Sri Wahyuni Kusradi
STT Ebenhaezer Tanjung Enim

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

LEBIH BAIK HIKMAT DARI PADA KEPERKASAAN (Suatu Study Eksegetis Pengkhotbah 9: 13-18 Dan Relevansinya Bagi Para Pemimpin Kristen) Sri Wahyuni Kusradi
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 1 No. 1 (2016): Scripta : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.85 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v1i1.29

Abstract

Banyak masalah dapat terjadi dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam sebuah organisasi. Tantangan tersebut sering dihadapi oleh seorang pemimpin dalam upayanya mencapai suatu tujuan. Maka peranan seorang pemimpin sangat besar dalam menangani masala-masalah tersebut agar tujuan yang baik dapat tercapai. Untuk itu seorang pemimpin telah diperlengkapi dengan berbagai hikmat yang diperlukannya untuk melaksanakan tugas tersebut. Hikmat tersebut adalah segala kemampuan, talenta, ketrampilan untuk mencapai tujuan yang baik dalam segala bidang yang memungkinkannya untuk melaksanakan tugas sebagai seorang pemimpin. Tetapi kegagalan dalam pencapaian tujuan seringkali bukan karena kekurangan potensi-potensi berupa kemampuan, kekuatan maupun kekuasaan seorang pemimpin, melainkan hikmat yang tidak dipergunakan atau bahkan salah dalam mempergunakan hikmat tersebut. Maka seorang pemimpin perlu memahami dengan benar apa itu hikmat, tujuan dari hikmat dan bagaimana hikmat itu dilakukan. Dengan demikian seorang pemimpin akan memperoleh keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan tujuan-tujuan baik yang dirancangkannya. Pengkhotbah 9: 13-18 memberi sebuah pelajaran penting bagi seorang pemimpin yang bertanggung jawab untuk membawa masyarakat yang dipimpinnya pada sebuah keberhasilan. Maka hal-hal yang dapat dipelajari dalam teks ini bagi seorang pemimpin Kristen adalah sebagai berikut: Pergumulan dan tantangan dapat terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga. Karena itu Allah sebagai sumber hikmat memberikannya kepada manusia. Maka hikmat itu terejawantahkan dalam kemampuan-kemampuan berupa ketrampilan tangan, menyusun strategi dan berdiplomasi, dalam ketajaman berpikir, dalam mengumpulkan harta benda, maupun hikmat dalam berkata-kata. Tetapi pemahaman yang salah sering terjadi ketika manusia terjebak pada pengakuan bahwa hikmat itu berasal dari diri sendiri dan untuk pemuliaan diri sendiri, hak ini akan mendatangkan kesia-siaan semata-mata. Karena sesungguhnya hikmat diberikan oleh Allah untuk menghasilkan hal-hal yang baik. Berbanding terbalik dengan pandangan umum, hikmat itu ironis, karena hikmat dapat diberikan oleh Allah kepada orang miskin yang tidak terpandang, hikmat tidaklah menuntut apresiasi karena hikmat yang sesungguhnya haruslah dilakukan dalam ketulusan bukan demi pujian bagi diri sendiri. Hikmat yang benar akan menjadi efektif saat hikmat didengarkan dengan tenang dengan pikiran yang terbuka untuk memahami hal baru atau masukan dari pihak-pihak lain. Akan efektif jika tidak digunakan secara arogan, saat menghargai hikmat lebih dari pada kekuatan-kekuatan yang dimiliki karena kekuatan tanpa hikmat justru akan merusak, dan mewaspadi hal-hal kecil karena justru kesalahan kecil dapat merusak atau meruntuhkan banyak hal yang baik. Many problems can occur in social life or in an organization. These challenges are often faced by a leader in his efforts to achieve a goal. So the role of a leader is very large in dealing with these problems so that good goals can be achieved. For this reason, a leader has been equipped with various wisdom needed to carry out the task. Wisdom is all abilities, talents, skills to achieve good goals in all fields that enable it to carry out its duties as a leader.But failure in achieving goals is often not due to a lack of potential in the form of the ability, strength or power of a leader, but wisdom that is not used or even wrong in using that wisdom. So a leader needs to understand correctly what wisdom is, the purpose of wisdom and how wisdom is done. Thus a leader will get success in carrying out the tasks and good goals that he designed. Ecclesiastes 9: 13-18 provides an important lesson for a leader who is responsible for bringing the community he leads to success. So the things that can be learned in this text for a Christian leader are as follows: Struggles and challenges can occur suddenly and unexpectedly. Therefore God as a source of wisdom gives it to humans. Then wisdom is manifested in abilities in the form of hand skills, formulating strategies and diplomacy, in sharp thinking, in collecting property, as well as wisdom in words. But misconceptions often occur when humans are trapped in the recognition that wisdom comes from oneself and for self-glorification, this right will be brought to nothing. For truly wisdom is given by God to produce good things. Inversely with public opinion, wisdom is ironic, because wisdom can be given by God to the poor who are not respected, wisdom does not require appreciation because real wisdom must be done in sincerity not for self-praise. True wisdom will be effective when wisdom is listened calmly with an open mind to understand new things or input from other parties. It will be effective if it is not used arrogantly, when valuing wisdom more than the strengths it possesses because the power without wisdom will actually damage, and be aware of small things because even small mistakes can damage or undermine many good things.
Konsep Melunakkan Hati Tuhan 2 Tawarikh 33: 10-13 Sri Wahyuni Kusradi
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 3 No. 1 (2017): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.882 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v3i1.31

Abstract

Kitab Tawarikh mengisahkan tentang perjalanan sejarah Israel beserta dengan para raja yang memerintah bangsa itu. Jatuh bangunnya seorang raja akan juga mempengaruhi kehidupan dan keberuntungan umat dalam perjalanan sejarah mereka. Salah seorang raja yang besar namun jahat digambarkan dengan jelas dalam kitab ini, dan bagaimana akhirnya dia bertobat dan menyesali keberdosaannya di hadapan Allah sehingga dia dapat “melunakkan hati Tuhan. Melunakkan hati Tuhan adalah istilah yang dipergunakan dalam 2Tawarikh 33:12-13 yang menunjukkan tindakan seseorang untuk berdoa memohon kepada TUHAN Allah. Walaupun sering disalahpahami, apakah Allah bisa digoyahkan keputusannya? Maka tulisan ini akan membahas bahwa hal tersebut adalah didasarkan pada kemurahan hati Allah yang didasarkan karena keputuan Allah sendiri, berdasarkan kasih setia Allah pada perjanjian-Nya kepada umat dan kesetiaan-Nya terhadap hukum-hukum-Nya yang menuntut perendahan hati, pengakuan dan penyerahan diri umat kepada Allah mereka. Hal-hal apa yang dibahas dalam frasa “melunakkan hati Tuhan” memberi gambaran bagaimana umat sekarang harus bersikap. The Chronicles tells about the history of Israel along with the kings who ruled the nation. The rise and fall of a king will also affect the lives and fortune of the people in the course of their history. One of the great but evil kings is clearly illustrated in this book, and how he finally repented and regretted his sinfulness before God so that he could "soften the heart of God. Softening the heart of God is a term used in 2 Chronicles 33: 12-13 which shows a person's actions to pray for the Lord God. Although often misunderstood, can God shake his decision? So this paper will discuss that it is based on God's generosity based on God's own decision, based on God's loyal love for His covenant to the people and His loyalty to His laws which demand humility, recognition and surrender people to their God. What matters discussed in the phrase "softening the heart of God" illustrates how people must now behave.
Makna Ungkapan “Petiklah Kecapi Baik-Baik” Dalam Mazmur 33: 3 Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Musik Sri Wahyuni Kusradi
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 5 No. 1 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1057.227 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v5i1.43

Abstract

Pelayanan musik adalah sangat penting dalam ibadah. Karena itu Kitab Mazmur juga menyatakan hal-hal mengenai pelayanan tersebut. “petiklah kecapi baik-baik” memberikan pengertian bahwa pelayanan musik bukanlah semata-mata menyangkut kemampuan memainkan alat musik saja. Tetapi lebih jauh dari hal itu adalah menyangkut kedalaman batin pemusik dalam penyembahannya kepada Tuhan yang menyangkut keseluruhan kehidupan sang pelayan tersebut. Ia adalah orang yang benar di dalam Tuhan: ia adalah seorang yang memiliki hati yang telah dibaharui oleh Tuhan, dia adalah seorang yang dosanya telah diampuni, telah diselesaikan di hadapan Tuhan. Dia adalah seorang yang jujur artinya dia adalah seorang yang berintegritas dan tidakada kemunafikan. Seorang pelayan musik yang benar adalah yang memiliki sikap yang benar yang jiwanya penuh sukacita dalam memuji Tuhan, yang hatinya penuh dengan pujian kepada Allah. Dia juga dapat memainkan alat-alat musik dengan benar: ia memahami musik dengan benar dan memahami bagaimana bermusik yang dikenan Tuhan. Seorang pelayan musik juga memiliki kesungguhan hati dan perlu mempersiapkan dengan matang melalui latihan-latihan sebelum memulai pelayanannya. Seorang pelayan musik juga adalah seorang yang tiap waktu mengharapkan kasih setia Tuhan, sehingga ia tidak mengandalkan dirinya sendiri, yang hatinya penuh pengagungan dan kekaguman kepada Tuhan. Ia hendaknya mengetahui alasan kenapa ia bermain musik dan melayani musik dengan baik-baik. Ia mengerti alasannya yaitu karena Firman Tuhan telah menjadikan segala sesuatu, bahwa Tuhan yang ia layani adalah yang memiliki rancangan ygng menentukan sejaah umat-Nya, yang perhatian-Nya kepada manusia seluruhnya, dan Ia adalah Tuhan yang menyelamatkan orang yang takut akan Dia. Pemahaman akan hal-hal tersebut akan sangat berpengaruh pada seluruh ibadah dan kemajuan penyembahan umat kepada Allah dan kehidupan umat yang mempermuliakan Allah, Sang Juruselamat. Music ministry is very important in worship. Therefore the Psalms also state matters regarding the ministry. "Pick the harp well" gives the sense that the service of music is not solely concerned with the ability to play an instrument. But further than that it concerns the inner depth of the musician in his worship of God concerning the whole life of the servant. He is a righteous person in God: he is a person who has a heart that has been renewed by God, he is a person whose sins have been forgiven, resolved before God. He is an honest person meaning he is a person of integrity and no hypocrisy. A true music steward is one who has the right attitude whose soul is full of joy in praising God, whose heart is full of praise to God. He can also play musical instruments correctly: he understands music correctly and understands how music is pleasing to God. A music steward also has sincerity and needs to prepare carefully through exercises before starting his ministry. A music steward is also someone who is always expecting God's love, so he does not rely on himself, whose heart is full of admiration and admiration for God. He should know the reasons why he plays music and serves music well. He understands the reason that is because the Word of God has made everything, that the Lord he serves is the one who has a design that determines the history of His people, whose attention is to the whole human being, and He is the God who saves those who fear Him. Understanding these things will greatly affect the entire worship and progress of the worship of the people to God and the lives of people who glorify God, the Savior.
Pengenalan Akan Nama Allah Sebagai Peneguhan Iman Dalam Masa Kesesakan Sri Wahyuni Kusradi
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 6 No. 2 (2018): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.965 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v6i2.54

Abstract

Tak pelak lagi pada masa-masa ini banyak kesesakan yang dialami oleh orang Kristen. Terbatasnya pengenalan akan nama Allah yang berkuasa merupakan salah satu penyebab orang Kristen jadi undur imannya kepada Tuhan. Sebagaimana Allah telah mendampingi Israel dalam masa kesesakan yang sangat di Mesir dan menyatakan Nama Diri Allah sebagai Allah yang Maha Kuasa, maka Allah yang sama yang menyatakan nama-Nya kepada Musa juga akan menguatkan umat-Nya pada masa kini. Allah menyatakan nama-Nya kepada Musa sebagai agen yang diutus Allah untuk meneguhkan umat-Nya, menyatakan bahwa Israel adalah umat kepuinyaan-Nya sendiri. Nama YHWH menyatakan bahwa Diri-Nya ada dan berkuasa untuk membebaskan umat-Nya. YHWH adalah Allah yang telah menyertai nenek moyang mereka dan setia kepada perjanjian-Nya. Dan karena itu YHWH menuntut respos umat untuk mengingat nama itu selama-lamanya dan menyebut nama-Nya secara turun-temurun. Melalui pengenalan akan nama Allah yaitu Yahweh yang selalu Ada dan berkuasa itu maka umat Kristen masa kini bahkan akan menjadi lebih tahan dalam masa kesesakan karena Allah selalu ada dalam hidup umat sampai maranatha. Inevitably during these times many tribulations are experienced by Christians. Limited knowledge of the name of God who is in power is one of the reasons why Christians are withdrawing from their faith in God. Just as God had accompanied Israel in a time of great distress in Egypt and revealed God's Name as Almighty God, then the same God who revealed His name to Moses would also strengthen His people today. God revealed His name to Moses as an agent sent by God to strengthen His people, stating that Israel was His own people. The name YHWH states that He exists and has the power to deliver His people. YHWH is a God who has accompanied their ancestors and is faithful to His covenants. And because of that YHWH demands the respect of the people to remember that name forever and chant His name for generations. Through the knowledge of God's name, Yahweh, who is always there and in power, Christians today will even be more resilient in times of distress because God is always in the lives of people until maranatha.
Tinjauan Etis Terhadap Gereja-gereja Yang Menetapkan Jemaat Memberi Iuran Kepada Marlon Butarbutar; Sri Wahyuni Kusradi
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 7 No. 1 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.469 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v7i1.58

Abstract

Gereja hadir dalam dunia ini sebenarnya adalah untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Oleh sebab itu, maka gereja mempunyai tugas untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid Tuhan Yesus (Mat. 28: 18-20). Dimana yang dipakai Tuhan sebagai alat dalam melakukan dan melaksanakan akan kehendak-Nya adalah melalui gereja. Baik gereja sebagai tubuh Kristus yang di dalam Perjanjian Baru adalah umat, orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan untuk keluar dari kegelapan dan masuk dalam terang-Nya untuk menjadi saksi Kristus maupun gereja dalam bentuk fisik, maksudnya adalah gereja sebagai gedung atau tempat yang dipakai orang-orang percaya untuk bersekutu dalam memuji dan memuliakan Tuhan. Melihat hal tersebut maka, titik utama gereja ada dan hadir adalah hanya untuk kemuliaan Tuhan. Salah satu ketentuan kewajiban jemaat yang ada dalam gereja adalah ”setiap jemaat, harus membayar persembahan bulanan setiap bulan kepada gereja”. Apabila tidak dilunasi, konsekuensinya adalah apabila ada kejadian dalam jemaat tersebut, seperti: baptisan, pemberkatan nikah. Itu semuanya tidak akan terlaksana, sebelum kewajiban tersebut terlunasi. Jadi, ketentuan ini bukan hanya mengikat jemaat untuk datang bersekutu atau beribadah dan membuat jemaat terikat pada gereja tersebut dan tidak mudah untuk pindah gereja, melainkan dalam tindakannya sudah ada sikap memaksa jemaat untuk membayar kewajiban kepada gereja. Berdasarkan hal di atas terlihat jelas bahwa jemaat memberi kepada gereja bukan dengan ketulusan dan sukacita. Tetapi memberi dengan keterpaksaan dan adanya sanksi atau konsekuensi bagi jemaat yang tidak memberikan persembahan bulanan terhadap gereja. Ini sangat mendorong penulis untuk meneliti sehingga menjadi suatu pertimbangan bagi gereja yang memberi kewajiban jemaat membayar iuran kepada gereja. The church present in this world is actually to praise and glorify God. Therefore, the church has a duty to make all nations disciples of the Lord Jesus (Matt. 28: 18-20). Where God uses as a tool in doing and carrying out His will is through the church. Both the church as the body of Christ in the New Testament are people, people who are called by God to come out of the darkness and enter into His light to be witnesses of Christ and the church in physical form, meaning the church as a building or place used by people believers to fellowship in praising and glorifying God. Seeing this, the main point of the church being and present is only for the glory of God. One of the provisions of the congregation's obligations in the church is "every church, must pay monthly offerings every month to the church". If not paid, the consequence is if there is an incident in the church, such as: baptism, marriage blessing. That all will not be realized, before the obligation is paid. So, this provision does not only bind the congregation to come to fellowship or worship and make the congregation bound to the church and it is not easy to move the church, but in its action there is already an attitude of forcing the congregation to pay obligations to the church. Based on the above it is clear that the congregation gave to the church not with sincerity and joy. But giving with force and the existence of sanctions or consequences for congregations who do not provide monthly offerings to the church. This strongly encourages the writer to examine so that it becomes a consideration for the church which gives the congregation an obligation to pay contributions to the church.
Kasih Setia Tuhan Dalam Perjanjian Lama Dan Relevansinya Bagi Orang Percaya Pada Masa Covid-19 Sri Wahyuni Kusradi
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 9 No. 1 (2020): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47154/scripta.v9i1.112

Abstract

ABSTRAK _______________________________________________________________ Pada masa pandemic Covid-19 ini banyak orang menjadi kuatir akan masalah penghidupannya, masa depan keluarga, masyarakat, ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan yang berubah mengikuti dampak covid-19 ini. Hal tersebut juga dihadapi oleh orang Kristen, mereka dapat saja mempertanyakan di mana Tuhan pada masa pandemic ini. Tetapi ada satu pegangan yang teguh yang dapat menjadi penghiburan dan kekuatan bagi orang percaya, yaitu Kasih setia Allah yang akan memberikan jaminan kehidupan orang percaya pada masa pandemic ini. Di mana dalam Perjanjian Lama kasih setia Tuhan telah dinyatakan kepada bangsa Israel dari sejak jaman Adam telah diikatkan dari keturunan ke keturunan yang diikat melalui sebuah perjanjian yang tidak setara antara Allah dengan umat pilihan, didasarkan pada kemurahan hati Allah yang masih berlaku hingga sampai kini. Untuk itu penulis akan menggunakan metode Untuk memaparkan tujuan penulisan ini maka penulis menggunakan metode deskriptif teologis yang akan mencermati teks-teks Alkitab mengenai kasih setia, memperhatikannya berdasarkan konteks sejarah untuk menemukan bagaimana prinsip-prinsip kasih setia Tuhan itu dinyatakan kepada generasi ke generasi Israel. Dari penelitian itu akan diperoleh makna teologis tentang penyataan-penyataan kasih setia Tuhan di sepanjang sejarah Israel dalam Perjanjian Lama. Dalam penemuan makna-makna theologis maka topic ini dapat dikorelasikan dengan keadaan pada masa pandemic sekarang ini. Bagaimana bentuk penyataan kasih setia Tuhan dan bagaimana orang percaya pada masa kini harus menyikapinya. Saat orang percaya memahami dan terus memegang perjanjian kasih setia Tuhan maka iman kepada Allah akan terus semakin teguh sekalipun di saat penderitaan pada masa covid-19 ini melanda. Kata Kunci: Kasih Setia Tuhan, Perjanjian Lama, Covid-19 ABSTRACT _______________________________________________________________ The second abstract is written in English. During the Covid-19 pandemic, many people became worried about their livelihood problems, the future of their families and how to manage their lives. This happens because the economic crisis is threatening, family incomes are declining or unstable, health is not guaranteed, the ease with which social problems occur makes life uneasy. The same thing can be faced by Christians. If they do not have a strong faith, Christians will also experience shocks of faith. But there is one firm hold that can be a comfort and strength to believers, which is God's character. God's loyal love will provide assurance for the life of believers in this pandemic. Where in the Old Testament the love of God has been shown to the Israelites from the time of Adam has been tied from generation to generation. God's loyal love bound through an unequal covenant between God and the elect, which is based on God's generosity. God's lovingkindness that was expressed in various forms during the Old Testament times and also which is still in effect today. For this reason, the author will use the method. To explain the purpose of this writing, the author uses a theological descriptive method that will examine the biblical texts regarding of The Kindness og God as stated in the Old Testament, paying attention to it based on the historical context to find how the principles of The Kindness of God are expressed. in various forms from generation to generation of Israelis. From this research, theological meaning will be obtained about the revelations of The kindness of God throughout the history of Israel in the Old Testament. In the discovery of theological meanings, this topic can be correlated with the situation in the current pandemic. What is the present form of expression of The kindness of God and how today's believers should react to it. When believers today understand and continue to hold onto God's covenant of loyal love, faith in God will continue to be stronger even when suffering during the Covid-19 era hits. Keywords: Kindness of God, Old Testament, Covid-19