Yanjumseby Yeverson Manafe
STT Ebenhaezer Tanjung Enim

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Makna Unkapan “Jangan Hidup Lagi Sama Seperti Orang-Orang Yang Tdak Mengenal Allah Dengan Pikirannya Yang Sia-Sia” Menurut Efesus 4:17 Yanjumseby Yeverson Manafe
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 2 No. 2 (2016): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.111 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v2i2.18

Abstract

Orang percaya adalah orang yang telah menerima Yesus sebagai Juruslamat secara pribadi dalam hidupnya, atas dasar inilah seseorang menjadi jemaat Kristus. Sikap hidup orang percaya harus mampu menunjukkan statusnya sebagai orang percaya, yaitu dengan hidup dalam kekudusan, hidup dalam persekutuan, serta melayani Tuhan dan sesama. Namun, kenyataannya banyak jemaat Tuhan yang tidak mampu melakukan hal yang demikian. Efesus 4:17 menjelaskan bahwa sungguh Allah sangat peduli kepada setiap orang percaya sehingga Allah tidak menginginkan orang percaya tidak mengalami pertumbuhan iman, karena orang percaya yang tidak mengalami pertumbuhan iman adalah orang percaya yang masih mengenakan manusia lamanya, yaitu masih hidup dalam pikiran yang sia-sia, pengertiannya yang gelap, jauh dari persekutuan dengan Allah, mengutamakan hal-hal duniawi, dan bahkan ada yang sampai menduakan Tuhan. Maka melalui Paulus Allah mengingatkan orang percaya untuk mampu meninggalkan kemamusiaan lamanya dan menyadari statusnya sebagai orang percaya, sehingga mampu hidup kudus, serta menjadi teladan dalam hidupnya hari lepas hari. Believers are those who have accepted Jesus as their personal Savior in his life, on this basis a person becomes the church of Christ. The life attitude of believers must be able to show their status as believers, that is by living in holiness, living in fellowship, and serving God and others. However, in reality many God's people are not able to do this. Ephesians 4:17 explains that truly God cares so much for every believer that God does not want believers not to experience growth of faith, because believers who do not experience growth of faith are believers who are still wearing their old humans, that is, still living in vain minds vain, dark understanding, far from fellowship with God, prioritizing worldly things, and some even up to double God. So through Paul, God reminds believers to be able to leave their old humanity and realize their status as believers, so they can live a holy life, and set an example in their lives day after day.
Parosia Menurut Paulus Yanjumseby Yeverson Manafe
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 1 No. 1 (2016): Scripta : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.379 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v1i1.24

Abstract

Kedatangan Kristus yang kedua kali merupakan penggenapan janji Allah kepada manusia, setelah Kristus mati dan naik ke surga dan firman Tuhan menyaksikan bahwa Ia akan datang kembali ke dunia pada suatu hari kelak. Kedatangan Kristus yang kedua kali berbeda dengan kedatangan-Nya yang pertama dimana telah dinubuatkan oleh nabi baik tempat dan dari keturunan siapa. Kedatangan-Nya yang kedua kali bukan untuk membawa damai melainkan untuk menghakimi dan mengangkat orang-orang percaya, maka setiap orang percaya dituntut hidup berjaga-jaga dan terus menantikan kedatangan itu dengan iman dan pengharapan bahwa Yesus tidak pernah mengingkari janji kedatangan-Nya dan janji itu tidak ditunda sampai genap waktunya. Kedatangan Kristus yang kedua kali (Parousia) merupakan hal yang dinanti-nantikan oleh setiap orang, namun hal ini tidak seorangpun yang dapat mengetahuinya. Sebab Yesus sendiri yang mengklaim tentang hal itu, kedatangan-Nya seperti pencuri pada malam hari yang artinya bahwa tidak seorangpun yang dapat mengetahuinya selain Dia sendiri. Rasul Paulus memberikan pengajaran tentang parousia, bahwa kedatangan-Nya kembali merupakan hal yang pasti, kendatipun waktuNya tidak ada seorangpun yang tahu. Namun setiap orang percaya harus selalu waspada dan siap sedia setiap saat menyambut kedatanganNya. Tuhan Yesus akan datang kembali untuk membangkitkan orang yang mati dalam kristus, kemudian menghancurkan iblis. Hal ini merupakan berita yang penuh sukacita, terlebih lagi karena Ia akan membawa setiap orang yang percaya padaNya ke surga, yaitu tempat mereka yang sebenarnya sebagai warga negara surgawi, dan akan mentransformasi tubuh mereka yang fana kepada tubuh yang tidak fana seperti tubuh-Nya sendiri. The second coming of Christ is the fulfillment of God's promise to humans, after Christ died and ascended to heaven and God's word testifies that He will come back to earth one day. The second coming of Christ is different from His first coming which was prophesied by the prophet both the place and from whose descendants. His second coming is not to bring peace but to judge and uplift believers, so every believer is required to stand guard and continue to wait for that coming with faith and hope that Jesus never breaks His promise of coming and that promise not postponed until the time is even. The second coming of Christ (Parousia) is something that everyone has been waiting for, but this is not known to anyone. Because Jesus himself claimed about it, His coming was like a thief in the night which means that no one can know but Himself. The Apostle Paul gave teachings about the parousia, that His return was a sure thing, even though His time was unknown. But every believer must be vigilant and ready at all times to welcome His coming. The Lord Jesus will come again to raise the dead in Christ, then destroy the devil. This is joyous news, especially because He will bring everyone who believes in Him to heaven, their true place as a citizen of heaven, and will transform their mortal bodies into immortal bodies like His own.
Pengajaran Paulus Tentang Hamba Dosa Dan Hamba Kebenaran Menurut Roma 6: 17-18, Sebagai Upaya Pemurnian Iman Orang Kristen Yanjumseby Yeverson Manafe
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 3 No. 1 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.64 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v3i1.36

Abstract

Dua masalah yang dihadapi manusia sepanjang hidupnya yaitu kuasa dosa dan kuasa Allah.Tidak ada yang bisa bebas dari kedua hal ini. Posisi seseorang hanya dapat berada di bawah kekuatan dosa atau di bawah kuasa Allah. Sebelum Adam dan Hawa manusia pertama jatuh ke dalam dosa mereka hidup sempurna sesuai dengan firman Allah dan Allah sendiri sebagai ukuran standart hidup mereka. Semua alam semesta diperuntukkan bagi mereka agar berkuasa penuh atasnya, namun manusia tetaplah ciptaan yang harus taat pada penciptanya, ia mempunyai kelemahan-kelamahan baik dari segi fisik, intelektual, rohani dan moral. Dari keterbatasan itulah dosa dengan gampang masuk melalui suatu keputusan yang secara bebas diambil oleh manusia (Kej. 3). Iblis telah menanamkan benih keragu-raguan pada manusia mengenai kebaikan Allah. J Murray mengatakan bahwa manusia memberikan tempat bagi iblis yang hanya boleh diduduki oleh Allah saja kemudian menyetujui serangan iblis yang bersifat paling menghujat kedaulatan Allah karena menginginkan baginya hak-hak khusus Allah.
Makna Ungkapan ”Karna Di Mana Hartamu Berada Di Situ Juga Hatimu Berada” Dalam Lukas 12: 34 Dan Implikasinya Bagi Pertumbuhan Iman Jemaat Yanjumseby Yeverson Manafe
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 5 No. 1 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.466 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v5i1.46

Abstract

Harta benda merupakan berkat dari Tuhan, tetapi bagi orang Kristen harta benda bukanlah berkat terbesar, karena yang merupakan berkat terbesar ialah harta rohani. Makna ungkapan ”Karena di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada” dalam Matius 12: 34, sangat penting untuk dipahami dalam kehidupan dan pertumbuhan iman jemaat. Karena akan berdampak buruk bagi orang percaya dalam kehidupannya jika orang percaya mengutamakan harta dunia ini. Selanjutnya orang Kristen yang mengabaikan harta rohani dan yang melekatkan hatinya pada harta dunia akan mengakibatkan kemerosotan dalam iman, sebab hidupnya lebih memprioritaskan harta dunia dari pada Tuhan Allah yang jelas-jelas sebagai sumber harta tersebut. Oleh karena itu bukan harta yang menjadikan orang Kristen berdosa, melainkan sikap hati manusia terhadap materi itulah yang menjadikan seseorang diperbudak oleh harta sehingga jatuh dalam dosa dan meninggalkan Tuhan. Property is a blessing from God, but for Christians, the greatest blessing is property, because it is the greatest blessing of spiritual treasure. The meaning is taken "Because where your treasure is there also your heart is" in Matthew 12: 34, it is very important to understand in the life and growth of the faith of the church. Because it will be bad for believers in their lives if believers put the treasure of this world first. Furthermore, Christians who give up spiritual treasures and who are attached to world treasures will release deterioration in the faith, because they prioritize world treasures rather than the Lord God who is clearly the source of these treasures. Therefore it is not a treasure that makes Christians sin, preferring a human heart to material things that make a person enslaved by possessions fall into sin and leave God.
Konsep Kesatuan Yesus dan Allah Bapa Dalam Injil Yohanes 17:22 Untuk Menghadapi Doktrin Subordinansi Tritunggal Saksi Yehuwa Yanjumseby Yeverson Manafe; Yenny Anita Pattinama
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 7 No. 1 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.109 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v7i1.57

Abstract

Doktrin Trinitas atau doktrin Allah Tritunggal adalah pengajaran tentang Allah yang menyatakan diri-Nya dalam tiga pribadi, yaitu Allah Bapa, Allah Anak (Yesus Kristus), dan Allah Roh Kudus yang ketiganya adalah esa. Di satu sisi, doktrin tersebut merupakan doktrin yang sangat penting dan unik dalam kekristenan. Dikatakan penting karena doktrin ini berbicara tentang Allah Tritunggal yang menjadi pusat pujian, penyembahan dan pelayanan orang percaya. Dikatakan unik karena doktrin tersebut tidak terdapat dalam agama manapun di dunia ini. Namun, di sisi lain, doktrin tersebut merupakan doktrin yang sulit dipahami dan diterima oleh akal manusia bahkan menjadi bahan perdebatan yang hebat di berbagai tempat, masa dan kalangan manusia. Dengan studi eksegetis Yohanes 17: 22 sebagai dasar evaluasi kritis terhadap doktrin subordinasi Tritunggal dalam theologia Saksi Yehuwa, maka dapat diketahui bahwa doktrin subordinasi Tritunggal dalam theologia Saksi Yehuwa adalah doktrin yang menyimpang dari kebenaran Alkitab. The doctrine of the Trinity or the doctrine of the Triune God is the teaching of God revealing Himself in three persons, namely God the Father, God the Son (Jesus Christ), and God the Holy Spirit of which all three are one. On the one hand, the doctrine is a doctrine that is very important and unique in Christianity. It is said to be important because this doctrine speaks of the triune God who is the center of the worship, worship and service of believers. Said to be unique because the doctrine does not exist in any religion in this world. However, on the other hand, the doctrine is a doctrine that is difficult to understand and accepted by human reason and even becomes a matter of great debate in various places, times and circles of humans. With the exegetical study of John 17: 22 as the basis for a critical evaluation of the doctrine of the subordination of the Trinity in the theology of Jehovah's Witnesses, it can be seen that the doctrine of the subordination of the Trinity in the theology of Jehovah's Witnesses is a doctrine that deviates from Bible truth.
Keberdosaan Manusia Menurut Alkitab Yanjumseby Yeverson Manafe
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 8 No. 2 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.803 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v8i2.67

Abstract

ABSTRAK Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa sebagaimana diuraikan dalam kitab Kejadian 3:1-24, membuat semua manusia keturunan Adam dan hawa hidup dalam dosa. Kendatipun demikian masih ada banyak orang Kristen yang belum dapat memahami dengan pasti adanya dosa di dalam hidup mereka. Jika setiap orang kristen tidak tahu bahwa ada dosa dalam dirinya maka akan sulit sekali untuk menanganinya. Oleh sebab itu, setiap orang Kristen harus mengetahui dan menyadari hakikat dari manusia berdosa serta mau melepaskan diri dari belenggu dosa. Dan hal ini akan terwujud di dalam dan melalui Roh Kudus. Berkenaan dengan keberdosaan manusia maka dalam tulisan ini akan dibahas berturut-turut mengenai keberdosaan manusia, yaitu: definisi dosa, istilah-istilah dosa dalam Alkitab, asal dosa, aspek-aspek dosa, akibat dosa dan jalan keluar dari dosa. ABSTRACT After the fall of man into sin as described in Genesis 3: 1-24, made all humans descend from Adam and Eve live in sin. Nevertheless there are still many Christians who have not been able to understand with certainty the existence of sin in their lives. If every Christian does not know that there is sin in him it will be very difficult to handle it. Therefore, every Christian must know and realize the nature of sinful humans and want to break away from the bondage of sin. And this will be realized in and through the Holy Spirit. With regard to human sinfulness, this paper will be discussed in succession regarding human sinfulness, namely: the definition of sin, the terms of sin in the Bible, the origin of sin, aspects of sin, the consequences of sin and the way out of sin.