I Made Suharta
STT Ebenhaezer Tanjung Enim

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pastoral Konseling Terhadap Anak Usia 5-12 Tahun Yang Mengalami Krisis Kasih Sayang I Made Suharta
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 4 No. 2 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.911 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v4i2.41

Abstract

Anak-anak di dunia ini sangat membutuhkan bimbingan dari orang tua yang dilakukan dengan adanya rasa kasih sayang dari keluarga terutama bimbingan dari orang tua. Dengan bimbingan dan kasih sayang yang sepatutnya, seorang anak akan bertumbuh menjadi suatu kesukaan bagi orang tua, berkat bagi dunia, dan terang bercahaya bagi Allah. Pengaruh keluarga atau pun juga guru yang mengajar mereka di sekolah bagi perkembangan anak sangatlah besar. Karena guru juga merupakan tempat utama bagi pembentukan karakter, watak, dan kepribadian anak di sekolah. Dengan bantuan dan dorongan dari keluarga, teman-teman, dan anggota-anggota keluarga besar, anak-anak seharusnya merasakan masa kanak-kanak sebagai suatu masa untuk menemukan pribadi seperti yang telah dikehendaki oleh Tuhan. Namun keadaan dunia ini tidaklah selalu sesuai dengan yang diharapkan. Dunia saat ini memberikan kepada anak-anak kemudahan-kemudahan untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang diajarkan dalam keluarga begitu juga dengan lingkungan sangat mempengaruhi pembentukan pola-pola kepribadian maupun pola-pola sikapnya. Ketika orang tua tidak memberikan kasih sayang kepada anak sejak kecil yang seharusnya diterima oleh anak dan ketika orang tua gagal memberikan kasih sayang kepada anak, maka anak tidak dapat bertumbuh dengan baik dan di sekolah pun anak tidak aktif dalam mengikuti pengajaran. Hal yang lainnya ialah, mereka bertumbuh menjadi anak-anak yang pemalu dan takut untuk tampil didepan umum, juga kurang percaya diri, menganggap diri kurang mampu, tidak hanya di sekolah namun di lingkungan juga. Peristiwa lainnya ialah ketika orang tua tidak terlalu mementingkan pertumbuhan anak, maka akan membuat anak sulit mengikuti pengajaran yang baik di sekolah. Kasus-kasus di atas, adalah akibat kurangnya pastoral konseling terhadap anak pada usia 5-12 tahun sehingga berdampak pembentukan karakter dan emosi yang kurang baik. Oleh sebab itu guru diharapkan mampu untuk mengerti pastoral konseling dengan benar dan menjalankannya didalam pengajaran tiap-tiap hari yang dilakukan seorang guru di sekolah, karena pastoral konseling terhadap anak yang benar akan mempengaruhi kecerdasan anak dan anak dapat merasakan kasih sayang atau perhatian yang seharusnya mereka dapatkan dari orang tua. Children in this world really need guidance from parents which is done with the love of family, especially guidance from parents. With proper guidance and affection, a child will grow into a joy for parents, a blessing to the world, and a bright light for God. The influence of the family or also the teacher who teaches them at school for children's development is very large. Because the teacher is also the main place for the formation of character, character, and personality of children in school. With the help and encouragement from family, friends, and members of extended families, children should feel childhood as a time to find the person who is desired by God. But the state of this world is not always as expected. Today's world gives children the ease of doing things that are not in accordance with what is taught in the family as well as the environment greatly influencing the formation of personality patterns and patterns of attitude. When parents do not give love to children since childhood which should be accepted by children and when parents fail to give love to children, then the child cannot grow properly and even in school the child is not active in following teaching. The other thing is, they grow up to be shy children who are afraid to appear in public, also lack of confidence, consider themselves less capable, not only in school but also in the environment. Other events are when parents are not too concerned with the child's growth, it will make it difficult for children to follow good teaching in school. The cases above, are due to the lack of pastoral counseling of children at the age of 5-12 years, which results in the formation of character and emotions that are not good. Therefore teachers are expected to be able to understand pastoral counseling correctly and carry it out in teaching every day that is done by a teacher at school, because pastoral counseling to the right child will affect the intelligence of children and children can feel the love or attention they should get from parents.
Pentingnya Integritas Pelayan Kristus Menurut Titus 1: 6-9 Dalam Upaya Peningkatan Pelayanan Gerejawi I Made Suharta
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 5 No. 1 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.755 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v5i1.47

Abstract

Kehidupan yang berintegritas adalah kehidupan yang menjadikan Kristus sebagai pusat segala sesuatu, pikiran yang difokuskan untuk melakukan apa yang Tuhan pikirkan dan suatu tindakan yang mengarah kepada suatu perubahan yang positif. Kehidupan yang berintegritas berbicara tentang keutuhan, kejujuran, kesatuan, antara apa yang diucapkan dan dilakukan oleh seseorang dengan tanggung jawab, kehidupan yang dikehendaki oleh Allah untuk setiap individu Kristen. Secara khusus jika orang tersebut adalah seorang Pelayan Kristus haruslah mempunyai integritas di dalam dirinya sendiri karena integritas menjadi kunci bagi seorang pemimpin. Kehidupan yang demikian dapat dibangun dengan hati yang penuh dengan belaskasihan dan tulus, pikiran yang tertuju kepada perkara-perkara yang Tuhan kehendaki, dan sesuai dengan perbuatan atau tindakan yang dimulai dari dalam diri sendiri. Oleh karena itu, integritas menjadi sesuatu yang sangat penting, manakala diperhadapkan pada situasi zaman yang semakin buruk. Lebih-lebih jika soal integritas ini dihubungkan dengan persoalan kepercayaan dan dukungan yang berkaitan dengan pelayanan gerejawi. A life of integrity is a life that makes Christ the center of all things, a mind focused on doing what God thinks and an action that leads to a positive change. A life of integrity speaks of wholeness, honesty, unity, between what someone says and does with responsibility, the life God wants for every Christian individual. Specifically if the person is a Servant of Christ must have integrity in himself because integrity is the key to a leader. Such a life can be built with a heart full of mercy and sincerity, a mind directed to the things that God wants, and in accordance with actions or actions that start from within oneself. Therefore, integrity becomes something very important, when faced with a situation that is getting worse. The more so if the issue of integrity is linked to issues of trust and support related to ecclesiastical services.
Tinjauan Alkitabiah Terhadap Falsafah Jawa ”Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” I Made Suharta; Kristina Herawati
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 7 No. 1 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.942 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v7i1.61

Abstract