Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Jenis Serat Alam Terhadap Koefisien Absorpsi Bunyi Sebagai Peredam Kebisingan Putri Mutia; Ngatijo Ngatijo; Helga Dwi Fahyuan
Jurnal Ilmu Fisika dan Pembelajarannya (JIFP) Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Fisika dan Pembelajarannya (JIFP)
Publisher : Program Studi Pendidikan Fisika, UIN Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.456 KB) | DOI: 10.19109/jifp.v3i1.3175

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh jenis serat alam yang berbeda yaitu serat ampas tebu, serat sabut kelapa dan serat buah bintaro terhadap koefisien absorpsi bunyi dengan menggunakan metode tabung impedansi. Sampel yang digunakan yaitu material akustik dengan massa serat 0,3 gr. Rentang frekuensi yang digunakan adalah 500, 1000, 2000 dan 4000 Hz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin kecil ukuran partikel serat maka semakin tinggi nilai koefisien absorbs bunyi dan semakin tinggi tingkat porositas permukaan sampel yang digunakan maka semakin tinggi nilai koefisien absorpsi bunyipada material komposit serat ampas tebu dengan massa 0,3 gr dan serat sabut buah kelapa dengan massa 0,3 gr frekuensi 500 Hz. Densitas material dengan kerapatan yang baik digunakan berkisar 0,4 gr/cm3 – 0,9 gr/cm3, penelitian ini menghasilkan nilai densitas yang tinggi =1,29 gr/cm3. Hal tersebut didukung oleh jumlah matriks yang cukup banyak yaitu 20 gr sehingga menghasilkan kerapatan yang tinggi, koefisien serapan material komposit yang memiliki permukaan berpori dan selaput sebagai jalur keluar masuknya udara sehingga meningkatkan nilai koefisien absorpsi.
Analisis Perbedaan Daluwarsa dan Pelepasan Hak dalam Hukum Waris Ditinjau dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Putri Mutia; Nuzul Rahmayani
AHKAM Vol 5 No 1 (2026): MARET
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/ahkam.v5i1.9141

Abstract

Although studies on daluwarsa have been widely conducted, research that specifically unpacks the ambiguity between daluwarsa and pelepasan hak in civil inheritance disputes remains limited, even though these are two legal institutions that are frequently conflated yet carry very different legal consequences in practice. This study aims to analyze the fundamental differences between daluwarsa (verjaring) and pelepasan hak (rechtsverwerking) in the Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) and to examine their implications for the legal standing of heirs. The research employs a normative juridical method with a prescriptive and sui generis approach. Data were collected through literature study of regulations and scholarly works, as well as analysis of Decision No. 12/Pdt.G/2022/PN Pal and Supreme Court Cassation Decision No. 4866 K/Pdt/2024. The results show that daluwarsa operates mechanistically based on the passage of time, whereas pelepasan hak requires an element of awareness and volition on the part of the heirs, such that judicial error in distinguishing between these two institutions may eliminate the heirs’ absolute rights in the name of administrative certainty. The study concludes that an in-depth analysis of the boundaries, characteristics, and consequences of each concept of daluwarsa and pelepasan hak is crucial to clarifying the legal standing of heirs in inheritance disputes under the KUHPerdata. The implications of this research contribute to legal practice by guiding practitioners in applying more humane substantive justice in inheritance cases.