yang muncul, hasil yang diperoleh, dan kendala yang dihadapi. Hasil penelitian ini bermanfaat memberikan masukan bagi terapis dalam membantu penyembuhan anak-anak autis melalui kegiatan seni. Metode penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif. Sasaran penelitian terfokus pada masalah penelitian.Lokasi penelitiannya di SLB Panti Biji Sesawi Semarang. Data penelitian dikumpulkandengan teknik pengamatan terkendali, wawancara mendalam, dan dokumen.  Analisis data menggunakan model siklus interaktif. Hasil penelitian menunjukkan hal-hal sebagai berikut. Pertama, jenis kegiatan melukis yang cocok untuk anak-anak autis adalah melukis ekspresi bebas. Kedua,meskipun responnya beragam, namun dari kegiatan melukis yang diberikan terlihat anak-anak sangatantusias, senang, penuh konsentrasi, dan asyik menikmati. Karya-karya lukisan yang mereka hasilkanmemperlihatkan ekspresi spontan yang artistik, unik, dan menarik. Melalui kegiatan melukis, sikapdan perilaku anak yang kurang percaya diri, menarik diri, tidak dapat berkosentrasi, agresif, tidakpeduli orang lain, menghindari kontak mata dengan orang lain, dapat dikondisikan dan dikendalikan.Kendala yang muncul bersifat teknis dalam hal pengondisian awal anak-anak agar mau mengikutikegiatan. Saran yang dapat dikemukakan adalah perlu kesabaran, perhatian, kasih sayang, dan caraberkomunikasi yang sesuai dengan karakteritik mereka.
ESTETIKA NUSANTARA : SEBUAH PERSPEKTIF BUDAYA Triyanto, -
Imajinasi Vol 4, No 1 (2008): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

wa, atau esensi dalam setiap perwujudan simbol-simbol kesenian Nusantara. Bentuk, wujud, atau symbol-simbol yang muncul memang berbeda, namun, ruh, jiwa, atau esensinya tetap memperlihatkan sifat yang berorientasi pada budaya mistis, magis, kosmis, dan religius. Dalam kehidupan empirik, kesenian Nusantara umumnya terintegrasi dalam kegiatan tradisi ritual atau keagamaan masyarakat. Warga masyarakat yang terlibat sebagai pelaku kesenian, acapkali, tidak menyadari kalau mereka sedang berkesenian. Sebaliknya yang disadari ialah mereka sedang melakukan aktivitas kehidupan tradisinya. Dengan satu contoh kasus pada bahasan konsep estetika Jawa, akhirnya dapat disimpulkan bahwa konsep estetika kesenian Nusantara memperlihatkan sifatnya yang khas, yaitu dari mistis hingga religius.Kata Kunci : Estetika, kesenian, nusantara, budaya, mistis-religius
PENGUATAN PENEGAKAN HUKUM HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL (Studi Kritis terhadap Peran Pendidikan Kewarganegaraan) Triyanto, -
Yustisia Vol 1, No 2: August 2012
Publisher : Faculty of Law, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/yustisia.v1i2.10622

Abstract

AbstractThis study discusses the role of Civic/Citizenship Education (CE) in strengthening IPR law enforcement. This study aimed to identify: (1) the effectiveness of IPR law enforcement has done; (2) the constraints; (3) the efforts to overcome obstacles; (4) CE Model of IPR National Team; (5) weakness of the CE model of IPR National Team; (6) efforts to overcome the weaknesses of the CE model of IPR National Team; and (7) the role of CE to strengthen IPR law enforcement. The research used a qualitative method. The samples of the research were gathered by using purposive sampling and snowball sampling techniques. Its data were gathered through library research, in-depth interview, observation, and focus group discussion. They were then analyzed by using interactive (Miles & Huberman, 1984: 23) and bottom up (Creswell, 2008: 244) models of analysis. The results of the research show that: (1) the law enforcement for the IPR has not been effective; (2) The law enforcement for the IPR has encountered some constraints caused by the factors of law enforcement apparatus, community, and holders of the IPR; (3) The efforts to overcome the constraints of IPR law enforcement needs to be done in a systematic approach involving educational approach; (4) CE Model of IPR National Team can be seem in preemptive and preventive actions; (5) the weakness of the CE Model of IPR National Team is the absence of IPR education approach for early childhood; (6) The IPR education program for early childhood can be used to overcome the weakness, with the cooperation of private funding and the use of CSR; (7)  In conclusion, CE can be used as means of IPR education through the implantation of the values of honesty, respect and appreciation of one’s rights (IPR) for early childhood.Keywords:         Improving the Law Enforcement, Intellectual Property Rights, and, Civic/Citizenship Education AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam memperkuat penegakan hukum Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling and snowball sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode studi pustaka, wawancara, observasi dan focus group discussion (FGD). Data kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif dan bottom up. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PKn dapat menjadi wahana pendidikan kesadaran HKI melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam PKn dan HKI. Kesimpulannya, PKn dapat digunakan sebagai sarana pendidikan kesadaran HKI melalui penanaman nilai-nilai kejujuran, penghormatan dan penghargaan terhadap hak orang lain sejak usia dini.Kata Kunci: Penegakan Hukum, HKI, PKn