Kristina Herawati
STT Ebenhaezer Tanjung Enim

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pentingnya Pendidikan Agama Kristen (PAK) Bagi Etiket Pergaulan Anak Kristina Herawati
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 2 No. 2 (2016): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.794 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v2i2.20

Abstract

Orang tua adalah wakil Allah di bumi untuk memelihara, mendidik, membina dan mengarahkan anak dengan baik sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Hal itu diperintahkan Allah karena anak adalah berkat yang diberikan-Nya dalam persekutuan pernikahan. Oleh sebab itu, tugas dan tanggung jawab tersebut harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh, supaya anak dapat mengenal dan mempercayai Allah sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Selain orang tua di rumah, hamba Tuhan di gereja juga memiliki tugas yang sama yaitu untuk memperkenalkan Tuhan Yesus secara pribadi kepada anak dan mempersiapkan anak untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang ke dua kali serta memberikan keyakinan kepada anak bahwa mereka adalah ”pewaris negeri” yang sudah ditentukan Allah. Dengan demikian penting sekali PAK diberikan bagi anak, agar anak-anak Kristen agar memiliki karakter yang baik sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Parents are God's representatives on earth to nurture, educate, nurture and direct their children according to the truth of God's word. It was commanded by God because children are a blessing that He gives in marriage fellowship. Therefore, these tasks and responsibilities must be done in earnest, so that children can know and trust God as their Lord and Savior. Besides parents at home, the servants of God in the church also have the same task, namely to introduce the Lord Jesus personally to children and prepare children to welcome the second coming of the Lord Jesus and give confidence to children that they are "heirs of the land" determined by Allah.
Pastoral Konseling Kristen Dalam Memurnikan Konsep Orang Tua Yang Menikahkan Anak Laki-Laki Di Bawah Umur 17 Tahun Kristina Herawati
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 4 No. 2 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.111 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v4i2.39

Abstract

Pernikahan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan adalah sah apabila dilakukan atas dasar agama, adat istiadat dan undang-undang, oleh karena itu pernikahan merupakan ikatan yang dilandasi pada moral etika dan agama, kedewasaan calon suami- istri harus telah ”masak jiwa raganya”. Oleh karena itu, agar dapat mewujudkan tujuan pernikahan yang baik serta tercapainya kehidupan keluarga yang harmonis, maka dibutuhkan kematangan baik jasmani maupun spiritual bagi pasangan yang ingin melakukan pernikahan. Tetapi dalam kenyataannya, masih ada terjadi pernikahan di bawah usia. Di mana hal tersebut sangatlah beresiko bagi pernikahan yang akan dijalani. Menyikapi fenomena tersebut, maka para pelayan atau hamba Tuhan memiliki komitmen untuk menolong, mengarahkan, membimbing, menopang dan menuntun supaya orang tua memahami dasar pernikahan Kristen yang Alkitabiah. Marriage is a spiritual bond between a man and a woman as husband and wife with the aim of forming a happy and eternal family (household) based on the divinity of the Almighty. Marriage is legal if it is done on the basis of religion, customs and laws, therefore marriage is a bond based on moral ethics and religion, the maturity of a prospective husband and wife must have "cooked their body and soul". Therefore, in order to realize the goal of a good marriage and the achievement of a harmonious family life, it takes both physical and spiritual maturity for couples who want to get married. But in reality, there is still underage marriage. Where it is very risky for the marriage that will be lived. Responding to this phenomenon, the servants or servants of God have a commitment to help, direct, guide, support and guide so that parents understand the basic Christian biblical marriage.
Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Kristen Terhadap Kecerdasan Emosi Anak Kristina Herawati
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 6 No. 2 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.898 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v6i2.51

Abstract

Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan, pendidikan yang paling efektif terjadi adalah pendidikan di dalam keluarga. Oleh karena keluarga adalah tempat di mana orang tua dan anak lebih banyak menghabiskan waktu, dibanding sekolah atau gereja. Keluarga adalah satu lembaga pertama yang tercatat dalam Alkitab. Keluarga dirancang dan ditetapkan oleh Allah, jauh sebelum umat pilihan atau bangsa terpilih eksis. Tetapi kurangnya penerapan pola asuh yang benar kepada anak pada masa pra sekolah sehingga berdampak pada pembentukan karakter dan emosi yang kurang baik. Dengan demikian, orang tua yang mengerti pola asuh yang benar dan menjalankannya, akan mempengaruhi kecerdasan emosi anak. Inilah yang akan dibahas oleh penulis dengan membahas pengaruh pola asuh orang tua Kristen terhadap kecerdasan emosi anak usia 6-12 tahun. Education is a very important thing to do, the most effective education occurs is education in the family. Because the family is a place where parents and children spend more time, than school or church. The family is the first institution recorded in the Bible. The family was designed and established by God, long before the chosen people or chosen people existed. But the lack of proper adoption of parenting to children in pre-school has an impact on the formation of character and emotions that are not good. Thus, parents who understand the right parenting and practice it, will affect children's emotional intelligence. This is what the author will discuss by discussing the influence of parenting Christian parents on emotional intelligence of children aged 6-12 years.
Tinjauan Alkitabiah Terhadap Falsafah Jawa ”Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” I Made Suharta; Kristina Herawati
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 7 No. 1 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.942 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v7i1.61

Abstract