Yenny Anita Pattinama
STT Ebenhaezer Tanjung Enim

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Korelasi Buah Roh Dan Ibadah Yenny Anita Pattinama
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 1 No. 1 (2016): Scripta : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.328 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v1i1.30

Abstract

Ibadah merupakan satu tuntutan bagi hidup setiap orang, hal ini berarti bahwa ibadah merupakan natur manusia yang adalah ciptaan Tuhan. Sebagai yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah, di dalam diri manusia ada kebutuhan untuk menyembah sesuatu di luar dirinya, yang lebih besar atau lebih tinggi dari padanya yaitu penciptanya sendiri. Dalam kehidupan kekristenan totalitas hidup seorang Kristen merupakan ibadah. Ibadah tersebut akan berkenan dihadapan Tuhan apabila dilakukan dalam tuntuan dan pimpinan Roh Kudus. Apabila seseorang menyerahkan dirinya dikuasai dan dipimpin oleh Roh Kudus maka hidupnya akan memunculkan buah Roh dengan sembilan cita rasa yang tentunya memuliakan Tuhan dan juga memberkati sesama. Worship is a demand for everyone's life, this means that worship is a human nature that is God's creation. As created in the image and likeness of God, in man there is a need to worship something outside himself, which is greater or higher than him, the creator himself. In the Christian life the totality of a Christian's life is worship. The service will be pleasing before God if it is done in the direction and direction of the Holy Spirit. If a person surrenders himself to be controlled and led by the Holy Spirit then his life will bring forth the fruit of the Spirit with nine tastes which certainly glorifies God and also blesses others.
Bimbingan Pastoral Kepada Kaum Muda Sebagai Upaya Peneguhan Iman Berdasarkan Ibrani 10:35 Yenny Anita Pattinama
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 3 No. 1 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.576 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v3i1.32

Abstract

Pemuda-pemudi adalah generasi ke depan dalam keluarga, gereja, dan bangsa. Pemuda-pemudi merupakan pondasi dan generasi penerus gereja yang harus dibina dengan baik. Masa depan gereja terletak pada generasi muda yang akan menggantikan para orang tua, untuk melanjutkan pelayanan dalam gereja sehingga gereja terus berkembang dengan baik. Namun, pemuda-pemudi zaman sekarang kurang memiliki ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan, sehingga dalam mempertahankan imannya kepada Tuhan Yesus sangat susah. Oleh karena kurangnya bimbingan rohani sebagai pondasi dalam kehidupan mereka untuk membentengi setiap godaan maupun tawaran dunia yang membuat iman mereka hilang. Orang tua dan gereja sangat berperan penting dalam pertumbuhan iman mereka. Jika pemuda-pemudi memiliki kerohanian yang baik, memiliki hubungan yang dekat denganTuhan, makaia juga pasti memiliki iman yang teguh dan dapat mempertahankan imannya di dalam Tuhan Yesus. Young people are the next generation in the family, church and nation. Young people are the foundation and the next generation of churches that must be nurtured well. The future of the church lies in the younger generation who will replace the parents, to continue the ministry in the church so that the church continues to thrive. However, young people today have less obedience and loyalty to God, so that in defending their faith in the Lord Jesus is very difficult. Because of the lack of spiritual guidance as a foundation in their lives to fortify every temptation or offer of the world that makes their faith lost. Parents and the church are very important in the growth of their faith. If young people have a good spirituality, have a close relationship with God, then he also must have firm faith and can maintain his faith in the Lord Jesus.
Pentingnya Guru Bimbingan Konseling (BK) Kristen Dalam Pelayanan Pastoral Konseling Yenny Anita Pattinama
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 4 No. 2 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.746 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v4i2.42

Abstract

Sekolah Kristen memiliki visi dan misi yang berbeda dengan sekolah lainnya. Karena sekolah Kristen akan memperhatikan keadaan rohani siswanya. Sekolah akan mencari metode untuk meningkatkan kerohanian siswanya. Tentunya siswa yang memiliki persoalan, pembuat masalah disekolah, dan karakter yang tidak baik akan mendapatkan bimbingan khusus dari guru bimbingan konseling. Siswa berasal dari latar belakang yang berbeda-beda dan dari latar belakang yang berbeda membentuk karakter siswa yang berbeda. Lingkungan yang baik dapat membentuk karakter siswa yang baik. Sebaliknya, lingkungan yang buruk dapat membetuk karakter siswa yang buruk. Karakter yang buruk berdampak pada perilaku siswa yang dapat merugikan orang lain atau diri sendiri. Siswa menjadi pembuat masalah di sekolah atau di lingkungannya. Oleh karena itu siswa membutuhkan guru bimbingan konseling dalam mengubah karakternya. Christian schools have a vision and mission that is different from other schools. Because Christian schools will pay attention to the spiritual condition of their students. Schools will look for methods to improve the spirituality of their students. Of course students who have problems, problem makers at school, and bad characters will get special guidance from counseling guidance teachers. Students come from different backgrounds and from different backgrounds form different student characters. A good environment can shape the character of good students. Conversely, a bad environment can form bad student character. Bad character affects the behavior of students who can harm others or themselves. Students become problem makers at school or in their environment. Therefore students need guidance counseling teachers in changing their character.
Pastoral Konseling Menurut Yehezkiel 34:16 Sebagai Upaya pemulihan Mental Yenny Anita Pattinama
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 6 No. 2 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.61 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v6i2.53

Abstract

Pada hakikatnya, setiap manusia dalam kehidupannya dimanapun ia berada pasti memiliki masalah dan pergumulan. Pastoral konseling mengajarkan mereka untuk mampu berdamai dengan Allah, diri sendiri, dan juga orang lain. Dengan melakukan pelayanan pastoral konseling juga dapat menyadarkan mahasiswa-mahasiswi yang bermasalah akan pelanggaran yang dilakukan, kemudian mengakui setiap perbuatannya yang salah dihadapan Tuhan, dan dapat menerima pengampunan dan memulai suatu kehidupan yang baru. Dengan demikian seorang konselor dapat menolong setiap konseli untuk mengalami pemulihan mental dan memahami tindakannya salah yang pernah diperbuatnya serta melakukan langkah-langkah untuk menata kehidupannya menjadi lebih baik. In essence, every human being in his life wherever he is must have problems and struggles. Pastoral counseling teaches them to be able to make peace with God, themselves, and also others. Conducting pastoral counseling services can also awaken students who have problems with violations committed, then acknowledge any wrongdoing before God, and can receive forgiveness and start a new life. Thus a counselor can help each counselee to experience mental recovery and understand the wrong actions he had ever done and take steps to organize his life for the better.
Konsep Kesatuan Yesus dan Allah Bapa Dalam Injil Yohanes 17:22 Untuk Menghadapi Doktrin Subordinansi Tritunggal Saksi Yehuwa Yanjumseby Yeverson Manafe; Yenny Anita Pattinama
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 7 No. 1 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.109 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v7i1.57

Abstract

Doktrin Trinitas atau doktrin Allah Tritunggal adalah pengajaran tentang Allah yang menyatakan diri-Nya dalam tiga pribadi, yaitu Allah Bapa, Allah Anak (Yesus Kristus), dan Allah Roh Kudus yang ketiganya adalah esa. Di satu sisi, doktrin tersebut merupakan doktrin yang sangat penting dan unik dalam kekristenan. Dikatakan penting karena doktrin ini berbicara tentang Allah Tritunggal yang menjadi pusat pujian, penyembahan dan pelayanan orang percaya. Dikatakan unik karena doktrin tersebut tidak terdapat dalam agama manapun di dunia ini. Namun, di sisi lain, doktrin tersebut merupakan doktrin yang sulit dipahami dan diterima oleh akal manusia bahkan menjadi bahan perdebatan yang hebat di berbagai tempat, masa dan kalangan manusia. Dengan studi eksegetis Yohanes 17: 22 sebagai dasar evaluasi kritis terhadap doktrin subordinasi Tritunggal dalam theologia Saksi Yehuwa, maka dapat diketahui bahwa doktrin subordinasi Tritunggal dalam theologia Saksi Yehuwa adalah doktrin yang menyimpang dari kebenaran Alkitab. The doctrine of the Trinity or the doctrine of the Triune God is the teaching of God revealing Himself in three persons, namely God the Father, God the Son (Jesus Christ), and God the Holy Spirit of which all three are one. On the one hand, the doctrine is a doctrine that is very important and unique in Christianity. It is said to be important because this doctrine speaks of the triune God who is the center of the worship, worship and service of believers. Said to be unique because the doctrine does not exist in any religion in this world. However, on the other hand, the doctrine is a doctrine that is difficult to understand and accepted by human reason and even becomes a matter of great debate in various places, times and circles of humans. With the exegetical study of John 17: 22 as the basis for a critical evaluation of the doctrine of the subordination of the Trinity in the theology of Jehovah's Witnesses, it can be seen that the doctrine of the subordination of the Trinity in the theology of Jehovah's Witnesses is a doctrine that deviates from Bible truth.
Peranan Sekolah Minggu Dalam Pertumbuhan Gereja Yenny Anita Pattinama
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 8 No. 2 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.054 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v8i2.68

Abstract

ABSTRAK Pelayanan Sekolah Minggu merupakan salah satu faktor yang cukup potensif dalam proses pertumbuhan Gereja. Lebih jauh lagi Sekolah Minggu merupakan wadah yang di pakai untuk mengajar anak-anak sesuai dengan pertumbuhan usia mereka. Pelayanan Sekolah Minggu membawa pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan Gereja, karena anak-anak Sekolah Minggu akan menjadi generasi penerus Gereja yang melanjutkan tugas dan tanggung jawab Gereja sebagai saksi Kristus di tengah-tengah dunia yang penuh dengan tantangan ini. Tantangan yang akan di hadapi oleh Gereja pada masa yang akan datang semakin banyak di karenakan perubahan zaman dunia modern yang sudah tidak lagi mementingkan ajaran agama. ABSTRACT Sunday School service is one of the factors that is quite potential in the process of Church growth. Furthermore, Sunday School is a place that is used to teach children according to their age growth. Sunday School services have a positive influence on the growth of the Church, because Sunday School children will become the next generation of the Church who continue the Church's duties and responsibilities as witnesses of Christ in the midst of this challenging world. The challenges that will be faced by the Church in the future will be more and more due to the changes in the modern world era that are no longer concerned with religious teachings.